Sebuah helaan nafas malam ini kuambil beberapa kali
Sebuah helaan nafas malam ini kuambil beberapa kali
You know, sometimes when you’re in blue, songs understand you better especially if the problem is your romantic relationship.
And I don’t know why broken heart songs seems so easy to create than happy songs. Really… why people suddenly become a poet when they are sad or in sorrow. Like sadness, loneliness, sorrow dig the creative nerve and voila! A poem is made. But, maybe it’s depends from the person. When I am sad, or angry, I don’t feel creative, I just want to kill people and crash him in to pieces.
Anyway….
I see you through smoky air, trying hard to control my heart. Still I refrain from talking at you. But, you know me well, I don’t need to explain. I gave all I could, but why you’re still call me your friend when you want me naked in your bed?
I am sure I am not being rude, but it’s your attitude that tearing me apart. Don’t call me at 3AM just to say ‘How you are missed me’, but then why were you holding her hand? Is that the way we stand? Were you lying all the time? Was it just a game to you?
I am such a fool for you. You’ve got me wrapped around your finger. And I’m in so deep. Don’t you know, I never wanted anyone like this, It’s all brand new. Can’t you feel the weight of my stare, you’re so close but still a world away. I need a little more
But what the hell, why do you think I come ’round like this on my free will? Wasting all my precious time.
And all left me so sore, the thing that makes me mad, is the one thing that I had,
I knew I’d lose you. You’ll always be special to me. You said I was on your mind. Will I forget in time?
—–
So, can you guess, what songs that I make for this prose? 😀
Jadi, hari ini ada kejadian lucu. Hmm mungkin lebih tepatnya ironi.
Gue ditelpon oleh telemarketer untuk penawaran asuransi.
Lo semua pasti pernah dong, malah mungkin sering, ditelpon oleh telemarketer asuransi untuk penawaran produk mereka.
Apa alasan yang biasa lo sampaikan agar mereka mengerti kalo lo ga tertarik dengan cara halus?
Kalo gue, biasanya, begini :
1. “Maaf mba, gak dulu yaa”. Buat telemarketer baru, ini udah penolakan. Mereka langsung mundur.
2. “Makasih ya mba/mas, saya sudah ada dari kantor jadi belum butuh asuransi lain.” — Ini gue keluarkan jika cara 1 ga berhasil.
3. “Errr…mas/mba, saya ada meeting. Maaf tidak bisa diganggu dulu,” — ini langsung gue keluarkan jika gue lagi ga mood dan tahu mereka dari bank (yang tidak lagi ada urusan sama gue).
4. “Begini mba/mas, saya sudah mengatur cashflow saya. Dan ini sudah balance untuk saya. Jadi untuk saat ini saya ga tertarik” — kalau agentnya mulai ngomong “Mengapa begitu? mengapa begini? Ini bisa melengkapi asuransi yang sudah dimiliki and bla bla bla” dan nyerocos soal kehebatan produk mereka.
Nah, yang pagi ini menelpon gue, sepertinya cukup lihat dalam mengatasi tolakan-tolakan calon customer. Semua cara 1-4 gue ternyata tidak bergeming buat dia. Karena merasa tersudut, akhirnya keluarlah curcol gue.
5. “Mba, saya itu udah gak punya sisa duit lagi buat asuransi lainnya. Udah pas banget uang saya. Jadi gak bisa juga mba..” — akhirnya keluar deh curhatnya. Gue pikir si mba bakal langsung respon “oohh begituu yaa bu..lain kali mungkin ya” atau semacamnya dan memutuskan hubungan telpon. Lah, tak disangka tak diduga, respon dia:
“Oh kalo begitu buat anaknya mungkin bu..” ujarnya
“Saya belum menikah” sahut gue pendek.
“Tapi pasangan sudah ada kan..” katanya mancing. Waah, ini mba telemarketer cari masalah. -___-
“Aminn.” jawab gue pendek dan supaya dia tidak memperpanjang lagi. Eh, malah jawabannya:
“Kalau gitu, saya doakan, semoga tahun depan bisa melangsungkan pernikahan dengan pasangannya, dan diberikan buah hati…lalala”
Gue udah gak dengerin sisanya karena ini sangat menggelikan sekaligus mengharukan.
Gue cuma bisa merespon “hahahaha.. ammiinn yang mbaa…” tapi dibalik suara ramah, ada cengiran paksa.
Akhirnya ditutuplah telponnya.
Tadinya gue mau ketawa karena geli dengerin si mba telemarketer, dan ya ngapain sih, dia gak tau apa-apa soal gue, tapi kemudian gue merenung dan menyadari kalau si mba telemarketer ini mendoakan gue. Entah niatnya tulus atau gak, but she did pray for me. Entah karena gue curcol apa yah, but I am happy knowing someone stranger pray for me.
Well, mba Telemarketer CIGNA, maaf karena gue gak bisa jadi customer anda, but your prayer got me, and i hope you have bless for what you’ve seed. 🙂
“Yup! Kata orang penyesalan selalu datang terlambat. Kata itu kini menjadi hantu yang menjadi mimpi burukku setiap malam. “Andai saja…” atau “Kalau saja..” menjadi dua kalimat yang sangat aku harapkan bisa menjadi kenyataan.
“Kamu itu udah egois, keras kepala pula..” begitu kamu sering berujar. Keras kepala seperti batu, dan egois, hmmm…itu mungkin adalah salah dua sifat jelek yang aku punya. Jangankan orang lain, aku sendiri pun sering capek dengan diriku yang selalu seperti itu. Tapi entah kenapa, kamu bisa tahan terhadap diriku. Kata kamu, sifat jelekku mengeluarkan efek positif dari dirimu. Hahaha.. you make me ugly so you can look better.. damn you!
But that’s why we got along each other, right honey? Kamu menjadi sosok yang membuatku bisa tersenyum bahkan ketika aku sedang sangat menyebalkan.
“Baby, i love you so much, kalau aku bersamamu, dunia terasa milik berdua, yang lain ngontrak” begitu kamu sering merayu. Aku tau dunia bukan milik berdua, pertama ada ratusan juta orang di dunia ini, kedua, karena ada sekian ratus laki yang mungkin akan berujar sama seperti kamu. But, honey, i believe you! Meski rayuan kamu klise dan standar abis,
aku selalu percaya kamu. I believe we can create our own world, our own heaven.
Kadang kamu suka heran, kenapa aku sangat percaya kepadamu? Disaat kamu merasa dunia ini sangat berat dihadapi, kamu heran aku tetap percaya padamu. But honey, why wouldnt I? Mengapa tidak?
Kamu adalah bintang di hidupku. Kamu telah bersinar dihati dan di duniaku. That’s why I’ll never lose my faith in you. Itu juga yang kini membuatku bertahan saat kau tidak ada. But, honey, at first it was hard..
Surgaku seakan hancur…
Duniaku luluh lantak,
Kenapa kenyataan tidak selalu seperti yang aku inginkan.
Tapi akhirnya aku menerimanya. Aku menerima bahwa kita tidak lagi bersama. Aku menerima memang sudah saatnya kamu pergi. It’s all right. I know you’re out there. I believe it.
Apa kamu tahu kenapa sayang? Because you are my first star at night.
Sinarmu selalu menerangi diriku. Dan aku selalu teringat ketika kamu bilang aku adalah bumi untukmu. Awalnya aku tidak mengerti, namun kini aku tahu yang kamu maksudkan.
If I was your earth, then you are my soul satellite. And i’ll be so lost in space without you.
So, i will not say goodbye to you my love, aku akan menganggap perpisahan ini hanya sementara. Kita tetap akan memiliki surga kita sendiri. I’ll never lose my faith in you..
So, i’ll say Au Revoir, but this isn’t goodbye..”
Perempuan itu meletakkan surat yang sudah ia tulis dan baca berulang-ulang. Ia membaca sekali lagi seakan-akan takut ada yang terlewat. Tapi semua sudah terkatakan dalam surat itu. Ia memasukkan ke dalam botol dan menyumbatnya dengan gabus. Lalu ia menatap nama di atas batu granit hitam seakan-akan tatapannya bisa membelai sosok yang kini hanya dalam kenangannya.
“Rest in peace my soul satellite. We’ll meet again” lalu perempuan itu melangkah dengan pasti keluar dari areal pemakaman. Senyum samar terbentuk di wajahnya.
-3 Apr 2011-
It takes a week and 3 days and still counting to hold my hand not to contact you…
It takes a million reason why I shouldn’t , it only takes one reason why i should..
the big question pop up and urge some answer:
WHY? HOW COULD YOU?
What a jerk!
“Ah, ini sebenarnya jadi jalan ga sih?. Udah jam segini belum jalan, pulang jam berapa nanti. Aduh, kerjain ini dulu deh. Deim kok gue laper sekarang. Pake jaket gak nih. Dimana sih tempatnya. Aduuh nyokap telfon. Kok gue kaya berasa punya anak ya. Hah? Kok ada orang Dima. Weleh. Ini tempat apa sih?. Makan dulu aja. Hmm…pizza kayanya enak. Main ping pong banget nih. Ini gimana sih cara main pingpong. Gila ternyata gue emang laper. Ih mahal banget sebotolnya, dan gak seliter juga. Ishh. Gini doang, harus ada permainan biar seru. Woow ada Rama Anan. Ingat don’t drink too much. Kasih pertanyaan apa ya ke Tere. Kok blank gue. Ini lebih seru kalo udah mengenal orangnya sih. Wah, pertanyaannya terlalu mudah. Kok gerah yah. Oh my God, tequila. Don’t drink too much. My Gosh, so hot here. Hey, ada Tony..oh right. Don’t make him see me. Mulai garing. Oh lala main puter botol. Haha..saatnya ngerjain epat dan jeffry. Shit! Why they have to ask THAT question. Hmm..another drink still okay. I think. Holy crap, i broke one glass. F**K! there will never happen i am going to call him. It’s not gonna happen. Kenapa sih Rama niat banget bikin gue mabok. Hahahaha..gue tertawa tapi gue ga tau kenapa. Hey, gue kan juga belum pernah foto sama Rama… oh my, did i say it loud? Kok minuman di gelas gue ga abis abis sih. Hey, ini tempat kok berisik banget ya. Kepala gue berat banget. Oh ya ya kita pulang. Kenapa rasanya melayang gini. Kayanya gue mabok deh. Sapa sih nih yang pegang tangan gue. oyyy gue mau pipis. Haduh kepala gue pengen gue tinggal aja. Semua pada ngeliatin gue kenapa yah..
Gue jelek banget deh. Ya ampun toilet kantor bersih banget. Ini kok ga selesai selesai sih. Haduh kenapa sih teriak teriak. Oh pil anti mabok ituh. Udah berapa lama gue ada di toilet? Ini kenapa ada Zoel disini. Dia bawain gue air minum. Thank you Zul. Dia belum pulang? Okay, back to toilet… Ini kok ga kelar-kelar. Gue tidur disini aja gimana? I must go home. Lompat-lompat? Boleh ga ganti kepala aja?
Rama teriak apa sih? Angin malam enak banget. Kalo gue keluarin kepala ke jendela enak banget. Aduh mual nya ga kelar-kelar. Ini kok jeffry berisik banget sih. Dia ngomong apah? Apaah? Oh Tuhan… ini jam berapa sekarang. Jeffry ga bisa lebih cepat lagi nyetirnya. Cepetan dong Jeff. Oh my God, gue mual lagi. Jeffry ini annoying banget ya.. haduh pegang-pegang kepala, udah tau kepala gue puyeng banget. Senderan? gue lebih milih keluarin kepala ke jendela dibanding senderan. Hiks….hiks..hiks.. gue ga mau pulang dalam keadaan begini. Tapi gue harus pulang. Ini gimana? Haduh, Jeffry ditelpon Risna… mati deh dia. Ya ampuun, gue ga mau mabok lagi. Gak lagi lagi. Kok gue emotional ya. Ini udah dimana? Tuhan, semoga nyokap ga bangun. Selamat! Sampe dirumah. Kirim status dulu. …”
Guilty feeling is always comes late. And it never go away. You always say ‘what if’ and really hoping you could turn back the time and make it right. It would get worse, when it comes to the one you loved and cared about.
Yes. I have experience it and still try how to ease the guilty feeling inside. I hurt my best friend. Sadly, it’s something that i didn’t intend to hurt her. I guess I don’t have to tell you the emotion reaction that had happened. But, what I can tell you is, she’s hurt so much by me. I never saw the sad and disappointed face from her to me before until that day.
And I? I also feel crushed and broken when I know it really hurt her. When you think saying ‘Sorry’ is enough, it was never enough. Even 1000 words of sorry would never enough to heal the cause I made.
I cried all night because I know the scar is there. The scar I made in her heart. I cried because I should have been a better friend for her. I cried because I am afraid of losing her. I cried because I can’t forgive my self. How I undo this?……
It had happened. And I can’t do anything about except I try to be a better friend for my best friends. It is true when people say ‘time will heal’. Well, I guess I leave it to time, meanwhile I praying to God for her so she deserve a better blessing because she’s always good to others. And I pray for salvation to myself for I had been a awful person. 🙁
Ask for forgiveness to others is not easy, but ask my self to forgive my self is harder.
It’s just suck seeing you like this, when he stirred you how to live
It’s just suck feeling like this, when it feel i must compete with your boyfriend
It’s just suck when i should be supportive while inside i don’t agree
It’s just suck when suddenly i am the middle of you
It’s just suck when i see myself turned become a bitter woman
It’s just suck when i see my life stuck while yours is running
It’s just suck when i feel pathetic with my self and my life
It’s just suck when you are okay with all those characters of him
It’s just suck when i only can write this poem…. but
This is your life, this is your choice. I just wished you’re happy..
but if you’re not, …. i know i will be here.
-151213-
Titik-titik air pelan-pelan keluar dan seperti menunggu momentum yang tepat, ia mengalir menuruni perumukaan gelas yang halus. Tapi peristiwa fisika itu sayangnya tidak mendapat perhatian dari dua sosok yang sedang berhadapan. Mereka saling menatap dan berbicang dengan serunya seakan-akan tidak ingin melewatkan satu detik pun.
“Helloo, senang melihatmu. Kamu terlihat sehat dan baik. Thank God. God is good” – Kedua mata tajam itu menyiratkan kebahagiaan saat menatap lekat-lekat perempuan dihadapannya. Perempuan itu sedang berbicara sambil tersenyum. Dia bercerita tentang pekerjaannya, ia bercerita tentang kehidupannya, dia bercerita tentang kelahiran putrinya 1,5 tahun lalu sambil sesekali menyesap minuman beralkohol dari gelasnya. Pelan tanpa terburu-buru, ujung lidah pinknya sempat terlihat menyentuh cairan bewarna coklat gelap lebih dulu seperti radar yang mengetes kualitas minuman dan kemudian menelan cairan dan menikmatinya.
“It’s been a while, hasn’t it? – Sudah berapa lama ya sejak aku melihatmu? 8 tahun sepertinya” – tatapan hangat perempuan itu seakan-akan menyuarakan apa yang dipikirkannya. Ia tidak pernah menduga akan melihat laki-laki itu lagi. Perpisahan 8 tahun lalu sepertinya baru kemarin. Perawakannya tidak ada yang berubah. Dia tidak bertambah hitam ataupun gemuk di bagian perut seperti pria-pria yang sudah masuk usia 30-an. Senyum dan tatapan mata tajam yang sama tetap bisa menghipnotisnya seperti 8 tahun lalu.
“Hebaat, kamu masih menyimpan foto ini? Foto ini berusia 10 tahun. Lihat kita masih sangat muda dan begitu naive akan segala hal” ujar si laki-laki. Dia memperhatikan sebuah foto lama yang diberikan si perempuan dengan seksama. Kedua matanya tidak lepas dari sosok-sosok yang ada didalam foto tersebut seakan-akan mencoba menghidupkan kembali kejadian saat itu di pikirannya. Tiba-tiba dia tergelak sendiri. “Tentu saja, aku selalu membawanya di dekatku. Ini disini selalu..” ujar si perempuan sambil menepuk-nepuk dadanya.
“Ini saat kita kembali berpacaran sejak kamu menghilang dulu” – si perempuan kembali berkata. Matanya menatapku dalam. Ada sebuah kerinduan yang sendu namun bertolak belakang dengan senyum yang terlihat samar di bibirnya.
“Hmm.. ya, It was best day of my life because you’re accepting me back..Still It is”.
“Ahh Rex…” desahnya matanya tertuju pada foto. Pikirannya seperti melayang ke delapan tahun lalu. Caranya menyebut nama si laki-laki seperti menyebut nama kekasih yang dirindukannya. Senyum samar yang muncul dibibirnya seperti memberikan misteri yang harus dipecahkan.
—–
“Lihat deh rambut kamu dulu… aku masih tidak menyangka kamu melakukan saranku. Saranku buruk sekali ternyata..hahaha” ujar si perempuan tertawa terkekeh.
Perempuan ini tidak berubah sejak 8 tahun lalu aku berpisah dengannya. Ini adalah pertemuan pertama kami kembali setelah 8 tahun. Meski sudah memilik anak, tubuhnya tetap terlihat langsing, meski tidak sekurus dulu. Namun, penampilannya yang stylish dan terawat, aku bisa menyimpulkan dia menjalani hidup yang berkecukupan.
Saat dia tertawa, tidak ada yang berubah dari dirinya. Segala tentang dia masih sama, segala tentang dia masih aku suka, masih..sampai kini.
Saat dia menyebut namaku, aku merasa kembali ke-8 tahun lalu. Saat aku dan dia masih kami, dan bersama. Aku sangat mengenalnya. Karenanya aku mengetahui saat ini dia merindukan kebersamaan kami. Aku mengetahui dia masih memiliki rasa itu. Aku tahu karena aku juga merasakan yang sama. Tapi aku juga mengetahui saat ini dia dalam dilema saat aku mengucapkan kalimat yang membuat mata coklatnya menatapku dalam.
—–
“Aku hanya 2 malam di Jakarta. Besok sore aku sudah harus terbang lagi. Aku ingin habiskan sisa waktu di Jakarta untuk memecahkan misteri ‘kita’ ” , ujar si laki-laki itu sambil menatap dalam ke arahku. Betapa aku sangat merindukan dirinya. Aku sangat merindukan kebersamaan kami.
Kami seperti 2 potongan dari magnet yang sama, saling melengkapi namun tidak bisa bersama. Betapa aku sangat merindukannya. Betapa dia juga sama egoisnya, dulu dan saat ini. Menghilang, datang, menghilang dan kini bertemu lagi.
Benakku penuh dengan kenangan manis bersamanya. Bersamaan itu juga, kenangan saat aku depresi ditinggalkannya juga muncul. Saat aku hampir kehilangan kewarasanku ketika dia menghilang dari hidupku dan yang aku pikir untuk selamanya. Dulu…
Sesuatu yang kemudian bergetar mengalihkan perhatianku…
——
Telpon yang bergetar mengalihkan perhatiannya. Aku tidak berani itu dari siapa setelah aku dengan lancang memintanya untuk habiskan sisa hari ini bersamaku.
“Aku mengerti jika kamu ingin pulang sekarang…..” ujarku pelan saat dia mengambil kunci mobil dari meja kopi. Tapi kemudian tatapannya beranjak pelan-pelan dari telpon itu ke mataku. Kedua mata coklat yang besar itu menyiratkan hatinya yang mencari-cari alasan untuk tetap duduk dan bersamaku.
“Tapi jika kamu ingin tinggal, hari ini, saat ini, akan menjadi hari yang paling membahagiakan untuk aku… untuk kita, untuk kenangan kita berdua” ujarku lagi pelan-pelan. Telpon kembali bergetar. Ah…telpon itu lagi, desahku dalam hati.
——
Tak ada yang menyadari bahwa malam telah larut dan pengunjung di bar & lounge itu sudah berganti kostum. Yang sebelumnya pengunjung hanya berpakaian casual dan chic, kini berganti ‘dapper and glam’. Ambience musik yang menjadi lebih nge-beat merangsang pengunjung untuk dance sesuai melodi. Akhirnya perempuan itu berdiri dan melangkah ke depan laki-laki sambil mengulurkan tangannya. Laki-laki itu mengerti body language tanpa kata akan ajakan dansa.
“Let’s make a memory” ujarnya saat ia mendekap si perempuan itu erat dalam rengkuhannya.
One day my boss said about personal relationship and professional relationship. He said in work office, these 2 parts always come up together, so we must maintain good personal and professional relationship with co-workers.
This talk came up in one of managers meeting after some issue about miscommunication happened and it seemed affected the quality of work.
Particular in my office, that don’t have (yet) hundreds employees, so we’ll see and interact intensively with everybody everyday. That’s why personal & professional are need to make a great team work.
What’s definition of being professional? Do we need to get personal too?
In my perception personal relationship means you get into personality of the person. They ‘click’ you in a way so you’re enjoying their friendship or company and you must have these friends in your office. And about being professional, this article explain well enough. It said there are 10 points, but what I love is that, in that article mention about practice good manners and proper etiquette and also mention about have high ethical and moral standards.
There are my points. Being professional doesn’t mean you don’t need good manners or proper etiquette as long as your job are well executed and on deadline. But being professional also doesn’t mean what I care is you’ve done your jobs and I don’t care about you just got dumped and need some emotional support because it’s your bff’s job. No, it’s not like all that…
But it’s not easy to do both – personal and also professional. When we have good personal relationship with our coworker, they become friends (not just as coworkers) and maybe BFF or brothers in social life. The problem is when they do wrong (obviously wrong) and we must react based on objective rule. Can we be objective? Yes we can, but they’re friends rights. We love our friends and don’t want bad thing happen to them. Will or Won’t you be objective? or you’re just silent?
The other side also the same. (Because you’re my friend) make the work finish sooner, okay. (though you know your friend to do list is like Santa’s naughty boys’ list–too long to ask for favor). But the friendship sometime go overboard and forget the professional. The reason because you are my friend become ‘price’ to have special treatment. Do you have experience too?
I dunno why this is become hot topic lately, because I admitted to do what my boss asked is quite hard. Maintain a good personal & professional relationship turn out is not just being good at work and let’s lunch or hangout after office together. But how you can also put aside your personal feeling (or even your pride) while in office and be friendly in casual with your co-worker and also good communication in working for greater propose ( I mean propose is target billing. Oh i shouldn’t write that). Yeah…Just because it is 3.30 AM and I can’t sleep…