Intelligence of a Mouse

image taken from carmillaonline.com

Malam yang panjang. Saya tidak tidak bisa tidur.  Ini bukan karena kopi encer tadi sore. Pikiran saya sedang ruwet dan salah satunya adalah kekesalan saya terhadap tikus-tikus yang bebas keliaran di rumah.

Tolong jangan membayangkan bahwa saya memelihara tikus. Meski beberapa kali saya mendapati suara ‘klotak-klotek’ yang disusul suara “Ciit…ciit…ciit” di loteng atau di dapur, saya sempat berpikir, ‘Ahhh…ternyata si tikus’ dan itu membuat saya lega. Ha!  Kelegaan saya bahwa itu suara tikus kadang membuat saya sendiri heran. *sigh*.

Kenapa sih rumah saya terkesan bebas. Hmm.. jadi rumah saya memiliki area untuk jemur pakaian  dan setrika di atas rumah dengan akses terbuka. Artinya, tanpa pintu dan tanpa penutup dari balkon atas sehingga, siapapun, apapun, dari air hujan, kucing garong, tikus sampai maling bisa masuk ke rumah sebenarnya. Hmm.. kalau dipikir kok bahaya yaa?!

Kembali ke kekesalan saya dengan tikus-tikus keparat itu. Pernah berurusan dengan tikus? Sudah pasti reaksi pertama begitu tahu ada tikus di rumah adalah naik ke atas kursi, eer,..bagaimana menangkapnya? Dulu alm bapak selalu menggunakan lem tikus. Ini adalah kemajuan karena jauuuhh sebelumnya, bapak malah masih menggunakan alat perangkat yang berbentuk kotak dari besi, dengan penjepit dan umpan yang dipasang (umpan bisa  berupa daging, ikan, apa aja. Ya, tidak harus keju seperti di kartun-kartun).

Bagaimana cara menaruh perangkap dengan lem tikus? Saya dan ibu saya hanya menaruhnya di jalur-jalur dimana para tikus-tikus itu biasa jalan-jalan. Hmm.. ngeselin memang. Bahkan tikus saja bisa jalan-jalan. -___- ‘ Kami pernah menangkap 2 di 1 papan lem, atau tidak sama sekali. Kalau tidak ada sama sekali, saya berpikir, apa tikus ini pintar? Apa mereka memiliki kapasitas belajar dari pengalaman kah?

Tetapi menurut pengamatan sepihak saya yang tidak terlalu scientific, hipotesa itu benar. Ibu bercerita bahwa ia melihat sendiri, tikus itu lari memutari papan lem bukannya melewatinya. Saya mendengarnya ‘wtf’?! Saya coba lagi. Saya taruh papan lem di bawah kulkas. Karena beberapa minggu lalu, perangkap saya berhasil disana. Namun kali ini saya tidak berhasil. Benar juga kata ibu, tikus itu belajar dari pengalaman. Geez… Tapi saya tidak mau kalah. Setelah di bawah kulkas tidak berhasil, saya pindahkan perangkat di bawah rak sepatu. Voila! That a damn right decision. Tidak lama kemudian, jebakan saya di bawah rak sudah memiliki 1 pengguni dengan suara ‘ciit..ciiit…ciit’ yang melirih.

Saya dan ibu ‘high-five’ kemenangan. Kami mengamati tikus yang menggeliat mencoba untuk keluar dari papan lem. Senyum sinis keluar dari sudut mulut saya. Lalu ibu memutuskan untuk membiarkan dulu. Beberapa hari, si tikus yang terperangkap mendapatkan teman lain pada saat saya menganggap mereka punya intuisi tajam adanya jebakan yang masih dipasang. Ternyata, masih ada saja tikus rookie yang tidak tahu ada jebakan disitu. Voila! two in one.  Saya dan ibu tertawa puas karena kami masih menang.

Two mouses have gone, but we don’t know how many that still gonna come and ‘play’ to our house. Our battle never ends. Tapi setidaknya, kami mulai memahami habit mereka, dan mengatur strategi baru setiap kali ada yang terperangkap.

Midnight Thought : What makes me cry

Sigh… terus terang tulisan ini adalah arti harafiah dari judul. Ya, saya tidak bisa tidur dan besok saya harus bangun pagi untuk siaran pagi. Tapi di kepala ini sepertinya berisik banget. Banyak sekali yang harus dikeluarkan. Andai saja saya punya pensieve seperti Dumbledore.

Apa yang membuat kamu menangis? Patah hati? Dimarahin orang tua? Tidak punya teman? Tidak diperhatikan? Dipukul? Sepertinya semua yang tulis pernah dialami semua orang. Saya juga kok.  Dulu. Makin dewasa, sebab yang membuat saya menangis semakin spesifik. Kehilangan sosok yang dekat seperti keluarga untuk selamanya? Merasa gagal? Malu akan kelemahan diri sendiri? ‘Jatuh’ karena kesalahan sendiri? Saya juga sudah mengalaminya.  Di usia pertengahan 30 sepertinya wajar saja ya kalau menangis karena itu semua. Saya pikir juga itu wajar. Menurut saya, menangis adalah pertahanan pertama terhadap apapun yang menyentuh emosi. Setelah itu saya baru bisa berpikir apa yang harus dilakukan terhadap apapun itu.

Saya ingat saya menangis di hadapan bos saya ketika ditanya kelemahan saya. Saya tidak tahu kenapa, tetapi membuka kelemahan diri di depan orang lain pada saat itu adalah titik rapuh  saya dan saya break down kemudian saya menangis . *sigh*  Tapi saya belajar, mengakui kelemahan bukan berarti saya salah atau kalah.

Selain sebab menangis yang sudah saya sebutkan tadi, ada juga sebab menangis yang lain. Beberapa hari kemarin saya menonton ulang drama korea Reply 1988. Sudah berapa kali hidung saya beringus dan airmata ini keluar layaknya saat saya patah hati. Lalu, film Monster Call yang malam ini saya tonton juga membuat saya beringus dan airmata mengalir deras sampai hati ini terasa ngilu.

Hell, jangan salah, bahkan film animasi pun bisa membuat saya menangis. Norak? Mungkin ya..haha. Tapi cerita yang bisa menyentuh emosi patut diancungi apalagi bisa membuat saya menangis terisak dan beringus. Tapi kemudian saya mendapatkan ‘tamu’ beberapa hari setelahnya.

Saya jadi berpikir, sebenarnya apakah saya benar-benar terhanyut karena cerita atau karena faktor hormon tidak stabil saat PMS sehingga saya mudah sensitif dan terjadilah airmata itu. Jika memang begitu, berarti bisa jadi PMS adalah sebab lain saya menangis.

Aniway….

Sebab lain saya menangis adalah ketidakadilan dan ketidakmanusiawian (<— apakah ini benar ejaannya?), kepicikkan pikiran, kebutaan akan kebenaran. Well,  memang tidak serta merta saya akan menangis saat melihat si abang tukang sayur memberi sejumput cabe rawit lebih banyak dengan harga sama kepada ibu-ibu yang menyela saat saya sedang belanja sayur. Meski itu suatu ketidakadilan mutlak karena saya tahu cabe mahal dan saya membayar dengan jumlah yang sama.

Kapan itu saya merasa sedih saat isu SARA (gara-gara Ahok juga sih) kembali merebak. Sebagai kaum minoritas, saya sempat merasa tidak aman dan terancam. Iya , itu benar. Saya sempat berpikir, apa yang terjadi jika kebhinekaan ini tidak ada? Saya harus migrasikah? Apakah saya bisa hidup dengan tenang dan mendapat perlakukan adil? Bagaimana saya dan keluarga saya menjalani hari-hari? Terus terang saya sempat sampai berpikir begitu. Dan ketakutan itu untungnya hanya sampai pada sisi emosi prihatin (Pak SBY, pinjem katanya ya). Tapi akhirnya saya mencoba untuk percaya kepada pemerintah, percaya kepada sistem yang menurut saya harusnya diperbaiki, percaya kepada cendekiawan bahwa kebhinekaan Indonesia tidak akan hilang.

Sudah pukul 01:23 AM pagi, dan saya sudah mengantuk.
Lalu inti tulisan ini apa? Tidak ada, ini adalah doodling kata-kata yang stuk di kepala sekaligus mengisi waktu sambil menunggu rasa kantuk datang. Voila, kantuk sudah menaungi kelopak mata. Saya akhir tulisan ini disini.

Sampai lain waktu ok!

Cooling Down The Atmosphere

There is no perfect time to deal with heart matter
Just like there is no perfect time when life give you a challenge
There is no ‘supposed to be like this’ or ‘it should be like that’
We are not God. We are not a ruler. Or in this case. I am no God or a ruler.

I can’t control what happen in other’s mind or heart.
Just like I can’t control people’s mind about me.
What I can control is my behaviour, my dignity, my attitude, my honour, my heart.
What I can control is trying my best not to make others hurt or disappointed.
What I believe is Trying my best to make everyone happy, though we can’t make everyone happy.

Too many theory can make us forget that life is not theory. Life is practical. Life is not measure by manual book. There is no manual book ” Live your life for Dummies” (atau ada? ).
It is just trial and error. If you fall, is not how far you fall, but how you can climb up again?

Sebuah Helaan Nafas

Sebuah helaan nafas malam ini kuambil beberapa kali

Sebuah helaan nafas mengartikan kesal
Sebuah helaan nafas mengartikan heran
Sebuah helaan nafas mengartikan pengertian
Sebuah tarikan panjang nafas membawa energi
Sebuah helaan panjang nafas mengeluarkan emosi
Sebuah tarikan panjang nafas menyertakan luka
Sebuah helaan panjang nafas membuang pengharapan
Sebuah tarikan ke dalam membawa rasa kekuatiran
Sebuah helaan ke luar menyertakan keputusasan
Sebuah tarikan ke dalam membawa kesedihan di mata
Sebuah helaan ke luar memasangkan topeng ceria
Sebuah helaan nafas malam ini kuambil beberapa kali
dan kusadari ada lara hati disana
dan kusadari kasih tak sampai menyelinap disana
dan kusadari tetes tetes dari sudut jendela hati
dan kusadar,…. sebuah helaan nafas panjang kembali kuambil malam ini

 

Songs understand me

You know, sometimes when you’re in blue, songs understand you better  especially if the problem is your romantic relationship.

And I don’t know why broken heart songs seems so easy to create than happy songs. Really… why people suddenly become a poet when they are sad or in sorrow. Like sadness, loneliness, sorrow dig the creative nerve and voila! A poem is made. But, maybe it’s depends from the person. When I am sad, or angry, I don’t feel creative, I just want to kill people and crash him in to pieces.

Anyway….

I see you through smoky air, trying hard to control my heart. Still I refrain from talking at you. But, you know me well, I don’t need to explain. I gave all I could, but why you’re still call me your friend when you want me naked in your bed?

I am sure I am not being rude, but it’s your attitude that tearing me apart. Don’t call me at 3AM just to say ‘How you are missed me’, but then why were you holding her hand? Is that the way we stand? Were you lying all the time? Was it just a game to you?

I am such a fool for you. You’ve got me wrapped around your finger. And I’m in so deep. Don’t you know, I never wanted anyone like this, It’s all brand new. Can’t you feel the weight of my stare, you’re so close but still a world away. I need a little more

But what the hell, why do you think I come ’round like this on my free will? Wasting all my precious time.

And all left me so sore, the thing that makes me mad, is the one thing that I had,

I knew I’d lose you. You’ll always be special to me. You said I was on your mind. Will I forget in time?

—–

So, can you guess, what songs that I make for this prose? 😀

Pray from a stranger

Jadi, hari ini ada kejadian lucu. Hmm mungkin lebih tepatnya ironi.

Gue ditelpon oleh telemarketer untuk penawaran asuransi.

Lo semua pasti pernah dong, malah mungkin sering, ditelpon oleh telemarketer asuransi untuk penawaran produk mereka.

Apa alasan yang biasa lo sampaikan agar mereka mengerti kalo lo ga tertarik dengan cara halus?

Kalo gue, biasanya, begini :

1. “Maaf mba, gak dulu yaa”. Buat telemarketer baru, ini udah penolakan. Mereka langsung mundur.

2. “Makasih ya mba/mas, saya sudah ada dari kantor jadi belum butuh asuransi lain.” — Ini gue keluarkan jika cara 1 ga berhasil.

3. “Errr…mas/mba, saya ada meeting. Maaf tidak bisa diganggu dulu,” — ini langsung gue keluarkan jika gue lagi ga mood dan tahu mereka dari bank (yang tidak lagi ada urusan sama gue).

4. “Begini mba/mas, saya sudah mengatur cashflow saya. Dan ini sudah balance untuk saya. Jadi untuk saat ini saya ga tertarik” — kalau agentnya mulai ngomong “Mengapa begitu? mengapa begini? Ini bisa melengkapi asuransi yang sudah dimiliki and bla bla bla” dan nyerocos soal kehebatan produk mereka.

Nah, yang pagi ini menelpon gue, sepertinya cukup lihat dalam mengatasi tolakan-tolakan calon customer. Semua cara 1-4 gue ternyata tidak bergeming buat dia. Karena merasa tersudut, akhirnya keluarlah curcol gue.

5. “Mba, saya itu udah gak punya sisa duit lagi buat asuransi lainnya. Udah pas banget uang saya. Jadi gak bisa juga mba..” — akhirnya keluar deh curhatnya. Gue pikir si mba bakal langsung respon “oohh begituu yaa bu..lain kali mungkin ya” atau semacamnya dan memutuskan hubungan telpon. Lah, tak disangka tak diduga, respon dia:

“Oh kalo begitu buat anaknya mungkin bu..” ujarnya

“Saya belum menikah” sahut gue pendek.

“Tapi pasangan sudah ada kan..” katanya mancing. Waah, ini mba telemarketer cari masalah. -___-

“Aminn.” jawab gue pendek dan supaya dia tidak memperpanjang lagi. Eh, malah jawabannya:

“Kalau gitu, saya doakan, semoga tahun depan bisa melangsungkan pernikahan dengan pasangannya, dan diberikan buah hati…lalala”

Gue udah gak dengerin sisanya karena ini sangat menggelikan sekaligus mengharukan.

Gue cuma bisa merespon “hahahaha.. ammiinn yang mbaa…” tapi dibalik suara ramah, ada cengiran paksa.

Akhirnya ditutuplah telponnya.

Tadinya gue mau ketawa karena geli dengerin si mba telemarketer, dan ya ngapain sih, dia gak tau apa-apa soal gue, tapi kemudian gue merenung dan menyadari kalau si mba telemarketer ini mendoakan gue. Entah niatnya tulus atau gak, but she did pray for me. Entah karena gue curcol apa yah, but I am happy knowing someone stranger pray for me.

Well, mba Telemarketer CIGNA, maaf karena gue gak bisa jadi customer anda, but your prayer got me, and i hope you have bless for what you’ve seed. 🙂

untitled

“Yup! Kata orang penyesalan selalu datang terlambat. Kata itu kini menjadi hantu yang menjadi mimpi burukku setiap malam. “Andai saja…” atau “Kalau saja..” menjadi dua kalimat yang sangat aku harapkan bisa menjadi kenyataan.

“Kamu itu udah egois, keras kepala pula..” begitu kamu sering berujar. Keras kepala seperti batu, dan egois, hmmm…itu mungkin adalah salah dua sifat jelek yang aku punya. Jangankan orang lain, aku sendiri pun sering capek dengan diriku yang selalu seperti itu. Tapi entah kenapa, kamu bisa tahan terhadap diriku. Kata kamu, sifat jelekku mengeluarkan efek positif dari dirimu. Hahaha.. you make me ugly so you can look better.. damn you!

 

But that’s why we got along each other, right honey? Kamu menjadi sosok yang membuatku bisa tersenyum bahkan ketika aku sedang sangat menyebalkan.

“Baby, i love you so much, kalau aku bersamamu, dunia terasa milik berdua, yang lain ngontrak” begitu kamu sering merayu. Aku tau dunia bukan milik berdua, pertama ada ratusan juta orang di dunia ini, kedua, karena ada sekian ratus laki yang mungkin akan berujar sama seperti kamu. But, honey, i believe you! Meski rayuan kamu klise dan standar abis,

aku selalu percaya kamu. I believe we can create our own world, our own heaven.

Kadang kamu suka heran, kenapa aku sangat percaya kepadamu? Disaat kamu merasa dunia ini sangat berat dihadapi, kamu heran aku tetap percaya padamu. But honey, why wouldnt I? Mengapa tidak?

Kamu adalah bintang di hidupku. Kamu telah bersinar dihati dan di duniaku. That’s why I’ll never lose my faith in you. Itu juga yang kini membuatku bertahan saat kau tidak ada. But, honey, at first it was hard..

 

Surgaku seakan hancur…

Duniaku luluh lantak,

Kenapa kenyataan tidak selalu seperti yang aku inginkan.

Tapi akhirnya aku menerimanya. Aku menerima bahwa kita tidak lagi bersama. Aku menerima memang sudah saatnya kamu pergi. It’s all right. I know you’re out there. I believe it.

 

Apa kamu tahu kenapa sayang? Because you are my first star at night.

Sinarmu selalu menerangi diriku. Dan aku selalu teringat ketika kamu bilang aku adalah bumi untukmu. Awalnya aku tidak mengerti, namun kini aku tahu yang kamu maksudkan.

 

If I was your earth, then you are my soul satellite. And i’ll be so lost in space without you.

 

So, i will not say goodbye to you my love, aku akan menganggap perpisahan ini hanya sementara. Kita tetap akan memiliki surga kita sendiri. I’ll never lose my faith in you..

 

So, i’ll say Au Revoir, but this isn’t goodbye..”

 

Perempuan itu meletakkan surat yang sudah ia tulis dan baca berulang-ulang. Ia membaca sekali lagi seakan-akan takut ada yang terlewat. Tapi semua sudah terkatakan dalam surat itu. Ia memasukkan ke dalam botol dan menyumbatnya dengan gabus. Lalu ia menatap nama di atas batu granit hitam seakan-akan tatapannya bisa membelai sosok yang kini hanya dalam kenangannya.

“Rest in peace my soul satellite. We’ll meet again” lalu perempuan itu melangkah dengan pasti keluar dari areal pemakaman. Senyum samar terbentuk di wajahnya.

 

-3 Apr 2011-

22.23 – 02.26

It takes a week and 3 days and still counting to hold my hand not to contact you…

It takes a million reason why I shouldn’t , it only takes one reason why i should..

 

the big question pop up and urge some answer:

WHY? HOW COULD YOU?

 

 

What a jerk!

 

TGIF

“Ah, ini sebenarnya jadi jalan ga sih?. Udah jam segini belum jalan, pulang jam berapa nanti. Aduh, kerjain ini dulu deh. Deim kok gue laper sekarang. Pake jaket gak nih. Dimana sih tempatnya. Aduuh nyokap telfon. Kok gue kaya berasa punya anak ya. Hah? Kok ada orang Dima. Weleh. Ini tempat apa sih?. Makan dulu aja. Hmm…pizza kayanya enak. Main ping pong banget nih. Ini gimana sih cara main pingpong. Gila ternyata gue emang laper. Ih mahal banget sebotolnya, dan gak seliter juga. Ishh. Gini doang, harus ada permainan biar seru. Woow ada Rama Anan. Ingat don’t drink too much. Kasih pertanyaan apa ya ke Tere. Kok blank gue. Ini lebih seru kalo udah mengenal orangnya sih. Wah, pertanyaannya terlalu mudah. Kok gerah yah. Oh my God, tequila. Don’t drink too much. My Gosh, so hot here. Hey, ada Tony..oh right. Don’t make him see me. Mulai garing. Oh lala main puter botol. Haha..saatnya ngerjain epat dan jeffry. Shit! Why they have to ask THAT question. Hmm..another drink still okay. I think. Holy crap, i broke one glass. F**K! there will never happen i am going to call him. It’s not gonna happen. Kenapa sih Rama niat banget bikin gue mabok. Hahahaha..gue tertawa tapi gue ga tau kenapa. Hey, gue kan juga belum pernah foto sama Rama… oh my, did i say it loud? Kok minuman di gelas gue ga abis abis sih. Hey, ini tempat kok berisik banget ya. Kepala gue berat banget. Oh ya ya kita pulang. Kenapa rasanya melayang gini. Kayanya gue mabok deh. Sapa sih nih yang pegang tangan gue. oyyy gue mau pipis. Haduh kepala gue pengen gue tinggal aja.  Semua pada ngeliatin gue kenapa yah..

 

 

Gue jelek banget deh. Ya ampun toilet kantor bersih banget. Ini kok ga selesai selesai sih. Haduh kenapa sih teriak teriak. Oh pil anti mabok ituh. Udah berapa lama gue ada di toilet? Ini kenapa ada Zoel disini. Dia bawain gue air minum. Thank you Zul. Dia belum pulang? Okay, back to toilet… Ini kok ga kelar-kelar. Gue tidur disini aja gimana? I must go home. Lompat-lompat? Boleh ga ganti kepala aja?

 

Rama teriak apa sih? Angin malam enak banget. Kalo gue keluarin kepala ke jendela enak banget. Aduh mual nya ga kelar-kelar. Ini kok jeffry berisik banget sih. Dia ngomong apah? Apaah? Oh Tuhan… ini jam berapa sekarang. Jeffry ga bisa lebih cepat lagi nyetirnya. Cepetan dong Jeff. Oh my God, gue mual lagi. Jeffry ini annoying banget ya.. haduh pegang-pegang kepala, udah tau kepala gue puyeng banget. Senderan? gue lebih milih keluarin kepala ke jendela dibanding senderan. Hiks….hiks..hiks.. gue ga mau pulang dalam keadaan begini. Tapi gue harus pulang. Ini gimana? Haduh, Jeffry ditelpon Risna… mati deh dia. Ya ampuun, gue ga mau mabok lagi. Gak lagi lagi. Kok gue emotional ya. Ini udah dimana? Tuhan, semoga nyokap ga bangun. Selamat! Sampe dirumah. Kirim status dulu. …”

 

 

 

guilty…

Guilty feeling is always comes late. And it never go away. You always say ‘what if’ and really hoping you could turn back the time and make it right. It would get worse, when it comes to the one you loved and cared about.

Yes. I have experience it and still try how to ease the guilty feeling inside. I hurt my best friend. Sadly, it’s something that i didn’t intend to hurt her. I guess I don’t have to tell you the emotion reaction that had happened. But, what I can tell you is, she’s hurt so much by me. I never saw the sad and disappointed  face from her to me before until that day.

And I? I also feel crushed and broken when I know it really hurt her. When you think saying ‘Sorry’ is enough, it was never enough. Even 1000 words of sorry would never enough to heal the cause I made.

I cried all night because I know the scar is there. The scar I made in her heart. I cried because I should have been a better friend for her. I cried because I am afraid of losing her. I cried because I can’t forgive my self. How I undo this?……

It had happened. And I can’t do anything about except I try to be a better friend for my best friends.  It is true when people say ‘time will heal’. Well, I guess I leave it to time, meanwhile I  praying to God for her so she deserve a better blessing because she’s always good to others. And I pray for salvation to myself for I had been a awful person. 🙁

Ask for forgiveness to others is not easy, but ask my self to forgive my self is harder.