Bulan November. Hampir sebulan lewat sejak saya merayakan ulang tahun yang kesekian.
Tahun ini tidak ada perayaan. Hanya travelling berdua bersama ibu ke rumah bulek dan om saya di Garut. Yang saya lakukan di sana, tidak ada yang spesial. Pergi dari Jakarta dan rutinitas, dan menikmati akhir pekan tanpa diganggu.
Tidak ada hingar bingar, tidak ada keseruan yang berarti. Ucapan diberikan, lalu kami pergi berenang dan saya menraktir om dan bulek saya. Bahkan, ketika pulang, saya menyadari, tidak ada foto yang menjadi pengingat moment makan bersama kami dalam keheningan.
Beberapa teman di kantor bertanya ada perayaan apa di Garut? dan kenapa tumben ke Garut? Actually, setelah saya pikir-pikir, tidak ada alasan logis khusus, yang saya rasakan adalah saya hanya ingin pergi dari Jakarta dan menghabiskan waktu bersama ibu.
Di hari saya ulang tahun, saya sadari bahwa umur saya sudah tidak muda. Saya pikir saya harus menjalani sebuah fase hidup baru. Apakah itu, saya belum tahu juga. Tapi ada hati kecil ini yang mengatakan, “Fani, kamu harus punya fase kehidupan baru”.
Sekarang bulan November. Bulan depan sudah Desember. Sebuah kegusaran mulai tercipta. Iya, saya gelisah, karena dorongan hati kecil itu semakin kencang. Tapi saya bingung bagaimana menjawabnya.
Ahh… saat hati bicara, kepala saya menjadi ragu. Dan saya menjadi melodramatic malam ini.
Sudah bukan hal yang aneh, jika saat hari besar keagamaan, kemudian ada libur lumayan lama, keluarga besar kemudian berkumpul. Kakek, nenek, bapak, ibu, pakde, bude, tante, om, sepupu-sepupu, keponakan sampai cucu dan cicit (jika memang ada) berkumpul, saling melepas rindu, tukar kabar sampai curhat-curhat yang perlu di-update ke beberapa saudara.
Pertemuan keluarga juga sering menjadi ajang the elders memberikan kritik dan masukan atas kehidupan yang saat ini dijalani oleh generasi muda. Kritik dan masukan akan hidup biasanya dimulai dari pertanyaan yang berhubungan dengan life cycle. Iya, definisi life cycle adalah urutan hidup yang umum dijalankan. Mulai dari sekolah – kuliah – kemana setelah kuliah? – kerja – kerja dimana? berapa lama? – menikah – sudah punya pasangan? Kapan menikah? Kapan nyusul? – memiliki anak – Udah ‘isi’ belum? Si kecil ga mau dikasih adek ? – dan begitu selanjutnya.
Selama beberapa banyak tahun sebelum tahun ini saat pertemuan keluarga, saya menjadi ‘generasi muda’ yang menjadi objek review dari pertanyaan klise di atas. Rasanya, seperti ‘amuba dalam sorotan mikroskop’. Gak bisa berdalih dan gak bisa kemana-mana juga. Jawaban sama setiap tahun tidak hanya membuat orang yang memberi pertanyaan bosan, saya pun bosan jawabnya. Tapi lagi-lagi, the elders merasa berkewajiban untuk tetap memberikan kritik dan masukkan yang menurut mereka terbaik buat saya tentunya dengan kacamata mereka.
Berbicara soal kritik dan masukan, bukan hal yang asing secara profesional buat saya. Di level saat ini, saya mengerti feedbacks and critics are two different things. Meski cara penyampaiannya bisa jadi sama, yang membedakan feedbacks dan critics adalah objektivitas yang tetap terjaga saat menyampaikan feedbacks. Kita tidak bisa terlibat secara emosi saat memberikan feedbacks dan tentunya harus disertai solusi sehingga orang yang diberikan feedbacks merasa di-support dan menjadi lebih baik.
Poin kunci yang mungkin harus diingat saat memberikan feedbacks adalah sikap pengertian dan tetap objektif terhadap masalah. Saya sendiri masih terus belajar untuk bisa memberikan feedbacks dan bukan kritik.
On that thought, realization just came to me kenapa kritikus makanan disebut ‘kritikus makanan’ or food critics. It just because all they writes are based on subjectivity. (Yes. Food critics doesn’t have to be chef and you can’t write about food based on objectiveness). Oh well…
Tapi honestly, dulu saya tidak bisa membedakan antara kritik dan masukan. Saya pikir masukan adalah kritik; dengan rumus : critics = feedbacks. Kalau pun ada kritik yang tidak membangun, itu bukan kritik tapi memang ‘nyela’.
Awal saya bekerja, saya menerima semua kritik baik negatif dan positif dengan anggapan semua itu adalah masukan buat saya. Meski dengan cacian atau makian di depan karyawan lainnya, hanya karena itu berasal dari atasan. Well, maybe that’s a positive thing being GenX. We don’t have this ‘baper’ thing like millennials now. Tapi saya belajar, bahwa tidak semua orang bisa menerima tempaan mental seperti itu. Tidak semua orang bisa mengolah ‘lemon in life to become lemonade’.
Terus apa hubungannya dengan pertemuan keluarga besar? Ha!
Jadi beberapa tahun ini, saya tidak lagi menjadi ‘amuba dalam sorotan mikroskop’, tapi salah satu subjek yang melakukan feedbacks and critics dengan pertanyaan klise di atas. What an irony.
‘Amuba dalam sorotan mikroskop’ baru itu adalah adik sepupu yang belakangan menjadi trending topic saat pertemuan keluarga. Seorang millenial dimana orangtuanya dan juga Pakde, Bude nya tidak mengerti apa yang harus dilakukan terhadapnya. Setiap ada pertemuan, topik pembicaraan selalu kembali kepadanya.
Lucunya, pengetahuan saya akan feedbacks dengan kunci ‘pengertian dan objective terhadap masalah’ sepertinya hilang kalau sudah membahas masalah adik sepupu ini. Feedback? Sepertinya setiap orang bahkan the elders yang biasanya sabar, saat dicurhatin oleh tante dan om alias orangtua si adik sepupu saya ini, tidak lagi melihat pokok masalah secara objektif karena sudah terbawa emosi. Sehingga output yang keluar adalah kritik-kritik dan kritik. Selain kritik, sarkasme juga ikut serta. Yang mana fakta tersebut membawa saya pada tulisan ini. When I knew better how people don’t give positive reaction in critics and become shut down to any feedbacks, what I did is criticize her.
Saya tersadar bahwa meskipun dalam keluarga, sebuah masalah tetap masalah. I should put aside my emotion and be objective about the problem. Kemudian saya coba menerapkan beberapa langkah ini saat bertemu dengan adik sepupu saya ini. (kebetulan saya baca ini artikel ini yang ternyata merinci langkah-langkahnya lebih spesifik)
Intention: What’s the intention of providing the feedback?
Observation: Be very clear and describe what you observed.
The impact: What was the impact on you, the work, the team or the individual.
Discuss: Does the other person understand what you are saying? What is their reaction, their thoughts?
Focus: Pinpoint solutions, obstacles or options available to correct the issue.
Agree: The final piece is to identify clear next steps and when you will follow up.
Saya mencobanya dengan obrolan santai sehingga ia tidak akan merasa di review atau dihakimi sepihak. Memang tidak langsung keluar, tapi akhirnya adik sepupu saya sedikit membuka dirinya. Ia mulai bercerita sedikit dari yang biasanya diam. Saya tidak berharap dia langsung berubah. Yang penting dia mengerti apa yang saya bicarakan dan dia mengemukakan pikirannya terhadap apa yang saya bicarakan. Tidak mudah.. really, i was struggling and i am still working on that, tapi ini jadi latihan saya untuk memahami millenials. Informasi yang diberikan adik sepupu saya menjadi bahan saya untuk lebih mengerti dan mencoba memberikan solusi-solusi dan tantangan dari pilihan hidup yang akan dihadapinya.
Millenials. Tidak mudah memahami mereka, namun memahami adik sepupu saya ini bisa buat latihan saya untuk bisa memahami staf millenials kami.
That’s that.
Next step is the parents. How to make my aunt and uncle understand that they also need to educate their daughter and let her make their own mistakes?
Lewat 1 bulan sejak posting terakhir. Okay, saya melewati 1 bulan tanpa membuat tulisan apapun. Hukuman adalah menulis 2 tulisan bulan ini. Semangat!
Sebenarnya banyak yang bisa ditulis, tapi sejak awal tahun ini saya berjanji untuk lebih menyaring tentang apa yang harus saya tulis. Jadi yang sifatnya terlalu curhat-ish itu mungkin akan masuk diary saja dengan rate pembaca 1 orang. C’est moi. Hehe.. so,
TW-niversary.
Satu bentuk kata baru yang diciptakan founder kantor kami. Artinya adalah ulang tahun kami selama menjadi karyawan kantor ini. (Tidak perlu dituliskan nama kantornya ya 😉 ).
Konsepnya sebenarnya adalah bentuk reward dari management kepada karyawan tersebut yang telah menjadi bagian dari kantor kami berupa ucapan thank you card dari founders / CEO kami yang ditulis langsung oleh mereka. Konsep ini dijalankan baru setahun ini kok dan saya langsung menyukai ide ini. Sebuah sapaan atau ucapan ‘Terima Kasih’ dari sosok penting di perusahaan bisa bikin rasa yang beda.
it my twiniversary
Seperti pada gambar di atas, saya genap 9 tahun pada 29 Mei kemarin. Tidak perlu ditanya tahunnya, cukup hitung dalam hati saja ya 😉 . Ini adalah angka terbanyak dari sejarah saya bekerja. Saya lulus dari kuliah dan langsung bekerja. Dunia saya langsung kerja, kerja, kerja. Sebagai lulusan baru, a fresh graduated, saya merasa sebutir debu yang tak berarti di dunia kerja, sehingga pekerjaan apapun saya ambil untuk mencari pengalaman tentang dunia bekerja.
Sedikit flashblack, pekerjaan pertama saya adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh semua lulusan fresh graduated apapun jurusannya. Call Centre. Yes, itu adalah pekerjaan yang paling banyak dibutuhkan saat itu, selain MT. Tapi kontradiksinya adalah persaingannya tinggi. Tapi saya beruntung; saya diterima. Untungnya lagi, sebagai garda depan perusahaan dengan customer atau calon customer, perusahaan menyadari bahwa para frontliners ini butuh dipoles dan dibekali wawasan. Baik wawasan produk maupun wawasan etiket sosialisasi profesional.
Saya ingat betul, ada satu pengajar yang sengaja didatangkan dari sebuah sekolah kepribadian terkemuka untuk memoles dan mengajari etiket. Keren kan?! Kami diajari bagaimana etika bersosialisasi dengan rekan kerja, dengan atasan, bahasa tubuh yang pantas dalam bekerja, bagaimana jabat tangan, cara sopan memberikan kartu nama sampai mind set dalam bekerja.
Sudah lama sekali, dan saya lupa nama pengajarnya tapi saya bersyukur pernah dapat materi itu dari beliau. Saya merasa bekal itu juga yang membawa saya sampai sekarang.
9th.
Selama itu di kantor yang sama, mungkin saya berada di comfort zone, atau mungkin saya sudah lelah pindah-pindah kantor atau sebut saja saya adalah generasi X yang diajarkan bahwa loyality is matter.
Kenapa ya saya bisa sampai 9th? Satu hal, saya merasa gelas saya setengah kosong terus. Sepertinya banyak sekali hal yang masih saya pelajari. Saya merasa selalu ada hal baru yang saya bisa dapatkan di kantor ini. Dari ilmu baru, team baru, tanggung jawab baru, ide baru.
Hal lain, saya merasa kantor ini banyak mengakomodasi karyawannya yang ingin membuat sesuatu. Entah aktivitas, entah maenan tech baru, entah workshop, sampai memperbaiki SOP. Tidak ada yang absolut karena kantor ini berkembang mengikuti karyawannya. Bukan berarti segalanya tidak pasti, karena ada beberapa hal tidak bisa ditoleransi di kantor ini layaknya kantor-kantor lain.
Tapi maksud saya adalah kantor ini berkembang. Kondisi kantor dulu saat saya masih di tahun pertama atau kedua sangat berbeda saat kini banyak anak-anak muda millineal menjadi karyawan dan bekerja di kantor kami. Bos kami mengatakan kita tidak bisa memperlakukan mereka sama dengan gaya saat generasi saya menjadi fresh graduated dulu. Sehingga beberapa perubahan terjadi. Terus terang gak mudah, namun itu jadi membuat saya tersadar, proses belajar saya masih terus berlanjut. 🙂 Hingga tidak tersadar sudah 9th.
Banyak ucapan syukur untuk 9th saya di Think.Web. (akhirnya keluar juga nama kantornya). Di Think.Web, saya banyak belajar, memulai dari seorang karyawan, dan kini belajar menjadi pemimpin yang baik. Di Think.Web juga saya menerima ilmu untuk mulai memikirkan masa depan dan akhirnya saya mampu membeli rumah. Tapi namanya juga belajar, ada malasnya, ada bosannya, ada rebel-nya hingga saya ada di titik ini. Bukan proses cepat. Saya bukan fast learner. Tapi terima kasih, saya punya mentor-mentor yang sabar banget.
Jika dianalogikan sebagai manusia, 9th adalah umur saat anak kecil mulai mempunyai geng dan mulai main sendiri tanpa orang tua. Iya, saya sudah berpikir begitu, banyak rencana untuk main tanpa orang tua. I am in brewing process. Semoga bisa lekas lebih mandiri *prok-prok.
Saya pernah menulis tentang ‘University of Thinkers‘ di tahun ketiga di kantor ini. Di tahun 9th, pendapat saya gak berubah. Kantor kami memang universitas dimana karyawan tidak hanya dibayar akan spesialisasinya tapi diberikan kesempatan belajar. Ya, akan ada test, akan ada gagal, akan ada tantangan, tapi jika kita melewati proses itu, hasilnya akan kembali ke diri kita lagi. Tidak ada usaha yang sia-sia. Trust the process. Will lead you to good result.
Saya memutuskan untuk diet media sosial ‘Path’. Kenapa Path? Kenapa bukan instagram? atau twitter? atau FB?
Dulu saya merasa Path adalah salah satu solitude channel dimana saya bisa sharing ada apa dalam hidup saya dan mengetahui apa yang terjadi dengan teman-teman saya. Bangun tidur, lihat Path. Mau tidur, cek Path. Sedang nunggu meeting, cek Path. Atau lagi boring di miting pun buka Path.
Namun, belakangan saya merasa, update status di Path jadi beban, baik untuk sharing status atau pun melihat sharing teman-teman.
Path jadi tempat pencitraan di mata saya. Tapi bukankah semua media sosial begitu? Iya sih.. meski ada circle friends, bukan berarti saya berhenti melihatnya sebagai pencitraan. TENANG! Bukan berarti teman-teman semua yang ada dalam friends Path saya seperti itu. Saya percaya bahwa tidak ada satu pun dari teman-teman saya di Path bermaksud pencitraan (meski bisa jadi begitu tanpa sadar :p ) tapi ini lebih ke diri saya yang semakin lama semakin merasa ‘isi gelas saya’ selalu kurang.
Efeknya adalah saya merasa saya tidak bersyukur dengan hidup yang saya alami. Saya tidak menikmati setiap moments yang terjadi depan mata. Sindrom ‘Rumput tetangga selalu lebih hijau’ menjadi selalu muncul ketika melihat timeline feed dari teman-teman. Saya menjadi sarkas dan sinis. Dan saya benci diri saya yang seperti itu.
Jika kamu teringat dengan pernyataan Sarah Sechan yang berhenti bermain di media sosial, well... saya tidak bisa berkata berhenti dari media sosial. Pekerjaan saya ada di digital dan dunia media sosial sangat erat hubungannya sehingga now and then, saya harus membuka Facebook, Twitter dan Instagram demi kebutuhan pekerjaan semata.
Sehingga Path jadi pilihan media sosial yang harus saya hentikan untuk sementara ini. Lucunya adalah ketika brands mulai masuk ke Path dan menjadikannya channel berinvestasi, saya justru meninggalkannya untuk kewarasan pikiran saya.
Saya tidak mau berpikir harus nongkrong dimana karena akan terlihat bagus ketika ‘check in’, atau liburan kemana yang bakal keren ketika di foto, atau apapun yang dipikir ‘harus’ bagus untuk di post di media sosial.
“Tapi foto muka atau selfie harus bagus dong?” — Itu pengecualian ya. 😉
Saya tidak tahu apakah saya akan kembali aktif di Path. Sejauh ini saya hanya akan uninstall path di smartphone, bukan delete account. Jadi, yeah… saya masih belum berpikir sampai sana. Tunggu dan lihat nanti saja.
Sigh… terus terang tulisan ini adalah arti harafiah dari judul. Ya, saya tidak bisa tidur dan besok saya harus bangun pagi untuk siaran pagi. Tapi di kepala ini sepertinya berisik banget. Banyak sekali yang harus dikeluarkan. Andai saja saya punya pensieve seperti Dumbledore.
Apa yang membuat kamu menangis? Patah hati? Dimarahin orang tua? Tidak punya teman? Tidak diperhatikan? Dipukul? Sepertinya semua yang tulis pernah dialami semua orang. Saya juga kok. Dulu. Makin dewasa, sebab yang membuat saya menangis semakin spesifik. Kehilangan sosok yang dekat seperti keluarga untuk selamanya? Merasa gagal? Malu akan kelemahan diri sendiri? ‘Jatuh’ karena kesalahan sendiri? Saya juga sudah mengalaminya. Di usia pertengahan 30 sepertinya wajar saja ya kalau menangis karena itu semua. Saya pikir juga itu wajar. Menurut saya, menangis adalah pertahanan pertama terhadap apapun yang menyentuh emosi. Setelah itu saya baru bisa berpikir apa yang harus dilakukan terhadap apapun itu.
Saya ingat saya menangis di hadapan bos saya ketika ditanya kelemahan saya. Saya tidak tahu kenapa, tetapi membuka kelemahan diri di depan orang lain pada saat itu adalah titik rapuh saya dan saya break down kemudian saya menangis. *sigh* Tapi saya belajar, mengakui kelemahan bukan berarti saya salah atau kalah.
Selain sebab menangis yang sudah saya sebutkan tadi, ada juga sebab menangis yang lain. Beberapa hari kemarin saya menonton ulang drama korea Reply 1988. Sudah berapa kali hidung saya beringus dan airmata ini keluar layaknya saat saya patah hati. Lalu, film Monster Call yang malam ini saya tonton juga membuat saya beringus dan airmata mengalir deras sampai hati ini terasa ngilu.
Hell, jangan salah, bahkan film animasi pun bisa membuat saya menangis. Norak? Mungkin ya..haha. Tapi cerita yang bisa menyentuh emosi patut diancungi apalagi bisa membuat saya menangis terisak dan beringus. Tapi kemudian saya mendapatkan ‘tamu’ beberapa hari setelahnya.
Saya jadi berpikir, sebenarnya apakah saya benar-benar terhanyut karena cerita atau karena faktor hormon tidak stabil saat PMS sehingga saya mudah sensitif dan terjadilah airmata itu. Jika memang begitu, berarti bisa jadi PMS adalah sebab lain saya menangis.
Aniway….
Sebab lain saya menangis adalah ketidakadilan dan ketidakmanusiawian (<— apakah ini benar ejaannya?), kepicikkan pikiran, kebutaan akan kebenaran. Well, memang tidak serta merta saya akan menangis saat melihat si abang tukang sayur memberi sejumput cabe rawit lebih banyak dengan harga sama kepada ibu-ibu yang menyela saat saya sedang belanja sayur. Meski itu suatu ketidakadilan mutlak karena saya tahu cabe mahal dan saya membayar dengan jumlah yang sama.
Kapan itu saya merasa sedih saat isu SARA (gara-gara Ahok juga sih) kembali merebak. Sebagai kaum minoritas, saya sempat merasa tidak aman dan terancam. Iya , itu benar. Saya sempat berpikir, apa yang terjadi jika kebhinekaan ini tidak ada? Saya harus migrasikah? Apakah saya bisa hidup dengan tenang dan mendapat perlakukan adil? Bagaimana saya dan keluarga saya menjalani hari-hari? Terus terang saya sempat sampai berpikir begitu. Dan ketakutan itu untungnya hanya sampai pada sisi emosi prihatin (Pak SBY, pinjem katanya ya). Tapi akhirnya saya mencoba untuk percaya kepada pemerintah, percaya kepada sistem yang menurut saya harusnya diperbaiki, percaya kepada cendekiawan bahwa kebhinekaan Indonesia tidak akan hilang.
Sudah pukul 01:23 AM pagi, dan saya sudah mengantuk.
Lalu inti tulisan ini apa? Tidak ada, ini adalah doodling kata-kata yang stuk di kepala sekaligus mengisi waktu sambil menunggu rasa kantuk datang. Voila, kantuk sudah menaungi kelopak mata. Saya akhir tulisan ini disini.
It’s been years since I wrote on my own blog..hahahaha shame on me. It’s been too long until i forgot how to begin with. Douh! So, I begin with greetings!
ALOHA! (so, what’s next?) *…..blank mind….*
Saya akan mulai dengan bahasa Indonesia, karena tahun ini, adalah waktunya untuk sadar, bahwa saya (ternyata) belum bisa menulis bahasa inggris dengan baik. Hence, menulis bahasa Indonesia dengan baik pun belum juga. Okay, shame on me twice. (Tuh, kan.. entah kenapa jargon dalam bahasa inggris jauh lebih mudah dan lebih awam di banding dengan jargon bahasa indonesia).
Awal tahun 2017 saya memutuskan untuk be more serious. Iya, serius.. bener deh. Serius ini! Baiklah, saya urutkan satu-satu.
Lihat domain di atas. Sudah berganti menjadi www.stefani.id. Dan saya membayar untuk itu. Hahaha… saya mengeluarkan dana untuk ini. Jadi harus bener nih. Saya berjanji kepada diri sendiri untuk konsisten menulis untuk blog ini minimal 1 post / bulan. Janji!
Saya sudah bertekad bahwa tahun ini bisnis online saya harus jalan. Beberapa orang yang sudah mulai duluan dalam berbisnis online bilang, bikin deadline sehingga kamu tidak terlena. Well, saya sudah punya deadline. Tinggal konsisten jalanin. Nah, itu yang susah. (dudududu….)
Saya serius tahun ini status rumah harus segera diputuskan. Mau ditinggali atau lebih baik dikontrakkan saja. Ibu sudah pasti tidak akan memperbolehkan saya tinggal sendiri. (and I can’t leave her live alone)
Saya ingin kembali menjadi kutu buku. Maksudnya membaca lagi. Terus terang sejak kenal dengan Korean Drama (damn! Itu racun dunia), minat membaca saya menurun. Jadi, kesukaan dengan Drama Korea sudah menjadi addiction yang membuat lupa segalanya. That’s not good. I become autopilot dan tidak bisa mengontrolnya. Jadi, itu harus diimbangi dengan kembali membaca.
Ini rahasia
Ini rahasia
Rahasia juga
Gak akan dibuka di sini keleus
Sudah sampai no. 8 saja kok
Ini apa sih?
Kedua, awal tahun ini cukup menarik. Terutama karena di minggu pertama our CEO’s/Founder/My bosses mendaftarkan kami, level manager, di kelas Mindfulness atau istilah kekiniannya adalah “Senantiasa Berada”. Apakah Mindfulness itu? Semua orang akan memiliki definisi sendiri-sendiri untuk ini. Kalau tanya saya, pun saya masih bingung menjawabnya. Untuk menjawab, saya harus memahami, untuk memahami, saya harus mengalami. Ha!
Tapi, untuk bisa menjadi mindfulness, ada tiga tahap yang bisa dilakukan setiap individu. (Ini menurut coach kami di workshop itu)
Nah, untuk menjadi state of mind di atas, gak cukup sekali – dua kali kita melakukan 3A ini. Ini berjalan terus menerus. Setiap detik hidup kita, karena waktu tidak bisa kembali lagi. Apa yang terjadi 1 jam lalu, atau bahkan 1 detik lalu tidak bisa kembali atau diulang agar kita bisa mengamati lagi. Jadi itu kenapa kita harus selalu melakukan 3A ini.
Saya tidak bisa menjelaskan detil apa yang diajarkan, tapi saya bisa bercerita beberapa hal yang kami lakukan di workshop tersebut.
Bernapas. Yeah, as if everyday we don’t breath. Maksudnya bernapas di sini adalah full aware of breathing activity. Saya terus terang melupakan itu. Napas adalah hal yang otomatis. Tidak perlu sebuah kesadaran untuk melakukannya. Nah, di workshop, kita mencoba menghayati napas. Saat napas dihirup, masuk ke paru-paru, merasakan udara memenuhi para-paru sampai ke alveoli paru-paru kita. Lalu merasakan perut yang mengembung setiap kita menarik napas dan mengempis kita mengeluarkan napas.
Duduk diam. Duduk tegak dari tulang pinggul yaa.. posisi seperti meditasi. Lalu diam. Diam selama 5 menit. Mengamati apa yang muncul di kepala. Apa yang dialami saat kita duduk diam. Berdamai dengan pikiran dan tubuh.
Yoga Flow. Bagian ini adalah bagian favorit saya dari semua. Haha. Ya, terus terang, saya belum mudeng dengan 3A di atas, dan saya belum bisa menjalaninya dengan benar. Tapi bagian Yoga ini, saya menyukainya. (bukan Yoga Nidra ya.. itu saya juga gagal).
Selain saya memang menyukai Yoga, saya melihat Yoga sebagai sebuah olahraga dan olahjiwa. Setiap gerakan atau sequence dari Yoga membuat saya melatih pernafasan, kesadaran dan juga akhirnya endurance. Selain itu, jika memang benar-benar fokus, yoga bisa membuka aliran energi-energi yang terblok sehingga menjadi lancar dan kita lebih damai dan rileks. Itu kenapa kalau selesai yoga, jadi ngantuk. Menurut saya sih, itu karena kita dalam kondisi rileks dan damai (ya capek juga cuma capek yang menyenangkan bukan yang melelahkan).
Journal. Di akhir workshop, coach kami memberikan kami jurnal untuk diisi. Tentunya agar kami menjalani Duduk Diam dan merasakan napas itu. Jurnal itu adalah salah cara agar kita terasah. Dari mengamati dan mengalami, menuliskan ulang apa yang terjadi adalah untuk mengasah kepekaan kita. Yang mana… sampai hari ini, saya belum isi apapun jurnal tersebut. Wkwkwk. Shame on me..couple of times hahaha.
Sebenarnya dan seharusnya banyak yang bisa diceritakan dalam workshop itu. Tapi saya sadar bahwa saya butuh waktu untuk menuliskannya. Namun, untuk sementara ini, baru ini yang saya bisa sharing.
Saya pun harus mengamati lagi, mengalami lagi, dan banyak mengasah lagi untuk bisa sharing. Jadi, untuk menutup post pertama saya di tahun 2017, sebuah artikel yang bagus bisa saya share di sini.
Actually, I’m not sure what to write about my old man. But a few days after the 100 days Dad’s ceremonial, I feel like I miss him so much. In fact, Mom coincidentally said two days ago that, in the daylight, she was crying like never before because she missed him.
And that’s the same feeling I have right now.
So it was true, you never really miss someone until you lose them. Dad and I didn’t have that romantic father-daughter relationship, you know. We argued… a lot. Mostly about little things, me with my smart-ass attitude and Dad’s childish behavior… 🙂
We expressed our love with jokes and laughing at each other (not with) ;p and then argued again, and ending it with laughing at each other. But nevertheless, he’s always there… or he was…
I remember the time when I still took the bus; whenever I came home late from work, Dad usually picked me up at the bus station. Even when it was raining at night and he knew he couldn’t see clearly because he lost one of his sights.
He would still nag and give me a lecture about how it’s not safe for a woman like me always to come to work late at night and blah blah… but he never asked me to quit the job. He knew I loved my job.
Yes, we didn’t talk about love literally like ‘I love you, dad.’ We were not that kind of family. But he knew if I had a problem… And I never forget those days when suddenly he asked me, “Opo Ndok?” (He spoke Javanese for these rare moments) when that night he picked me up, while he turned up the motorbike and headed home. He maybe saw my crumpled face even though it was night, and he only had one poor eyesight.
Lately, I felt like I heard “Opo Ndok” in my ears (or maybe because I wanted to hear it)… and that moment flashed back.
On the weekend, at home, there usually always lived up with the sound of Javanese songs or gamelan, or he’s trying to nembang. He liked to sit there on the bench and read the newspaper while humming this kind of music that I would never understand.
Now, no more Dad’s humming, no more Javanese gamelan music, no more his voice trying to ‘nembang.’ Mom doesn’t have the spirit to listen to it again after he’s gone. Even my neighbors missed his humming. 🙁
I remembered one day we had an argument; I forgot what we argued about, but he said, I remember clearly: “Berapa pun umur kamu, kamu tetap putri kecil bapak.”
And that’s what he did. When he got sick, without our knowing, he prepared everything that he knew I wasn’t capable of. Mom told me afterward.
And when he was still here, he prepared me so I am ready when he’s not there.
A funny thing, I thought when we are older we can be more ‘ikhlas’ when someone dear dies. But I think it’s not. Losing someone for good, whatever age you are, is the same sad shit, just a different age.
I thought I was done crying on the day he died. But actually, I never really cried. My head was too shocked. I didn’t give myself real time to mourn… or privately mourn for him. And Mom… I didn’t dare let myself be vulnerable when she needed me most. She has the hardest part…
So, I guess at this moment, I can have private time to cherish memories with my old man. And I can cry… privately. And say out loud that I miss him… every day.
Yeayyy Happy Birthday to me!
Today I am officially 33 years old. Whew! Thé number is really gives me an ooozzz feeling.
Like my prayer last night, 33 is twin number. Twin means double.. number that expect me to do two times better, two times wiser, two times mature, two times responsible, two times effort.
They said numbers doesn’t matter. They say being older doesn’t mean you getting better.. Or wiser. Yes, I agree. Those things doesn’t come when you’re getting older, it earns from life experience and how each person learn from it.
But number –in this case is matter of age number– is a reminder that you’re not getting younger.. And you hâve to live it every moments of your life with best effort bécause time never repeat.
Back to 33.
I won’t make it too burden for me
Maybe it’s won’t only the hard parts. But i hope it cômes also thé happy parts.
Double happy
Double success
Double income (?) — halleluyaa Ameen! 😀
So, I whispered to myself “Happy Birthday dearest Me”
*puk-puk bahu sendiri*
“Be Strong, Be Happy, and always hâve Faith and true heart”.
Today (27th of October) is going to be mémorable .
28 Oct 2014
and..turn out that day indeed memorable.
Thank You God for your blessed and giving me good life, good families, good friends around me all those years.
You know what I mean
It’s like walking in the heat all day with no water
It’s like waiting for a friend
Watching everybody else meet theirs on that corner
Or losing in an argument
Although you’re right, can’t get your thoughts in order
Still I refrain
From talking at you, talking on
You know me well
I don’t explain
But what the hell
Why do you think I come ’round here on my free will?
Wasting all my precious time
Oh, the truth spills out
And oooooo oh I’ve
I’ve told you now
You know what I mean
Although I try my best, I still let down the team
You’re everything I want,
Why should I resist when you are there for me?
Should I refrain
From talking at you, talking on
You know me well
I don’t explain
But what the hell
Why do you think I come ’round here on my free will?
Wasting all my precious time
Oh the truth spills out
And oooooo oh I’ve
I’ve told you now