Saya memutuskan untuk diet media sosial ‘Path’.  Kenapa Path? Kenapa bukan instagram? atau twitter? atau FB? Dulu saya merasa Path adalah salah satu solitude channel dimana saya bisa sharing ada apa dalam hidup saya dan mengetahui apa yang terjadi dengan teman-teman saya.  Bangun tidur, lihat Path. Mau tidur, cek Path. Sedang nunggu meeting, cek Path. Atau lagi boring di miting pun buka Path. Namun, belakangan saya merasa, update status di Path jadi beban, baik untuk sharing status atau pun melihat sharing teman-teman. Path jadi tempat pencitraan di mata saya. Tapi bukankah semua media sosial begitu? Iya sih..  meski ada circle friends, bukan berarti saya berhenti melihatnya sebagai pencitraan. TENANG! Bukan berarti teman-teman semua yang ada dalam friends Path saya seperti[…]