anger

9L7rbiYcTxmNegwpTvihg-2642180695-1525864510948.jpg

Seperti judulnya, tulisan ini saya buat untuk menjelaskan apa yang saya rasakan. Bukan seperti marah dimana seseorang teriak-teriak penuh emosi kepada orang lain bukan juga seperti ibu yang ngomel-ngomel nyerocos tak henti kepada anaknya.

Tapi ini seperti rasa gatal yang saya tidak tahu dimana gatalnya tapi saya merasa sangat terganggu karenanya. Atau dimana kamu tidak merasa nyaman, sulit konsentrasi dan keinginan berjalan-jalan tanpa tujuan.

Rasa ini adalah karena terluka, merasakan ketidakadilan, merasa dititik dimana usaha dan upaya merasa sia-sia.  Rasa ini lebih membuat saya diam, lebih membuat saya lelah, lebih tidak ingin beropini karena saya tahu itu sepertinya sia-sia.

What is ‘anger’ ?

Anger or wrath is an intense emotional response usually involving agitation, malice, or retribution. It is an emotion that involves a strong uncomfortable and hostile response to a perceived provocation, hurt or threat.

Itu definisi Wikipedia.

Menurut William DeFoore, seorang penulis buku anger management menggambarkan amarah itu seperti pressure cooker. Seseorang hanya bisa menahan amarah untuk beberapa waktu sampai akhirnya itu semua meledak.

Ini bahaya karena begitu meledak, ini bisa berakibat kepada tindakan yang bisa merugikan diri sendiri. Bahaya karena juga bisa merugikan orang lain.

Dalam agama yang saya imani, saya mengetahui ada 7 deadly sins atau akar dosa. Disebut demikian karena dari 7 akar dosa ini sebab dari semua dosa-dosa manusia yang merugikan orang lain. Salah satu dari akar dosa itu adalah amarah (wrath).

Saya sendiri mencoba mencari sebab apa yang melatarbelakangi dari rasa ini. Selama di jalan, pikiran saya berkecamuk apa yang sebenarnya bikin rasa marah ini.

Dan..saya temukan sebabnya. ‘Anger’ ini tidak bisa begitu saja disembuhkan dengan sikap sabar, ataupun pasrah. Sejujurnya saya tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Sabar pun bukan karakter yang bisa saya banggakan.

Sekarang pertanyaan berikutnya: apa yang harus saya lakukan?

…. (to be continued)

 

 

 

 

on Bended Knee..

I walk into your house slowly

I know I must do it alone

I pray my heart don’t weary

I pray you wouldn’t hate me

 

I get down on my knee

Sit down and calm my heart

I know this time will be different than before

I pray for my weary heart

 

I come to you who sit in front of me

I tell you about my heart

I tell you about my loneliness

I tell you my weary heart

 

You’re keep silent

you’re listening attentively

and then… you open your eyes

lift your head, and said…

 

I see you.

I forgive you

I will still love you

Don’t hate yourself because you have heart

 

17:30 – 230318

New Resolution-Ku

Happy new year 2018! Well, this post is kind a too late but, it is still January tho. And I know, most of you haven’t thought about your new resolution for this year.

Or have you?

Ada seloroh yang selalu diucapkan tentang resolusi baru ini. “Resolusi gue tahun ini adalah sama dengan resolusi gw tahun lalu”. Haha, saya pun pernah berseloroh seperti itu. Bukan berarti kami (baca: saya) tidak mencapai apapun ya dengan mengulang resolusi. :p Hanya saja, resolusi awal tahun itu selalu berubah di tengah tahun, dan akhirnya saat akhir tahun mewujudkan yang lain.

Mr. Richard Bronson said you need to write down your new year resolution. Find anything. Your journal, blog, note, anything that you can see it – read it over and over, so you remember it until you breathe and live your year thinking about your resolution.  Last sentence is not from Mr. Richard Bronson, that’s just me being exaggerate. *peace

So, this year, I wrote down my resolution in my private journal. Ya, menulis resolusi itu penting. But you still need find the best ones you want to achieve this year. Saya orang yang BM alias Banyak Mau, jadi buat saya, memilih fokus resolusi itu PR paling utama. Keep it simple but clear. So steps to get your resolutions achieved is clear. Itu nasihat saya kepada diri sendiri.

Nah, ada kabar baik turun dari ‘langit’ yang membantu saya bisa meraih satu dari resolusi itu. God is Good.

Sekarang saya sudah menulis resolusi saya, sisanya, saya butuh komitmen dan niat untuk menjalaninya. Satu PR lain yang harus jadi resolusi sebenarnya. Komitmen. Haha tahun depan saja yah :p

The First 10K

Seminggu lalu, tepatnya 26 November, saya menyelesaikan race keempat saya dengan pencapaian jarak baru, yaitu 10K. Yeay…! Apakah saya senang? Damn right! And I don’t care if it was only 10K.

Race kali ini, saya sendiri. Lebih tepatnya, tanpa sepupu, atau teman sekantor (karena saya tidak ikut komunitas lari). Well, that’s okay, ketika lari, kita semua pun hanya berpegang pada diri sendiri.

Jarak baru ini terus terang agak buat saya kuatir. Saya belum pernah latihan sampai dengan jarak itu. Saya belum tau sejauh mana kaki saya bisa membawa saya tetap berlari. Di satu sisi, hujan yang turun setiap sore, benar-benar membuat malas saya menjadi-jadi. Betapa susah menyemangati diri untuk beranjak dari meja kerja dan berganti baju olahraga. Jika itu sudah bisa dilewati, betapa sulit memotivasi diri untuk berlari dan komit dengan set jarak yang sudah ditetapkan di awal.

Saya masih ingat, ada satu moment dimana, pada hari itu, setelah absen seminggu, saya harus lari sebagai bagian latihan untuk race. Hari yang sangat berat untuk latihan karena, pertama, hari itu dimana hujan turun di sore hari. Kedua, saya latihan sendiri. Pun, setelah saya berhasil lari, saya harus memotivasi diri untuk tetap komit dengan jarak latihan yang saya sudah buat. Saya berkali-kali mengatakan 1 putaran lagi.. 1 putaran lagi.. dan 1 putaran lagi, berulang-ulang sampai akhirnya saya merasa cukup. Dan akhirnya saya merasa puas karena tanpa terasa saya sudah menyelesaikan 7 km di hari itu.

Berbekal latihan seadanya, dan doa ibu tentunya dan tanpa musik melalui earphone, minggu pagi buta 26 November saya berangkat buat race. Lari tanpa musik di telinga ternyata cukup membuat saya fokus pada napas dan hitungan saya. Running app menginfokan kecepatan saya, dan hitungan dalam hati mengatur langkah saya setiap harus power walk untuk mengambil napas.

Apa yang dibenak saya ketika lari? Tidak ada.. di kepala saya hanya mengatakan bagaimana survive sampai kilometer berikutnya. Saya harus mencari target untuk memotivasi lari setiap kilometer nya. Target mendahului orang itu, target menyamai pace dengan orang ini. Ini berlangsung berganti-ganti sampai sampai saya melihat chip clock di ujung finish. Lalu, lari sekuat tenaga dengan fokus finish di depan mata.

Rasanya lega banget ternyata kaki-kaki ini masih kuat berdiri setelah menempuh 10K. Ada rasa puas di dalam diri, terutama saya bisa mendahului personal best saya sendiri. Saya tau 10K untuk banyak orang adalah level cemen. Mungkin ada yang menganggap ‘segitu aja bangga’. Saya pernah cerita ke teman saya di kantor, kadang saya tidak pede untuk post level lari saya di media sosial karena yaah.. itu masih cemen. Lalu teman saya hanya berkomentar “Kalau ada yang komentar meremehkan, berarti dia lari nya kurang jauh. Lari bukan soal result tapi proses menuju result itu.”

Bener juga sih. Saya pikir olahraga lari juga seperti yoga. Akhir yang diharapkan bukan bagaimana meraih best time or the fastest run or best pose, tapi proses mencapai ke akhir itu di setiap orangnya dan proses itu selalu berulang setiap kali mau memulai. Seperti saat ini, saya harus mengalahkan diri sendiri untuk bangun dari meja, stop blogging and start running. 😀 Well, gotta go. Gotta run 🙂

I made it to finish

 

We are OR

When there is A and B, it supposed to be AB

When there is A and B, it supposed to be right together

When A is no B, and B is no A, but AB is just right

But there are no U and I

 

When there is A or B, it was not supposed to be AB

When A is no B, and B is no A, but AB is just right

When A is only A, or B is only B, AB is not right

But there is U and there is I

 

When there is A and B, it can be AB

When there is A only, or B only, it could be AB

But that doesn’t mean there is U and I

Because there will never be ‘S’ in U and I

 

Fools,  said the logic. “You do not know,

emotions without me like a cancer grows

Hear my words that I might teach you

Take my arms that I might reach you”

 

 

But the logic like silent raindrops fell
And echoed in the hollow of my heart

 

November 19, 2017 ; 16:00

 

 

 

 

 

Another Year Pass

Bulan November. Hampir sebulan lewat sejak saya merayakan ulang tahun yang kesekian. 

Tahun ini tidak ada perayaan. Hanya travelling berdua bersama ibu ke rumah bulek dan om saya di Garut. Yang saya lakukan di sana, tidak ada yang spesial. Pergi dari Jakarta dan rutinitas, dan menikmati akhir pekan tanpa diganggu. 

Tidak ada hingar bingar, tidak ada keseruan yang berarti. Ucapan diberikan, lalu kami pergi berenang dan saya menraktir om dan bulek saya. Bahkan, ketika pulang, saya menyadari, tidak ada foto yang menjadi pengingat moment makan bersama kami dalam keheningan. 

Beberapa teman di kantor bertanya ada perayaan apa di Garut? dan kenapa tumben ke Garut? Actually, setelah saya pikir-pikir, tidak ada alasan logis khusus, yang saya rasakan adalah saya hanya ingin pergi dari Jakarta dan menghabiskan waktu bersama ibu. 

Di hari saya ulang tahun,  saya sadari bahwa umur saya sudah tidak muda. Saya pikir saya harus menjalani sebuah fase hidup baru. Apakah itu, saya belum tahu juga. Tapi ada hati kecil ini yang mengatakan, “Fani, kamu harus punya fase kehidupan baru”. 

Sekarang bulan November. Bulan depan sudah Desember. Sebuah kegusaran mulai tercipta. Iya, saya gelisah, karena dorongan hati kecil itu semakin kencang. Tapi saya bingung bagaimana menjawabnya. 

Ahh… saat hati bicara, kepala saya menjadi ragu.  Dan saya menjadi melodramatic malam ini.

Feedback & Critic

Sudah bukan hal yang aneh, jika saat hari besar keagamaan, kemudian ada libur lumayan lama, keluarga besar kemudian berkumpul. Kakek, nenek, bapak, ibu, pakde, bude, tante, om, sepupu-sepupu, keponakan sampai cucu dan cicit (jika memang ada) berkumpul, saling melepas rindu, tukar kabar sampai curhat-curhat yang perlu di-update ke beberapa saudara.

Pertemuan keluarga juga sering menjadi ajang the elders memberikan kritik dan masukan atas kehidupan yang saat ini dijalani oleh generasi muda. Kritik dan masukan akan hidup biasanya dimulai dari pertanyaan yang berhubungan dengan life cycle. Iya, definisi life cycle adalah urutan hidup yang umum dijalankan. Mulai dari sekolah – kuliah – kemana setelah kuliah? – kerja – kerja dimana? berapa lama? – menikah – sudah punya pasangan? Kapan menikah? Kapan nyusul? – memiliki anak – Udah ‘isi’ belum? Si kecil ga mau dikasih adek ? – dan begitu selanjutnya.

Selama beberapa banyak tahun sebelum tahun ini saat pertemuan keluarga, saya menjadi ‘generasi muda’ yang menjadi objek review dari pertanyaan klise di atas. Rasanya, seperti ‘amuba dalam sorotan mikroskop’. Gak bisa berdalih dan gak bisa kemana-mana juga. Jawaban sama setiap tahun tidak hanya membuat orang yang memberi pertanyaan bosan, saya pun bosan jawabnya. Tapi lagi-lagi, the elders merasa berkewajiban untuk tetap memberikan kritik dan masukkan yang menurut mereka terbaik buat saya tentunya dengan kacamata mereka.

Berbicara soal kritik dan masukan, bukan hal yang asing secara profesional buat saya.  Di level saat ini, saya mengerti feedbacks and critics are two different things.  Meski cara penyampaiannya bisa jadi sama, yang membedakan feedbacks dan critics adalah objektivitas yang tetap terjaga saat menyampaikan feedbacks. Kita tidak bisa terlibat secara emosi saat memberikan feedbacks dan tentunya harus disertai solusi sehingga orang yang diberikan feedbacks merasa di-support dan menjadi lebih baik.

Poin kunci yang mungkin harus diingat saat memberikan feedbacks adalah sikap pengertian dan tetap objektif terhadap masalah. Saya sendiri masih terus belajar untuk bisa memberikan feedbacks dan bukan kritik.

On that thought, realization just came to me kenapa kritikus makanan disebut ‘kritikus makanan’ or food critics. It just because all they writes are based on subjectivity. (Yes. Food critics doesn’t have to be chef  and you can’t write about food based on objectiveness).  Oh well… 

Tapi honestly, dulu saya tidak bisa membedakan antara kritik dan masukan. Saya pikir masukan adalah kritik; dengan rumus : critics = feedbacks. Kalau pun ada kritik yang tidak membangun, itu bukan kritik tapi memang ‘nyela’.

Awal saya bekerja, saya menerima semua kritik baik negatif dan positif dengan anggapan semua itu adalah masukan buat saya. Meski dengan cacian atau makian di depan karyawan lainnya, hanya karena itu berasal dari atasan. Well, maybe that’s a positive thing being GenX. We don’t have this ‘baper’ thing like millennials now. Tapi saya belajar, bahwa tidak semua orang bisa menerima tempaan mental seperti itu. Tidak semua orang bisa mengolah ‘lemon in life to become lemonade’.

Terus apa hubungannya dengan pertemuan keluarga besar? Ha!

Jadi beberapa tahun ini,  saya tidak lagi menjadi ‘amuba dalam sorotan mikroskop’, tapi salah satu subjek yang melakukan feedbacks and critics dengan pertanyaan klise di atas. What an irony.

‘Amuba dalam sorotan mikroskop’ baru itu adalah adik sepupu yang belakangan menjadi trending topic saat pertemuan keluarga. Seorang millenial dimana orangtuanya dan juga Pakde, Bude nya tidak mengerti apa yang harus dilakukan terhadapnya. Setiap ada pertemuan, topik pembicaraan selalu kembali kepadanya.

Lucunya, pengetahuan saya akan feedbacks dengan kunci ‘pengertian dan objective terhadap masalah’ sepertinya hilang kalau sudah membahas masalah adik sepupu ini. Feedback? Sepertinya setiap orang bahkan the elders yang biasanya sabar, saat dicurhatin oleh tante dan om alias orangtua si adik sepupu saya ini, tidak lagi melihat pokok masalah secara objektif karena sudah terbawa emosi.  Sehingga output yang keluar adalah kritik-kritik dan kritik. Selain kritik, sarkasme juga ikut serta. Yang mana fakta tersebut membawa saya pada tulisan ini.  When I knew better how people don’t give positive reaction in critics and become shut down to any feedbacks, what I did is criticize her. 

Saya tersadar bahwa meskipun dalam keluarga, sebuah masalah tetap masalah. I should put aside my emotion and be objective about the problem. Kemudian saya coba menerapkan beberapa langkah ini saat bertemu dengan adik sepupu saya ini. (kebetulan saya baca ini artikel ini yang ternyata merinci langkah-langkahnya lebih spesifik)

  1. Intention: What’s the intention of providing the feedback?
  2. Observation: Be very clear and describe what you observed.
  3. The impact: What was the impact on you, the work, the team or the individual.
  4. Discuss: Does the other person understand what you are saying? What is their reaction, their thoughts?
  5. Focus: Pinpoint solutions, obstacles or options available to correct the issue.
  6. Agree: The final piece is to identify clear next steps and when you will follow up.

Saya mencobanya dengan obrolan santai sehingga ia tidak akan merasa di review atau dihakimi sepihak. Memang tidak langsung keluar, tapi akhirnya adik sepupu saya sedikit membuka dirinya. Ia mulai bercerita sedikit dari yang biasanya diam. Saya tidak berharap dia langsung berubah. Yang penting dia mengerti apa yang saya bicarakan dan dia mengemukakan pikirannya terhadap apa yang saya bicarakan. Tidak mudah.. really, i was struggling and i am still working on that, tapi ini jadi latihan saya untuk memahami millenials.  Informasi yang diberikan adik sepupu saya menjadi bahan saya untuk lebih mengerti dan mencoba memberikan solusi-solusi dan tantangan dari pilihan hidup yang akan dihadapinya.

Millenials. Tidak mudah memahami mereka, namun memahami adik sepupu saya ini bisa buat latihan saya untuk bisa memahami  staf millenials kami.

That’s that. 

Next step is the parents. How to make my aunt and uncle understand that they also need to educate their daughter and let her make their own mistakes? 

 

 

9th

Lewat 1 bulan sejak posting terakhir. Okay, saya melewati 1 bulan tanpa membuat tulisan apapun. Hukuman adalah menulis 2 tulisan bulan ini. Semangat!

Sebenarnya banyak yang bisa ditulis, tapi sejak awal tahun ini saya berjanji untuk lebih menyaring tentang apa yang harus saya tulis. Jadi yang sifatnya terlalu curhat-ish itu mungkin akan masuk diary saja dengan rate pembaca 1 orang. C’est moi. Hehe.. so,

TW-niversary.

Satu bentuk kata baru yang diciptakan founder kantor kami. Artinya adalah ulang tahun kami selama menjadi karyawan kantor ini. (Tidak perlu dituliskan nama kantornya ya 😉 ).

Konsepnya sebenarnya adalah bentuk reward dari management kepada karyawan tersebut yang telah menjadi bagian dari kantor kami berupa ucapan thank you card dari founders / CEO kami yang ditulis langsung oleh mereka. Konsep ini dijalankan baru setahun ini kok dan saya langsung menyukai ide ini. Sebuah sapaan atau ucapan ‘Terima Kasih’ dari sosok penting di perusahaan bisa bikin rasa yang beda.

it my twiniversary

Seperti pada gambar di atas, saya genap 9 tahun pada 29 Mei kemarin. Tidak perlu ditanya tahunnya, cukup hitung dalam hati saja ya 😉 . Ini adalah angka terbanyak dari sejarah saya bekerja. Saya lulus dari kuliah dan langsung bekerja. Dunia saya langsung kerja, kerja, kerja. Sebagai lulusan baru, a fresh graduated, saya merasa sebutir debu yang tak berarti di dunia kerja, sehingga pekerjaan apapun saya ambil untuk mencari pengalaman tentang dunia bekerja.

Sedikit flashblack, pekerjaan pertama saya adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh semua lulusan fresh graduated apapun jurusannya. Call Centre. Yes, itu adalah pekerjaan yang paling banyak dibutuhkan saat itu, selain MT. Tapi kontradiksinya adalah persaingannya tinggi. Tapi saya beruntung; saya diterima. Untungnya lagi, sebagai garda depan perusahaan dengan customer atau calon customer, perusahaan menyadari bahwa para frontliners ini butuh dipoles dan dibekali wawasan. Baik wawasan produk maupun wawasan etiket sosialisasi profesional.

Saya ingat betul, ada satu pengajar yang sengaja didatangkan dari sebuah sekolah kepribadian terkemuka untuk memoles dan mengajari etiket. Keren kan?! Kami diajari bagaimana etika bersosialisasi dengan rekan kerja, dengan atasan, bahasa tubuh yang pantas dalam bekerja, bagaimana jabat tangan, cara sopan memberikan kartu nama sampai mind set dalam bekerja.

Sudah lama sekali, dan saya lupa nama pengajarnya tapi saya bersyukur pernah dapat materi itu dari beliau. Saya merasa bekal itu juga yang membawa saya sampai sekarang.

9th.

Selama itu di kantor yang sama, mungkin saya berada di comfort zone, atau mungkin saya sudah lelah pindah-pindah kantor atau sebut saja saya adalah generasi X yang diajarkan bahwa loyality is matter.

Kenapa ya saya bisa sampai 9th? Satu hal, saya merasa gelas saya setengah kosong terus. Sepertinya banyak sekali hal yang masih saya pelajari. Saya merasa selalu ada hal baru yang saya bisa dapatkan di kantor ini. Dari ilmu baru, team baru, tanggung jawab baru, ide baru.

Hal lain, saya merasa kantor ini  banyak mengakomodasi karyawannya yang ingin membuat sesuatu. Entah aktivitas, entah maenan tech baru, entah workshop, sampai memperbaiki SOP. Tidak ada yang absolut karena kantor ini berkembang mengikuti karyawannya. Bukan berarti segalanya tidak pasti, karena ada beberapa hal tidak bisa ditoleransi di kantor ini layaknya kantor-kantor lain.

Tapi maksud saya adalah kantor ini berkembang. Kondisi kantor dulu saat saya masih di tahun pertama atau kedua sangat berbeda saat kini banyak anak-anak muda millineal menjadi karyawan dan bekerja di kantor kami. Bos kami mengatakan kita tidak bisa memperlakukan mereka sama dengan gaya saat generasi saya menjadi fresh graduated dulu. Sehingga beberapa perubahan terjadi. Terus terang gak mudah, namun itu jadi membuat saya tersadar, proses belajar saya masih terus berlanjut. 🙂 Hingga tidak tersadar sudah 9th.

Banyak ucapan syukur untuk 9th saya di Think.Web. (akhirnya keluar juga nama kantornya).  Di Think.Web, saya banyak belajar, memulai dari seorang karyawan, dan kini belajar menjadi pemimpin yang baik. Di Think.Web juga saya menerima ilmu untuk mulai memikirkan masa depan dan akhirnya saya mampu membeli rumah. Tapi namanya juga belajar, ada malasnya, ada bosannya, ada rebel-nya hingga saya ada di titik ini. Bukan proses cepat. Saya bukan fast learner. Tapi terima kasih, saya punya mentor-mentor yang sabar banget.

Jika dianalogikan sebagai manusia, 9th adalah umur saat anak kecil mulai mempunyai geng dan mulai main sendiri tanpa orang tua. Iya, saya sudah berpikir begitu, banyak rencana untuk main tanpa orang tua. I am in brewing process. Semoga bisa lekas lebih mandiri *prok-prok.

Saya pernah menulis tentang ‘University of Thinkers‘  di tahun ketiga di kantor ini. Di tahun 9th, pendapat saya gak berubah. Kantor kami memang universitas dimana karyawan  tidak hanya dibayar akan spesialisasinya tapi diberikan kesempatan belajar. Ya, akan ada test, akan ada gagal, akan ada tantangan, tapi jika kita melewati proses itu, hasilnya akan kembali ke diri kita lagi. Tidak ada usaha yang sia-sia. Trust the process. Will lead you to good result.

Wish me luck!

 

 

 

Diet Social Media Path

Saya memutuskan untuk diet media sosial ‘Path’.  Kenapa Path? Kenapa bukan instagram? atau twitter? atau FB?

Dulu saya merasa Path adalah salah satu solitude channel dimana saya bisa sharing ada apa dalam hidup saya dan mengetahui apa yang terjadi dengan teman-teman saya.  Bangun tidur, lihat Path. Mau tidur, cek Path. Sedang nunggu meeting, cek Path. Atau lagi boring di miting pun buka Path.

Namun, belakangan saya merasa, update status di Path jadi beban, baik untuk sharing status atau pun melihat sharing teman-teman.

Path jadi tempat pencitraan di mata saya. Tapi bukankah semua media sosial begitu? Iya sih..  meski ada circle friends, bukan berarti saya berhenti melihatnya sebagai pencitraan. TENANG! Bukan berarti teman-teman semua yang ada dalam friends Path saya seperti itu. Saya percaya bahwa tidak ada satu pun dari teman-teman saya di Path bermaksud pencitraan (meski bisa jadi begitu tanpa sadar :p ) tapi ini lebih ke diri saya yang semakin lama semakin merasa ‘isi gelas saya’ selalu kurang.

Efeknya adalah saya merasa saya tidak bersyukur dengan hidup yang saya alami. Saya tidak menikmati setiap moments yang terjadi depan mata. Sindrom ‘Rumput tetangga selalu lebih hijau’ menjadi selalu muncul ketika melihat timeline feed dari teman-teman.  Saya menjadi sarkas dan sinis. Dan saya benci diri saya yang seperti itu.

Jika kamu teringat dengan pernyataan Sarah Sechan yang berhenti bermain di media sosial, well... saya tidak bisa berkata berhenti dari media sosial. Pekerjaan saya ada di digital dan dunia media sosial sangat erat hubungannya sehingga now and then, saya harus membuka Facebook, Twitter dan Instagram demi kebutuhan pekerjaan semata.

Sehingga Path jadi pilihan media sosial yang harus saya hentikan untuk sementara ini. Lucunya adalah ketika brands mulai masuk ke Path dan menjadikannya channel berinvestasi, saya justru meninggalkannya untuk kewarasan pikiran saya.

Saya tidak mau berpikir harus nongkrong dimana karena akan terlihat bagus ketika ‘check in’, atau liburan kemana yang bakal keren ketika di foto, atau apapun yang dipikir ‘harus’ bagus untuk di post di media sosial.
“Tapi foto muka atau selfie harus bagus dong?” — Itu pengecualian ya. 😉

Saya tidak tahu apakah saya akan kembali aktif di Path. Sejauh ini saya hanya akan uninstall path di smartphone, bukan delete account. Jadi, yeah… saya masih belum berpikir sampai sana. Tunggu dan lihat nanti saja.

 

Midnight Thought : What makes me cry

Sigh… terus terang tulisan ini adalah arti harafiah dari judul. Ya, saya tidak bisa tidur dan besok saya harus bangun pagi untuk siaran pagi. Tapi di kepala ini sepertinya berisik banget. Banyak sekali yang harus dikeluarkan. Andai saja saya punya pensieve seperti Dumbledore.

Apa yang membuat kamu menangis? Patah hati? Dimarahin orang tua? Tidak punya teman? Tidak diperhatikan? Dipukul? Sepertinya semua yang tulis pernah dialami semua orang. Saya juga kok.  Dulu. Makin dewasa, sebab yang membuat saya menangis semakin spesifik. Kehilangan sosok yang dekat seperti keluarga untuk selamanya? Merasa gagal? Malu akan kelemahan diri sendiri? ‘Jatuh’ karena kesalahan sendiri? Saya juga sudah mengalaminya.  Di usia pertengahan 30 sepertinya wajar saja ya kalau menangis karena itu semua. Saya pikir juga itu wajar. Menurut saya, menangis adalah pertahanan pertama terhadap apapun yang menyentuh emosi. Setelah itu saya baru bisa berpikir apa yang harus dilakukan terhadap apapun itu.

Saya ingat saya menangis di hadapan bos saya ketika ditanya kelemahan saya. Saya tidak tahu kenapa, tetapi membuka kelemahan diri di depan orang lain pada saat itu adalah titik rapuh  saya dan saya break down kemudian saya menangis . *sigh*  Tapi saya belajar, mengakui kelemahan bukan berarti saya salah atau kalah.

Selain sebab menangis yang sudah saya sebutkan tadi, ada juga sebab menangis yang lain. Beberapa hari kemarin saya menonton ulang drama korea Reply 1988. Sudah berapa kali hidung saya beringus dan airmata ini keluar layaknya saat saya patah hati. Lalu, film Monster Call yang malam ini saya tonton juga membuat saya beringus dan airmata mengalir deras sampai hati ini terasa ngilu.

Hell, jangan salah, bahkan film animasi pun bisa membuat saya menangis. Norak? Mungkin ya..haha. Tapi cerita yang bisa menyentuh emosi patut diancungi apalagi bisa membuat saya menangis terisak dan beringus. Tapi kemudian saya mendapatkan ‘tamu’ beberapa hari setelahnya.

Saya jadi berpikir, sebenarnya apakah saya benar-benar terhanyut karena cerita atau karena faktor hormon tidak stabil saat PMS sehingga saya mudah sensitif dan terjadilah airmata itu. Jika memang begitu, berarti bisa jadi PMS adalah sebab lain saya menangis.

Aniway….

Sebab lain saya menangis adalah ketidakadilan dan ketidakmanusiawian (<— apakah ini benar ejaannya?), kepicikkan pikiran, kebutaan akan kebenaran. Well,  memang tidak serta merta saya akan menangis saat melihat si abang tukang sayur memberi sejumput cabe rawit lebih banyak dengan harga sama kepada ibu-ibu yang menyela saat saya sedang belanja sayur. Meski itu suatu ketidakadilan mutlak karena saya tahu cabe mahal dan saya membayar dengan jumlah yang sama.

Kapan itu saya merasa sedih saat isu SARA (gara-gara Ahok juga sih) kembali merebak. Sebagai kaum minoritas, saya sempat merasa tidak aman dan terancam. Iya , itu benar. Saya sempat berpikir, apa yang terjadi jika kebhinekaan ini tidak ada? Saya harus migrasikah? Apakah saya bisa hidup dengan tenang dan mendapat perlakukan adil? Bagaimana saya dan keluarga saya menjalani hari-hari? Terus terang saya sempat sampai berpikir begitu. Dan ketakutan itu untungnya hanya sampai pada sisi emosi prihatin (Pak SBY, pinjem katanya ya). Tapi akhirnya saya mencoba untuk percaya kepada pemerintah, percaya kepada sistem yang menurut saya harusnya diperbaiki, percaya kepada cendekiawan bahwa kebhinekaan Indonesia tidak akan hilang.

Sudah pukul 01:23 AM pagi, dan saya sudah mengantuk.
Lalu inti tulisan ini apa? Tidak ada, ini adalah doodling kata-kata yang stuk di kepala sekaligus mengisi waktu sambil menunggu rasa kantuk datang. Voila, kantuk sudah menaungi kelopak mata. Saya akhir tulisan ini disini.

Sampai lain waktu ok!