One Moment Like This

What do you think about ‘birthday’ ? Well, there is three answers to answer that. One can say;”Yeay! It’s my birthday…I’m feeling special, extra happy, many present, many attention to me..yada..yada..yada..yada..”. And one can say, “Yeah..damn! You remind me that i’m old. But thanks. At least on my birthday, I allowed to do ‘anything’. And others can say ; “Ouh? Is this my birthday? Naayy, i don’t feel any special. It’s just like any other day”.

For  me, I am the person number one. Any birthdays i found it special. It’s the day you were born. It’s special. It’s the proof you’re exist in this world. Special means it’s not about the present or the celebration, but for me, when people say ‘Happy Birthday’ to me, it sounds like ‘Hey, you’re born, that mean you’re wanted. You’re special’. Think about unborn baby or a mom that ‘kill’ her baby in abortion.

Well, anyway, what i want to tell is this year become more special. I feel so blessed. It’s not just ‘Birthday wishes’ but surprised that came to me when i wasn’t expected. I just feel loved more and blessed more on that day. The day I was reminded back that i have people who love and care for me around me. Never forget that day. When he suddenly give surprised. It’s not the present, but the intention that surprised me more than i expected. Especially when i know what he think about ‘birthday’.  That day, i want a day is 48 hours so i can stay in that moment longer. 🙂 – Thank you God! I am so Blessed 🙂

love the moment 🙂

Confuse titik

Like the title from this post. I am confuse. Like a child who must choose between ice cream strawberry flavor or chocolate flavor. Like a girl who in first day to school, must choose between wearing pink dress  or blur dress. Like a birthday boy who must choose between bicycle or video game. Like teenage girl who must choose between go to prom night with school heartthrob or company best friend in hospital. Like a fresh graduate who must choose between work in thing she like or work in she is high paid.

People said follow your heart, but others said don’t lose your head. But what if that choice also blur for me? What if, I also don’t know what my heart wants or neither my head wants. I want use more heart, but head interfere when things don’t look like heart expected. Want to use more head, but i don’t have heart to be ignorance.

I feel floating in open sea, and there’s nothing I can use as my anchor. Just floating, waiting someone rescue me from this uncertainty. Waiting someone that can give me an anchor. Or… waiting some direction that i can swim to.

Ironically, as in right now, the radio is playing ‘Listen your heart’ by Roxette.

Along came ‘Thee’

“J’ai message pour toi….”  *text alarm*

“Honesty, after take you home, I really really like you. I don’t know when or how, but I can’t keep this feeling anymore. I must be honest to you. And that’s it! I just said it. I hope you can take it nicely and not interpreted it wrongly. And I hope i can still see you..”

Shocked and confused, I read over and over again. Not forget to pinch my cheek, to check that this is not just my imagination. I am not dreaming, and yet still believe this message like sureal. How come it won’t otherwise. He is a football star in school, and here I am, just a geek that even not considered exist in this high school universe.

It is just a coincident that we meet in a comic con and I found out he like comic and all the stuff. And I don’t know how, we talked long time that day. I found out that he turn out like Star Wars and all super heroes. Hahaha.. who’s geek now? 🙂 Since then we like to hang out together secretly. In school, he acted like stranger to me, though from the way he looked at me, there’s a warm light that says lots of things.  And now, came this text message, and give me a heart attacked.

“What should I do?” I asked to my best friend, Sasha. As usual, Sasha gave me this wishy-woshy talk. Well, mostly I don’t understand what she’s talking about. “Well, do you like him or not?” suddenly she asked to me. I just starring at her – blank.  What’s my feeling for him? I never dare thinking that our time together is a sign that he like me nor more that friends nor I will put my self at risk to like him cause well, history is not written like that.  He, as the aplha male in this High school universe is in the top place in food chain, while moi, is at the bottom food chain. He is like eagle and i am the rabbit.

But Sasha, she is an anomaly. She is like model but dunno why, she’s hang out with me. And she is a best friend I have, more than other geeks I am friend with. When she asked me that, I really dunno.  But it will so easy to fall in for him. Douuhh… then again what should I do?  “Follow your heart and be your self” she said. Ha! So easy she said. But I listened what she said.

So here we are, walking to school, hand in hand with thousand eyes starring at us. I try to back away, but he won’t let go my hand. “It’s okay, I am here” he said.   I follow  him walking in school yard with sweat and heart pounding hard.

Suddenly , a soft breeze wind blows and autumn is coming. My favorite season is here. I look at him, and he turns to me and smiling warm. And that moment I know, we are gonna be alright.

Kapan Kawin? Sekelumit Opini (part II)

source: gettyimages

“Jadi, elo dijodohin gitu sama emak elo?” Aga berbicara sambil melahap bakpao babi asin di depan gereja setelah mendengar ceritaku. “Yaa…asumsi gue sih begitu. Tapi sampai hari ini, yang namanya Bagas itu pun gak nongol-nongol depan gue,” jawabku sambil melirik sepasang muda mudi yang terlihat bergandeng mesra. “Eh, liat deh, Rachel sekarang sama James yaa..?” tanyaku. Aga yang sedang mengunyah bakpaonya mendengus sambil memutar bola matanya.

“Plis deh Cil, elo kemana aja sih? Mereka kan emang udah lama banget pacarannya. Ih elo tuh amnesia ya? Kan elo juga yang kasih tahu gue!” Aku hanya mencengir lebar sambil menggaruk-garuk kepala. Memang tidak sopan sih jika sehabis perayaan ekaristi, kami justru ‘siaran infotainment’. Tapi pembicaraan siapa dengan siapa sekarang sudah seperti makanan sehari-hari aku dengan Aga yang menjadi pengamat kehidupan muda mudi di gereja kami

“Eh, masa sih? Oia ya..aduh bego amat sih gue. Mulai pikun rupanya,” ujarku sambil mengetuk-ngetuk kepalanya berharap dengan begitu otakku agak sedikit lebih ‘encer’. Sepertinya sudah saatnya aku mengonsumsi ginko giloba, suplemen penguat memori.

“Tapi ngomong-ngomong pacaran, elo sama Andri’kan udah lama ya Ga, so, kapan…” Aga langsung membuat isyarat time out dengan kedua tangannya yang telah bebas dari bakpao.

Time out! Jangan sampai elo menanyakan pertanyaan sama yang elo selalu keluhkan ke gue ya Cil,” Aga sewot sambil cemberut.

“Hahaha…..upps! Gue lupa! Bener deh Ga. Jangan sampai deh gue jadi seperti Tante Bagio yang rumpi itu,” ujarku sambil cekikikan. Namun pertanyaan ‘kapan kawin’ sangat menggoda untuk tidak ditanyakan kepada pasangan yang dirasa telah menjalin hubungan cukup lama. Perumpamaannya ibarat,kamu lagi makan, pasti ada saja orang yang bertanya:”Makan apa?”

“Ga, gue mau rapat KKMK nih ntar jam 10.00, jangan pulang dulu dong! Temenin gue sampai rapat mulai yaa…”ujarku meminta Aga menunda pulangnya.

“Andri nunggu gue nih di parkiran..bagaimana Cil?”

“Yee….telpon dong, suruh nunggu kek sebentar. Setengah jam doang. Anak-anak yang lain soalnya juga lagi pada pulang dulu,” ujarku memberikan beberapa penjelasan logis. Agatha, sahabatku akhirnya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Andri. Setelah ada sedikit perbincangan sambil ketawa-ketiwi, Aga menutup ponselnya dan kembali duduk bersamaku di tangga depan gereja.

“Bagaimana?” tanyaku. “Iyaa…you win! Lagian Andri sebenarnya mau ke bengkel. Daripada gue bengong trus digodaain sama orang bengkel, mending gue di sini nemenin elo,” ujar Aga lagi sambil tersenyum manis dan memberi tatapan i-am-your-best-friend-and-you-owe-me!.

Aku sangat salut sama sahabatku satu ini. Jujur, aku tidak tahu apa yang membuat dia dan Andri tidak kunjung meresmikan hubungan mereka dalam ikatan suci pernikahan.Mereka telah menjalin hubungan cukup lama dan sepertinya sudah sangat mengenal satu sama lain. Aga sendiri sudah bekerja dan cukup mapan begitu juga dengan Andri. Dengan gajinya sebagai manager, seharusnya mereka sudah bisa mengumpulkan uang untuk biaya menikah. Selain itu, orang tua mereka berdua terlihat sudah cocok dan mau ‘berperan serta’ jika mereka memutuskan untuk menikah. Bagiku mereka adalah perfect couple. Cinta, pengertian, saling menghargai, dan menerima apa adanya antara satu dengan yang lain. Tapi, itupun tidak membuat Aga dan Andri segera menikah.

“Ga,…jangan marah dulu. Sebenarnya apa yang membuat elo tidak kunjung menikah dengan Andri?” tanyaku penasaran. Halaman gereja sudah kosong. Beberapa orang yang biasanya mengumpul dan saling bertegur sapa telah pulang dan melanjutkan aktivitas mereka.

“Emang nikah itu seperti pesan nasi goreng delivery order?” tanya Aga retoris. “Maksud elo?”

“Ya,maksud gue, menikah itu gak gampang tau Cil. Mentang-mentang kita cinta sama pasangan kita, semudah itu kita memutuskan menikah dengannya? Gue cinta sama tinkerbell, anjing gue, tapi bukan berarti gue nikah sama dia’kan?” jawab Aga asal.

“Yee, elo gimana sih? Masa rasa cinta ke Andri disamain ke Tinkerbell? Kasian amat Andri…”

“Hehehe….becanda tau! But, basically menikah itu gak semudah itu deh.”

“Gak mudah bagaimana? Elo kan tinggal mengkangkang aja…beres’kan?!” jawabku juga asal. Alhasil, Aga justru menoyor kepalaku karena jawabanku yang vulgar.

“Elo ngaco banget sih!Menikah neng…bukan kawin,”  Aku hanya senyum lebar. Namun, beberapa menit kemudian kami berdua saling terdiam. Kami membaca warta paroki bagian berita perkawinan.

“Kenapa disini ngomongnya berita perkawinan? Bukan berita pernikahan? Hayooo….?” tanyaku menantang. Aga dengan konyolnya juga mengiyakan karena ia sama bingungnya.

“Gak usah dibahas deh! Elo suka nanya aneh-aneh,”Aga kembali mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan singkat kepada Andri.

“Eh, eh, kemarin kata nyokap, pengeluaran biaya pernikahan Aline itu sampai 70 juta-an lho!” ujarku sambil membuka topik tentang pernikahan salah satu teman kami yang belum lama menikah. “Ya iyalah…, secara ia ngerayain pesta di gereja juga, di gedung juga. Selain itu, ia kasih seragam dari panitia, koor dan sahabat-sahabat terdekatnya,”kata Aga sambil menopang dagu. Aku dan Aga langsung berkhayal apakah kami akan memiliki pohon uang yang bisa memberikan uang sebanyak itu.

“Itu duit semua tuh?”tanyaku bodoh.

”Bukan, daun! Ya iyalah Cil…masa sih bayar pengeluaran resepsi pakai daun nangka?! Kalau bisa sih, gue udah nikah dari kapan tahu, secara pohon nangka di kebun gue lagi rimbun-rimbunnya.”

“Mahal bener ya biaya pernikahan itu. Gilaa….apa lagi kalo gue pake adat istiadat jawa yang ada siraman, widodareni, jualan cendol, puiiihhh….gila mo kawin aja ribet bener,”ujarku sambil mengingat repotnya pernikahan sepupuku setahun lalu. Aga hanya terdiam. “Kalau gue menikah nanti, pokoknya gak ada tuh acara begituan apalagi resepsi. Pokoknya abis pemberkatan di gereja, ntar semua orang gue kasih nasi kotak aja, biar ngirit,” ujarku lagi.

‘Hahahahaha……mana bisa begitu?! Nih gue kasih tahu, even cuma pemberkataan di gereja, elu tetep kudu musti mengeluarkan uang dan tetep bow! Jutaan,” jawab Aga sambil tetap cengengesan.

“Hah!?Buat apaan aja emangnya?,” “Oke, nih ntar kalau elo lagi bener-bener bengong di rumah, elo coba deh itung-itung kasar. Ini pengeluaran di gereja aja ya karena elu bilang  gak mau ada resepsi,” kata Aga sambil mengeluarkan kertas corat-coret. Aga kemudian memulai perinciannya.

“Mulai deh dari sewa gereja. Kalaupun gerejanya gratis, emang elo gak bayar listrik? Belum lagi kalo elo pilih gereja yang ber-AC, tambah mahal’kan?!”

“Oke, gereja, listrik dan soundsystem,” ujarku sambil menulis.

“Lanjut ya, emang elo gak kasih fee buat yang bersih-bersih gereja? Putra altar? Trus koornya bagaimana? Kalau elo gak mau ibu-ibu yang nyanyi, kan musti manggil wedding singer choir yang professional.

“Terus,tuh gereja memang gak dihias bunga?,”tanya Aga retoris. Aku kembali menulis, bunga, fee kebersihan, koster, putra altar, paduan suara.

“Pake koor lingkungan aja biar murah. Mereka kita kasih seragam aja sebagai tanda terima kasih,” aku memberi alternatif.

“Justru lebih mahal tau! Emang elo gak kasih duit buat jahitnya? Terus, tuh ibu-ibu dan bapak-bapak masa gak dikasih makan?,” tanya Aga lagi. Aku menambah lagi item konsumsi di daftarku.

“Jangan lupa tamu memang gak di kasih souvenir? Kan elo gak ada resepsi,” Aga menambahkan item baru di daftarku. “Tuh, cuma segini kok,” ujarku sambil memperkirakan biaya total kira-kira.

Aga merebut list-ku dan menambah beberapa item lagi. “Emang perlu apa lagi sih? Kan udah semua?”

“Nih ya, emang elu mo pake daster dan kunciran doang kalau mo married? Kebaya, make up belum elo masukin, belum lagi seragam buat dua keluarga, terus elo sama calon suami emang mau naek angkot ke gereja-nya? Pasti sewa mobillah, nah coba udah berapa pengeluarannya. Belum lagi dokumentasi, supir dan keamanan,dan….” suara Aga seperti menggaung ditelingaku. Aku menambah semua item-item yang belum kumasukkan ke dalam daftar kasarku.Setelah kulihat, aku hanya menaikan alisku satu dan bersiul nyaring.

“Gilaaa, mahal ya bow! Gue gak pernah mikir sampai sedetail ini,” ujarku sambil garuk-garuk kepala. “Kalau begini repotnya, kayanya saudara kita yang muslim jauh lebih beruntungnya ya Ga. Cuma bayar mesjid, dan penghulu aja jadi deh suami istri,” celetukku. “Hehehe…iya yah.Hmm..mending elo ikutin jejaknya Anna Nicole Smith[1] tuh. Hihihi..elu cuma perlu bawa diri doang, trus tinggal nunggu warisan beres deh!,”balas Aga lebih asal. “Hahahahahahahahaha…..gilaaa!” aku menoyor kepala Aga pelan, tapi kemudian kami tertawa bersama. Pembicaraan kami tentang kawin, nikah, dan hal-hal seperti itu memang menjadi obrolan menarik yang tidak pernah selesai dibahas. Meski diskusi kami tidak pernah tuntas atau mendapatkan solusi, kami tidak peduli. Sebagai fun fearless female yang sudah memasuki umur seperempat abad, kami hanya menjalani apa yang hidup berikan pada kami sebaik-baiknya dan melakukan apa yang kami inginkan.Lainnya, terserah Anda! J (St.)


[1] Artis AS yang menikahi seorang milyuner AS 65 tahun lebih tua darinya. Banyak perdebatan, ia menikah karena mengicar harta saja. Anna Nicole Smith meninggal karena over dosis tahun lalu.

Kapan Kawin? Sekelumit Opini (part I)

source: gettyimages

“Hah?! Dijodohkan??”tanyaku dengan nada setengah oktaf lebih tinggi. Di era digital dan super hitec ini aku masih heran masih ada saja sistem Siti Nurbaya-Datuk Maringgih. Hebatnya, keduaorangtuaku’lah yang menganut sistem ‘Siti Nurbaya’ ini.

“Iya nduk..putranya Bu Sastro itu S2 lho dari ITB. Sudah bekerja dan bibit, bobot, bebetnya jelas,” jawab ibu dengan sedikit promosi. Aku hanya memutar bola mataku yang diartikan I don’t care.

Sebenarnya mungkin dan sangat jauh di dalam benak orangtuaku, mereka bukan penganut sistem “Siti Nurbaya-Datuk Maringgih”. Ini semua berawal dari sebuah resepsi pernikahan anak salah satu teman dari ibuku. Ibuku perempuan yang cukup aktif baik di lingkungan masyarakat dan gereja. Karena itu ketika ia mendapat undangan, beliau sebisa mungkin mengajak anak-anaknya. Untuk masalah ini, kakakku entah kenapa selalu bisa menghilang. Alhasil, aku sebagai anak perempuan beliau satu-satunya, aku harus kudu musti wajib ikut.  Apa boleh buat. Lumayan’lah makan gratis, pikirku setelah menimbang-nimbang. Tapi sepertinya datang ke resepsi itu adalah keputusan yang aku sesali kemudian karena buntutnya adalah masalah-masalah dan masalah.

Awalnya biasa saja, kami datang, bertemu beberapa teman-teman CS-an ibuku, menyalami mempelai pengantin dan menikmati hidangan prasmanan yang telah tersedia. Aku berencana untuk menikmati menu-menu makanan yang ada dengan khusyuk namun harapanku meleset. Tiba-tiba saat sedang makan kambing guling, sebuah tepukan halus menepuk pundakku.

“Ya ampuuun! Ini Cecile putrinya ibu Sudiro ya? Sudah jadi perawan yaa…”ujar sebuah ibu dengan perawakan besar dengan kebaya lengkap dengan sanggulnya. Aku otomatis menyengir ramah dengan harapan semoga kambing guling di mulutku tidak berontak keluar jika aku tersenyum lebar. Ibuku yang sedang berdiri di sebelahku langsung berhaha-hihi sambil mengobrol dengan bahasa jawa yang aku kurang mengerti. Aku sejenak berpikir, kenapa sih orang-orang menyebut perempuan yang telah tumbuh besar dengan kata “perawan”? Memang sewaktu kami masih muda tidak perawan begitu? Kenapa juga tidak disebut, “Sudah besar atau sudah dewasa” atau apalah..toh masih banyak kata-kata lain yang bisa digunakan. Oke! Sampai dimana kita tadi?

Setelah mengobrol ngalur ngidul, tiba-tiba Ibu Bagio, that’s her name by the way, melontarkan sebuah pertanyaan sangat cliché.

Kowe kapan nyusul nduk?” tanyanya dengan nada keibuan. Argghh…pertanyaan itu lagi-itu lagi. Terus terang aku mengeluh. Bukan karena tidak bisa menjawab, namun mengapa pertanyaan yang dilontarkan semua orang selalu sama: Kapan Kawin? Well, bagi mereka yang telah memilliki pasangan atau tunangan mungkin akan menjawab dengan enteng dan mudah. Masalahnya aku ini’kan single. Ehm, aku ralat, aku ini’kan fun fearless single female. Jadi pertanyaan mereka sangat menggelikan bagiku. Coba aku tanya, jika kalian tidak saling menahu tentang kabar masing-masing dan kemudian bertemu, apakah kalian langsung bertanya: Kapan punya anak?” tanpa tahu kalian ini sudah menikah atau belum. Nah, begitu juga dalam hal kasus ini. Mengapa pertanyaan “Kapan Kawin?” atau ‘Kapan menyusul?” itu selalu menjadi most frequent question to ask? Terlepas apakah kamu sedang berada di dalam situasi resepsi pernikahan atau tidak.Lagipula, apakah hidup harus melulu tentang menikah? Pasti masih banyak yang diinginkan orang selain menikah, misalnya: keliling dunia, bungee jumping, arung jeram, kursus merajut, ikut Indonesian Idol atau apa pun itu. Pastinya banyak yang ingin dilakukan dulu sebelum menikah. Benarkan?

Mengapa juga mereka tidak bertanya: “Kamu sudah bekerja belum?” atau “Kamu kemana saja tidak pernah kelihatan?” dan sederet pertanyaan yang bisa dilontarkan.

Menjawab pertanyaan Ibu Bagio, aku hanya menjawab pendek. Jawaban sama seperti orang-orang yang telah menanyakan pertanyaan itu lebih dulu.

“Secepatnya tante!Yang pasti Sabtu malam,” ujarku pendek. Ibu Bagio tentu saja langsung menyambut jawabanku itu dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan layaknya wartawan infotainment yang mendengar ada artis bercerai.

“Oh ya? Dapat orang mana Cil? Tanggal berapa? Tante diundang dong,” balasnya langsung merepet. Aku senyum-senyum sendiri saja. Jebakanku berhasil! Kataku dalam hati. Ibuku yang melihat ulahku hanya menggeleng-geleng.

“Cecile ini suka bercanda kok jeng! Dia masih lajang. Entahlah jeng,…rasanya Cecile emoh karo cah lanang. Aku mumet! Nek karepku, gek ndang gek nimang cucu,wes..” kata ibuku menimpali jawabanku. Aku melotot pada ibuku yang suka ceplas ceplos. Aduh, bagaimana sih ibu ini. Kok malah ada curhat colongan di sini. Alhasil aku hanya menyengir kering.

Namun, reaksi ibu Bagio yang dikenal cukup rumpi ini justru menunjukkan antusias. Terutama bagian saat ibu mengatakan aku masih lajang.

“Eh cil, kamu kenal Bagas gak?” tanyanya tiba-tiba. Aku menggeleng. Mana aku tahu. Aku saja baru mendengar namanya saat ini jawabku dalam hati.

“Si Bagas itu baru lulus S2 lho Cil di ITB. Masih lajang juga kaya kamu…” tuturnya menambahkan. Oke! Sepertinya aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Dan aku mulai tidak menyukainya. Sebaliknya ibuku justru bersemangat. “Oh…si Bagas yang kuliah tehnik di ITB itu. Sudah rampung studinya toh?” tanya ibuku.

“Sudah! Sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan minyak. Apa yaa namanya…Itu lho perusahaan asing dari Inggris,”katanya sambil berusaha mengingat “Itu lho nduk yang kantornya di TB Simatupang” ujarnya menambahkan.

“Ee..British Petroleum maksudnya tante?” jawabku. “Nah, itu dia! Susah banget mo ngomong. Gini deh kalo lidah wong ndeso,” balasnya dengan sedikit rasa bangga yang ditunjukkan. Aku tersenyum saja. Sebaiknya diam saja deh daripada cari masalah pikirku.

“Iya Cil, Bagas itu kerjaannya cuma kantor-rumah-kantor-rumah saja..lama-lama bisa kuper dia. Kamu ajaklah dia kenalan sama temen-temen gereja. Ajak aktif di kegiatan gereja biar gak di rumah terus,”ujar Ibu Bagio. Hahaha…tawaku dalam hati. Nice try tante! Aku bisa melihat bahwa kedua ibu ini sedang berusaha menjodohkan Bagas dengan aku.

“Mungkin dia memang senang di rumah tante, toh sudah lama sekali meninggalkan rumah! Wajar dong tan kalo ingin di rumah saja,” balasku.

“Iya memang. Tapi kalo kelamaan ya gak bagus. Gak kenal gadis nanti. Apalagi yang seiman,” Ibu Bagio tetap berusaha. Aku hanya berO-ria. Ibuku yang dari tadi dia langsung mengambil celah itu.

“Kamu ajak dia ikut KKMK saja Cil.. supaya kenal banyak orang,” usul ibuku yang sudah bisa kuprediksi. “Oke deh. Nanti kalau ada aktivitas di gereja, saya ajak deh Bagas,” ujarku mengalah. Bendera putih harus dikibarkan sekarang. Fun fearless female meski fearless pun harus tahu saatnya mundur. 2 lawan 1 gak mungkin bisa menang.

….. to be continue …..

Pria Masa Lalu

Membuka file lama di notebook ku dan menemukan beberapa tulisan ‘curhat’ yang aku tulis saat patah hati. Entah kenapa ya, patah hati kok membuat gue sangat kreatif.

Ketika baca, reaksiku adalah..wooow…wooww… ternyata aku cukup pathetic saat sedang mellow. Paraah.. mengingat belakangan aku melihat temanku yang sedang mengalami keruwetan dalam asmara, aku bisa bilang aku juga paraah kl bicara lagi patah hati. hahaha.. thanks god, curhatan itu tidak ku kirimkan ke orangnya. Karena bisa-bisa dia GR bukan main.

Lucu banget sih kl dibaca yaa…soalnya aku melakukan semua yang aku nasehatkan kepada temenku yang tidak boleh dilakukaan. Pada intinya, sepertinya diriku saat itu bener2 buta sama cinta atau lust? atau hanya kesepian? hell..

Benar-benar geli sendiri.. tapi sekarang aku bisa menjawab dari segala curhatan pathetic aku itu.. yup! Aku ternyata kuat! Aku bisa kembali pulih, ceria dan bahkan sudah mengenyahkan dia selamanya dari hidupku. Lho..yup! karena orang itu pernah menghubungi aku lagi setelah berapa tahun itu menghilang. Tentu saja aku jawab seadanya dan aku kasih tekanan bahwa aku bukan cewek yang sama dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama 2 kali.

Dan, 3 kali telpon, 2 kali aku jawab, dia tidak pernah menghubungi aku lagi… well done! Biarkan laki-laki itu sadar bahwa aku bisa bangkit dari rasa sakit hati, dan aku sudah belajar dari kesalahan. Yup! He’s not worth it and i knew now, ill get a great man for my self, greater than him.

Ini jadi pembelajaran buat aku juga, bahwa apapun kekecewaan yang aku alami, ternyata aku bisa bangkit dan kembali ceria dan bahagia. Terima Kasih Tuhan!

Found My McDreamy.. He's a Doughnout! (It's not final verdict yet..)

He’s My McDreamy..

Belakangan, i found my new real crush, seperti kecengan baru lah. Yup! Dia sebenarnya temannya teman gw yang memang baru dikenalin belum lama ini.  Well, it’s kinda proses ‘mak comblang’ tersirat yang dilakukan teman gw. Awalnya memang gw agak males dengan ‘kenalan-kenalan’ seperti ini, tapi hell.. what i got to lose for. So yes.. i took the offer.

And turned out, he’s well good looking guy. 🙂 sempat ragu, saat mendengar umurnya yang sudah mencapai pertengahan 30-an. Yah.. secara cowok-cowok jaman sekarang, umur segitu sudah bergaya seperti bapak2 jika mereka bekerja kantoran (kecuali kl mereka kerja di bidang industri kreatif). Tapi dugaan gw memang 180 % salah.

Tak ada tanda-tanda yang terlihat bahwa dia sudah berumur matang. Gayanya yang sangat kasual ternyata membuat dia tidak lebih muda dari gw yang memang masih 20-an. Hehe.. i admitted he’s cool. Belum lagi, dari penampilan fisiknya, .. kulit putih, badan well built  tegap dengan six pack (gw rasa dia punya six pack) dan sebuah tato yang keren, hihi.. he’s totally a mcdreamy …

Lalu, ada apa dengan DONAT?

Gw pernah membaca sebuah buku, pengarangnya menceritakan bahwa ada dua tipe laki-laki. Donat dan Muffin. DONAT, adalah tipe laki-laki yang memiliki penampilan fisik OK, laki-laki yang membuat kamu ngiler, laki-laki yang bisa membuat cewek-cewek saying “Awwww…. i wishh..” seperti penampilan di DONAT sendiri dengan toping yang sangat menggugah selera. Sedangkan MUFFIN adalah tipe laki-laki ‘boys next door’ . Mereka tidak terlalu mencolok secara penampilan fisik, tapi mereka memiliki kepribadian yang menarik dan tidak membosankan.

Laki-laki tipe DONAT hanya enak dinikmati dalam periode tertentu, you know.. hanya jangka pendek semata. Seperti kue DONAT sendiri yang memang hanya dinikmati hari itu. DONAT yang sudah ‘nginep’ 2 hari atau lebih mana enak, ya kan?! Nah, sebaliknya, MUFFIN justru enak jika didiamkan lebih lama. MUFFIN meski penampilannya terlihat biasa saja, namun memiliki rasa yang legit dan lebih enak karena flavour yang sudah bercampur dengan adonannya. Begitu juga laki-laki tipe MUFFIN ini.

Hanya saja, kadang kita lebih menginginkan DONAT, karena memang DONAT lebih menggiurkan, dan menggoda. Siapa sih yang tidak tergoda dengan DONAT yang beraneka rasa, apalagi ditaburi toping seperti keju, gula-gula, kacang dsb.

Well, cowok yang gw kenal ini memang seorang ‘Mcdreamy’, membuat ngiler gw deh pokoknya, dan saat ini sih gw pikir dia adalah DONAT. Hmm… tapi kemudian timbul pertanyan, apakah DONAT bisa menjadi MUFFIN? agak susah sih… tapi hei kemungkinan itu kan selalu ada, ya kan?!

Hhihihi.. gw ga keberatan kok makan DONAT terus, toh gw sedang tidak diet ini.. hahahaha..

Case of Identity

Seorang sahabat bercerita kepadaku tentang pemikirannya. Dia beranggapan bahwa tidak enak jadi orang yang biasa-biasa aja. Karena you’ll easy to forget, menurutnya. Sahabatku bercerita betapa penampilan sangat penting. As matter of fact, looks for us – girls, very important. Seperti pernyataan2 yang dalam sebuah buku ‘Beauty Case’. It said”Beauty is power” and “The most eligible man gets the most beautiful woman”. Apakah memang seperti itu?

Sahabatku mengeluh bahwa selama 3 tahun ia bekerja, tidak ada satu orang laki-laki (kecuali pacarnya) di kantornya melihat dia sebagai perempuan yang perlu dipujia . Menurutnya, eksistensi dia sebagai perempuan bahkan tidak dianggap oleh kaum laki-laki di kantornya, which is dari bos sampai office boy. Dia mengeluh pada anak baru, seorang resepsionis baru yang sering digodain cowok-cowok di kantornya. Aku mendengarnya agak tergelak sendiri.

Bukankah sebagian besar perempuan paling males kalo harus berurusan dengan rayuan gombal laki-laki? apalagi jika sekedar iseng? well, ternyata sahabatku ini melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Menurut dia, itu berarti adanya pengakuan dari laki-laki bahwa resepsionis itu terbilang cantik (padahal sahabatku sudah 3 tahun lebih dan tidak pernah satu laki-laki menggoda dia). Meski aku sudah menghiburnya bahwa gak ada gunanya menjadi bahan godaan cowok2 atau mengatakan padanya bahwa dengan tidak menggoda dia, berarti dia disegani oleh orang2 di kantornya, tidak juga membuat sahabatku puas. Ia merasa statusnya sebagai perempuan tidak dilihat. Bahkan dengan rekan2 yang selevel dengan dirinya. Lucu yaa….

Tapi aku jadi berpikir dalam sudut pandangnya. Menjadi sosok yang biasa-biasa saja memang mudah dilupakan. Jika digambarkan dalam sebuah chart, bagian “biasa-biasa/avarage” pasti lebih besar. Kemudian aku menjadi penasaran, dan akhirnya aku bertanya kepada seorang laki-laki yang cukup mewakili kaum Adam. Aku bertanya padanya, begini:

“Kalau kamu tidak kenal aku, dan melihat aku di sebuah mall, apakah kamu akan menolehkan kepala dan menganggap aku menarik?” tanyaku. And guess what, apa jawabannya:”Enggak…”. Aku kekeh untuk meyakinkan diriku. “Menurutmu, aku menarik tidak?” dan dia menjawab:”Biasa..” . Aku agak sedikit terkejut ketika mendengarnya…karena laki-laki yang telah mengisi hatiku satu tahun terakhir itu ternyata tidak menganggapku menarik sama sekali.

Well, kemudian dia penasaran kenapa aku bertanya sperti itu. Akhirnya aku mengungkapkan apa yang sahabatku keluhkan, dan setelah mendengar dari jawabannya, aku setuju dengan sahabatku. Menjadi sosok yang biasa saja itu mudah pasti mudah dilupakan. Jika aku tidak bisa menjadi cantik, lebih baik jelek sekalian seperti Tukul. Pastinya akab membuat orang menoleh pada kita, dan pastinya membuat kita dikenali dan orang2 menjadi aware.

Mendengar penuturanku, dia terkekeh dan tertawa. Menurutku, aku konyol dan stupid. Menurutnya yang penting adalah kepribadian dan attitude orang tersebut. Apakah dia baik, jujur, mandiri, cerdas, rajin dll. Dia kemudian dia mulai menasehatiku tentang inner beauty. Okelah, dia berpikir begitu.

Tapi aku masih memikirkan yang dikatakan sahabatku. Secara laki-laki itu adalah mahluk visual, mereka lebih mempercayai apa yang mereka lihat dulu. Who will talk about inner beauty ini first meet, right? Terus terang, setiap laki-laki pasti menginginkan melihat perempuan cantik dibanding melihat sosok biasa saja. Atau mungkin mereka lebih ingin melihat sosok jelek, setidaknya menimbulkan keiingintahuan. Terus, bagaimana dengan kita-kita yang hanya menjadi sosok yang biasa-biasa saja. Jika tidak ada satupun yang menarik dilihat, bagaimana kami bisa memberitahu kalau kami memiliki special inside? Do the guys have x ray? Not really…