source: gettyimages

“Hah?! Dijodohkan??”tanyaku dengan nada setengah oktaf lebih tinggi. Di era digital dan super hitec ini aku masih heran masih ada saja sistem Siti Nurbaya-Datuk Maringgih. Hebatnya, keduaorangtuaku’lah yang menganut sistem ‘Siti Nurbaya’ ini.

“Iya nduk..putranya Bu Sastro itu S2 lho dari ITB. Sudah bekerja dan bibit, bobot, bebetnya jelas,” jawab ibu dengan sedikit promosi. Aku hanya memutar bola mataku yang diartikan I don’t care.

Sebenarnya mungkin dan sangat jauh di dalam benak orangtuaku, mereka bukan penganut sistem “Siti Nurbaya-Datuk Maringgih”. Ini semua berawal dari sebuah resepsi pernikahan anak salah satu teman dari ibuku. Ibuku perempuan yang cukup aktif baik di lingkungan masyarakat dan gereja. Karena itu ketika ia mendapat undangan, beliau sebisa mungkin mengajak anak-anaknya. Untuk masalah ini, kakakku entah kenapa selalu bisa menghilang. Alhasil, aku sebagai anak perempuan beliau satu-satunya, aku harus kudu musti wajib ikut.  Apa boleh buat. Lumayan’lah makan gratis, pikirku setelah menimbang-nimbang. Tapi sepertinya datang ke resepsi itu adalah keputusan yang aku sesali kemudian karena buntutnya adalah masalah-masalah dan masalah.

Awalnya biasa saja, kami datang, bertemu beberapa teman-teman CS-an ibuku, menyalami mempelai pengantin dan menikmati hidangan prasmanan yang telah tersedia. Aku berencana untuk menikmati menu-menu makanan yang ada dengan khusyuk namun harapanku meleset. Tiba-tiba saat sedang makan kambing guling, sebuah tepukan halus menepuk pundakku.

“Ya ampuuun! Ini Cecile putrinya ibu Sudiro ya? Sudah jadi perawan yaa…”ujar sebuah ibu dengan perawakan besar dengan kebaya lengkap dengan sanggulnya. Aku otomatis menyengir ramah dengan harapan semoga kambing guling di mulutku tidak berontak keluar jika aku tersenyum lebar. Ibuku yang sedang berdiri di sebelahku langsung berhaha-hihi sambil mengobrol dengan bahasa jawa yang aku kurang mengerti. Aku sejenak berpikir, kenapa sih orang-orang menyebut perempuan yang telah tumbuh besar dengan kata “perawan”? Memang sewaktu kami masih muda tidak perawan begitu? Kenapa juga tidak disebut, “Sudah besar atau sudah dewasa” atau apalah..toh masih banyak kata-kata lain yang bisa digunakan. Oke! Sampai dimana kita tadi?

Setelah mengobrol ngalur ngidul, tiba-tiba Ibu Bagio, that’s her name by the way, melontarkan sebuah pertanyaan sangat cliché.

Kowe kapan nyusul nduk?” tanyanya dengan nada keibuan. Argghh…pertanyaan itu lagi-itu lagi. Terus terang aku mengeluh. Bukan karena tidak bisa menjawab, namun mengapa pertanyaan yang dilontarkan semua orang selalu sama: Kapan Kawin? Well, bagi mereka yang telah memilliki pasangan atau tunangan mungkin akan menjawab dengan enteng dan mudah. Masalahnya aku ini’kan single. Ehm, aku ralat, aku ini’kan fun fearless single female. Jadi pertanyaan mereka sangat menggelikan bagiku. Coba aku tanya, jika kalian tidak saling menahu tentang kabar masing-masing dan kemudian bertemu, apakah kalian langsung bertanya: Kapan punya anak?” tanpa tahu kalian ini sudah menikah atau belum. Nah, begitu juga dalam hal kasus ini. Mengapa pertanyaan “Kapan Kawin?” atau ‘Kapan menyusul?” itu selalu menjadi most frequent question to ask? Terlepas apakah kamu sedang berada di dalam situasi resepsi pernikahan atau tidak.Lagipula, apakah hidup harus melulu tentang menikah? Pasti masih banyak yang diinginkan orang selain menikah, misalnya: keliling dunia, bungee jumping, arung jeram, kursus merajut, ikut Indonesian Idol atau apa pun itu. Pastinya banyak yang ingin dilakukan dulu sebelum menikah. Benarkan?

Mengapa juga mereka tidak bertanya: “Kamu sudah bekerja belum?” atau “Kamu kemana saja tidak pernah kelihatan?” dan sederet pertanyaan yang bisa dilontarkan.

Menjawab pertanyaan Ibu Bagio, aku hanya menjawab pendek. Jawaban sama seperti orang-orang yang telah menanyakan pertanyaan itu lebih dulu.

“Secepatnya tante!Yang pasti Sabtu malam,” ujarku pendek. Ibu Bagio tentu saja langsung menyambut jawabanku itu dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan layaknya wartawan infotainment yang mendengar ada artis bercerai.

“Oh ya? Dapat orang mana Cil? Tanggal berapa? Tante diundang dong,” balasnya langsung merepet. Aku senyum-senyum sendiri saja. Jebakanku berhasil! Kataku dalam hati. Ibuku yang melihat ulahku hanya menggeleng-geleng.

“Cecile ini suka bercanda kok jeng! Dia masih lajang. Entahlah jeng,…rasanya Cecile emoh karo cah lanang. Aku mumet! Nek karepku, gek ndang gek nimang cucu,wes..” kata ibuku menimpali jawabanku. Aku melotot pada ibuku yang suka ceplas ceplos. Aduh, bagaimana sih ibu ini. Kok malah ada curhat colongan di sini. Alhasil aku hanya menyengir kering.

Namun, reaksi ibu Bagio yang dikenal cukup rumpi ini justru menunjukkan antusias. Terutama bagian saat ibu mengatakan aku masih lajang.

“Eh cil, kamu kenal Bagas gak?” tanyanya tiba-tiba. Aku menggeleng. Mana aku tahu. Aku saja baru mendengar namanya saat ini jawabku dalam hati.

“Si Bagas itu baru lulus S2 lho Cil di ITB. Masih lajang juga kaya kamu…” tuturnya menambahkan. Oke! Sepertinya aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Dan aku mulai tidak menyukainya. Sebaliknya ibuku justru bersemangat. “Oh…si Bagas yang kuliah tehnik di ITB itu. Sudah rampung studinya toh?” tanya ibuku.

“Sudah! Sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan minyak. Apa yaa namanya…Itu lho perusahaan asing dari Inggris,”katanya sambil berusaha mengingat “Itu lho nduk yang kantornya di TB Simatupang” ujarnya menambahkan.

“Ee..British Petroleum maksudnya tante?” jawabku. “Nah, itu dia! Susah banget mo ngomong. Gini deh kalo lidah wong ndeso,” balasnya dengan sedikit rasa bangga yang ditunjukkan. Aku tersenyum saja. Sebaiknya diam saja deh daripada cari masalah pikirku.

“Iya Cil, Bagas itu kerjaannya cuma kantor-rumah-kantor-rumah saja..lama-lama bisa kuper dia. Kamu ajaklah dia kenalan sama temen-temen gereja. Ajak aktif di kegiatan gereja biar gak di rumah terus,”ujar Ibu Bagio. Hahaha…tawaku dalam hati. Nice try tante! Aku bisa melihat bahwa kedua ibu ini sedang berusaha menjodohkan Bagas dengan aku.

“Mungkin dia memang senang di rumah tante, toh sudah lama sekali meninggalkan rumah! Wajar dong tan kalo ingin di rumah saja,” balasku.

“Iya memang. Tapi kalo kelamaan ya gak bagus. Gak kenal gadis nanti. Apalagi yang seiman,” Ibu Bagio tetap berusaha. Aku hanya berO-ria. Ibuku yang dari tadi dia langsung mengambil celah itu.

“Kamu ajak dia ikut KKMK saja Cil.. supaya kenal banyak orang,” usul ibuku yang sudah bisa kuprediksi. “Oke deh. Nanti kalau ada aktivitas di gereja, saya ajak deh Bagas,” ujarku mengalah. Bendera putih harus dikibarkan sekarang. Fun fearless female meski fearless pun harus tahu saatnya mundur. 2 lawan 1 gak mungkin bisa menang.

….. to be continue …..

Stefani A

A nerd and geeky in a way... but have passion in fashion too. A chameleon depends on mood..

Leave a Reply

%d bloggers like this: