Posts by Stefani A

A nerd and geeky in a way... but have passion in fashion too. A chameleon depends on mood..

anger

9L7rbiYcTxmNegwpTvihg-2642180695-1525864510948.jpg

Seperti judulnya, tulisan ini saya buat untuk menjelaskan apa yang saya rasakan. Bukan seperti marah dimana seseorang teriak-teriak penuh emosi kepada orang lain bukan juga seperti ibu yang ngomel-ngomel nyerocos tak henti kepada anaknya.

Tapi ini seperti rasa gatal yang saya tidak tahu dimana gatalnya tapi saya merasa sangat terganggu karenanya. Atau dimana kamu tidak merasa nyaman, sulit konsentrasi dan keinginan berjalan-jalan tanpa tujuan.

Rasa ini adalah karena terluka, merasakan ketidakadilan, merasa dititik dimana usaha dan upaya merasa sia-sia.  Rasa ini lebih membuat saya diam, lebih membuat saya lelah, lebih tidak ingin beropini karena saya tahu itu sepertinya sia-sia.

What is ‘anger’ ?

Anger or wrath is an intense emotional response usually involving agitation, malice, or retribution. It is an emotion that involves a strong uncomfortable and hostile response to a perceived provocation, hurt or threat.

Itu definisi Wikipedia.

Menurut William DeFoore, seorang penulis buku anger management menggambarkan amarah itu seperti pressure cooker. Seseorang hanya bisa menahan amarah untuk beberapa waktu sampai akhirnya itu semua meledak.

Ini bahaya karena begitu meledak, ini bisa berakibat kepada tindakan yang bisa merugikan diri sendiri. Bahaya karena juga bisa merugikan orang lain.

Dalam agama yang saya imani, saya mengetahui ada 7 deadly sins atau akar dosa. Disebut demikian karena dari 7 akar dosa ini sebab dari semua dosa-dosa manusia yang merugikan orang lain. Salah satu dari akar dosa itu adalah amarah (wrath).

Saya sendiri mencoba mencari sebab apa yang melatarbelakangi dari rasa ini. Selama di jalan, pikiran saya berkecamuk apa yang sebenarnya bikin rasa marah ini.

Dan..saya temukan sebabnya. ‘Anger’ ini tidak bisa begitu saja disembuhkan dengan sikap sabar, ataupun pasrah. Sejujurnya saya tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Sabar pun bukan karakter yang bisa saya banggakan.

Sekarang pertanyaan berikutnya: apa yang harus saya lakukan?

…. (to be continued)

 

 

 

 

on Bended Knee..

I walk into your house slowly

I know I must do it alone

I pray my heart don’t weary

I pray you wouldn’t hate me

 

I get down on my knee

Sit down and calm my heart

I know this time will be different than before

I pray for my weary heart

 

I come to you who sit in front of me

I tell you about my heart

I tell you about my loneliness

I tell you my weary heart

 

You’re keep silent

you’re listening attentively

and then… you open your eyes

lift your head, and said…

 

I see you.

I forgive you

I will still love you

Don’t hate yourself because you have heart

 

17:30 – 230318

Another Fight with You

I don´t expect my love affairs to last for long
Never fool myself that my dreams will come true
Being used to trouble I anticipate it
But all the same I hate it, wouldn´t you?

So what happens now?

Time and time again I´ve said that I don´t care
That I´m immune to gloom, that I´m hard through and through
But every time it matters all my words desert me
So anyone can hurt me, and they do

So what happens now?

Call in three months time and I´ll be fine, I know
Well maybe not that fine, but I´ll survive anyhow
I won´t recall the names and places of each sad occasion
But that´s no consolation here and now.
So what happens now?
note:
This is a song lyrics ‘Another Suitcase Another Hall’ from EVITA. I put it because somehow it resonate.

Menjadi Sosok di Depan

Tepat seminggu lalu, saya didaulat untuk mewakili teman-teman dari Girls In Tech Indonesia untuk menjadi salah satu pembicara tentang Technologi dan Perempuan di sebuah acara bernama ‘Super Women Camp’. Acara yang berisi seminar dan workshop yang diadakan oleh sebuah komunitas lokal Perempuan Punya Karya (PPK) yang ada di Yogyakarta.

Sebenarnya undangan itu buat bos saya, tapi berhubungan ia berhalangan di tanggal tersebut, ia meminta saya. Seperti yang saya janjikan kepada diri saya untuk tidak menolak untuk menerima tantangan. Saya tidak berpikir lama ketika bos saya, Anan, meminta saya untuk yang datang.

Saat tawaran itu diinfokan ke saya, waktunya masih 3 minggu lebih sebelum acara. Namun, dari situ segalanya berlalu dengan cepat. Saya kemudian langsung berhubungan dengan pendiri komunitas PPK untuk mendapatkan brief lebih lanjutnya.

Saya dijelaskan bahwa saya akan membawakan kelas ‘Technology’ namun karena audience-nya sangat beragam, saya diminta untuk tidak membahas hal-hal teknis dalam teknologi seperti coding dll.

Dari 3 minggu lebih itu, saya sudah alokasi waktu; seminggu pertama adalah waktu saya memikirkan topik yang pas untuk dibahas dan bisa di-share tanpa bosan; seminggu lagi untuk membuat materi presentasi dan seminggu terakhir untuk saya berlatih.

Tetapi entah kenapa, seminggu itu juga pekerjaan sedang menuntut fokus saya. Dari yang meng-cover rekan kerja yang cuti dan banyak hal-hal lain yang memang urgent dilakukan minggu itu, sehingga semua rencana alokasi waktu saya berantakan.

Jika ditanya apakah saya gugup? Saya sangat gugup. Saya bersemangat tapi sekaligus kuatir juga gugup. Bagaimana jika materi saya tidak memberikan knowledge baru, bagaimana jika mereka merasa sia-sia ketika datang ke sesi saya, bagaimana jika saya tiba-tiba blank? Bagaimana jika saya sakit perut di tengah-tengah presentasi? Bagaimana jika mereka lebih tau dari saya? Berbagai macam kekuatiran bikin saya stres. Saya bolak balik ganti topik. Bagaimana dan apa.

Saya tontonin TedTalk setiap hari untuk mencari referensi, saya baca buku How To Deliver a TED Talk   namun semakin banyak saya baca dan saya tonton, topik di kepala saya makin mentah. So, with determined mind, I have to finish the presentation deck in H-7. And yet, it is still delay. Materi presentasi saya bolak balik saya ganti sampai saya merasa deck saya tidak berguna.

Saya sempat share kegelisahan saya ke beberapa teman tentang apakah kapabilitas saya cukup sebagai pembicara. Hmmm… jawaban mereka tidak seperti apa yang saya ingin dengar sih. Well, they are good friends because they’re telling the truth. But, they all said they supported me and believe in me.

Yup. In the end, it’s all in me. I am the one that can control whether i will succeed or like all my worries. I finally finished the presentation material, I asked my co-worker to help me with my promotional video, I practised until fell asleep. I kept telling myself, you’re brave girl, you can do this. you can do this. And I pray… a lot. Especially on that day. From the first i wake up, took the first flight, landed until the moment I must stood in front of class audience.

At the end, saya tidak bisa bilang kemarin itu sempurna, justru jauh dari sempurna. Dari skenario yang sudah saya hapal, beberapa malah saya lewatkan, tapi beberapa saya masukkan improvisasi di tempat. Saya banyak mengeluarkan ‘eeee’. Saya tidak bisa memakai clicker-nya. (padahal saya sudah minta)

“It’s still far from Ted Talk, but atleast you don’t choke or blank in front of audience” That was I said to myself. “You are being you”.

You know, when you’re in the front, staring at those no expression faces, you will think ‘damn! My talk makes them bore’. And I almost eat up by my own thoughts. But, nevertheless, i succeed to ignore all the worries and stick to the script I wrote.

Beyond my expectation, audience were welcome dan friendly. At the end of session, they asked a lot questions about my presentation and also ask a lot of selfie with me.

You know, I have never been asked for a selfie together with stranger. I felt weird and awkward. Why do they want to have selfie with me? But I keep smile and service them gladly.

Saya merasa geli namun sekaligus menikmati sensasi itu. Mungkin ini rasanya jadi ‘Bule’ yang diajak foto bareng sama orang lokal hanya karena ‘bule’nya.

Hari itu jadi milestone baru buat saya. Excited, nervous tapi sekaligus menyenangkan. Saya menambah lagi ‘air di gelas’ saya.

Sebelum saya check out dari hotel dan mengejar pesawat untuk balik ke Jakarta, saya berikan pukpuk kecil di pundak saya, memberi penghargaan untuk apa yang telah saya lakukan sendiri dengan hasil saya sendiri. “Tetap belajar ya and keep curious” i told to myself in the mirror.

 

New Resolution-Ku

Happy new year 2018! Well, this post is kind a too late but, it is still January tho. And I know, most of you haven’t thought about your new resolution for this year.

Or have you?

Ada seloroh yang selalu diucapkan tentang resolusi baru ini. “Resolusi gue tahun ini adalah sama dengan resolusi gw tahun lalu”. Haha, saya pun pernah berseloroh seperti itu. Bukan berarti kami (baca: saya) tidak mencapai apapun ya dengan mengulang resolusi. :p Hanya saja, resolusi awal tahun itu selalu berubah di tengah tahun, dan akhirnya saat akhir tahun mewujudkan yang lain.

Mr. Richard Bronson said you need to write down your new year resolution. Find anything. Your journal, blog, note, anything that you can see it – read it over and over, so you remember it until you breathe and live your year thinking about your resolution.  Last sentence is not from Mr. Richard Bronson, that’s just me being exaggerate. *peace

So, this year, I wrote down my resolution in my private journal. Ya, menulis resolusi itu penting. But you still need find the best ones you want to achieve this year. Saya orang yang BM alias Banyak Mau, jadi buat saya, memilih fokus resolusi itu PR paling utama. Keep it simple but clear. So steps to get your resolutions achieved is clear. Itu nasihat saya kepada diri sendiri.

Nah, ada kabar baik turun dari ‘langit’ yang membantu saya bisa meraih satu dari resolusi itu. God is Good.

Sekarang saya sudah menulis resolusi saya, sisanya, saya butuh komitmen dan niat untuk menjalaninya. Satu PR lain yang harus jadi resolusi sebenarnya. Komitmen. Haha tahun depan saja yah :p

The First 10K

Seminggu lalu, tepatnya 26 November, saya menyelesaikan race keempat saya dengan pencapaian jarak baru, yaitu 10K. Yeay…! Apakah saya senang? Damn right! And I don’t care if it was only 10K.

Race kali ini, saya sendiri. Lebih tepatnya, tanpa sepupu, atau teman sekantor (karena saya tidak ikut komunitas lari). Well, that’s okay, ketika lari, kita semua pun hanya berpegang pada diri sendiri.

Jarak baru ini terus terang agak buat saya kuatir. Saya belum pernah latihan sampai dengan jarak itu. Saya belum tau sejauh mana kaki saya bisa membawa saya tetap berlari. Di satu sisi, hujan yang turun setiap sore, benar-benar membuat malas saya menjadi-jadi. Betapa susah menyemangati diri untuk beranjak dari meja kerja dan berganti baju olahraga. Jika itu sudah bisa dilewati, betapa sulit memotivasi diri untuk berlari dan komit dengan set jarak yang sudah ditetapkan di awal.

Saya masih ingat, ada satu moment dimana, pada hari itu, setelah absen seminggu, saya harus lari sebagai bagian latihan untuk race. Hari yang sangat berat untuk latihan karena, pertama, hari itu dimana hujan turun di sore hari. Kedua, saya latihan sendiri. Pun, setelah saya berhasil lari, saya harus memotivasi diri untuk tetap komit dengan jarak latihan yang saya sudah buat. Saya berkali-kali mengatakan 1 putaran lagi.. 1 putaran lagi.. dan 1 putaran lagi, berulang-ulang sampai akhirnya saya merasa cukup. Dan akhirnya saya merasa puas karena tanpa terasa saya sudah menyelesaikan 7 km di hari itu.

Berbekal latihan seadanya, dan doa ibu tentunya dan tanpa musik melalui earphone, minggu pagi buta 26 November saya berangkat buat race. Lari tanpa musik di telinga ternyata cukup membuat saya fokus pada napas dan hitungan saya. Running app menginfokan kecepatan saya, dan hitungan dalam hati mengatur langkah saya setiap harus power walk untuk mengambil napas.

Apa yang dibenak saya ketika lari? Tidak ada.. di kepala saya hanya mengatakan bagaimana survive sampai kilometer berikutnya. Saya harus mencari target untuk memotivasi lari setiap kilometer nya. Target mendahului orang itu, target menyamai pace dengan orang ini. Ini berlangsung berganti-ganti sampai sampai saya melihat chip clock di ujung finish. Lalu, lari sekuat tenaga dengan fokus finish di depan mata.

Rasanya lega banget ternyata kaki-kaki ini masih kuat berdiri setelah menempuh 10K. Ada rasa puas di dalam diri, terutama saya bisa mendahului personal best saya sendiri. Saya tau 10K untuk banyak orang adalah level cemen. Mungkin ada yang menganggap ‘segitu aja bangga’. Saya pernah cerita ke teman saya di kantor, kadang saya tidak pede untuk post level lari saya di media sosial karena yaah.. itu masih cemen. Lalu teman saya hanya berkomentar “Kalau ada yang komentar meremehkan, berarti dia lari nya kurang jauh. Lari bukan soal result tapi proses menuju result itu.”

Bener juga sih. Saya pikir olahraga lari juga seperti yoga. Akhir yang diharapkan bukan bagaimana meraih best time or the fastest run or best pose, tapi proses mencapai ke akhir itu di setiap orangnya dan proses itu selalu berulang setiap kali mau memulai. Seperti saat ini, saya harus mengalahkan diri sendiri untuk bangun dari meja, stop blogging and start running. 😀 Well, gotta go. Gotta run 🙂

I made it to finish

 

We are OR

When there is A and B, it supposed to be AB

When there is A and B, it supposed to be right together

When A is no B, and B is no A, but AB is just right

But there are no U and I

 

When there is A or B, it was not supposed to be AB

When A is no B, and B is no A, but AB is just right

When A is only A, or B is only B, AB is not right

But there is U and there is I

 

When there is A and B, it can be AB

When there is A only, or B only, it could be AB

But that doesn’t mean there is U and I

Because there will never be ‘S’ in U and I

 

Fools,  said the logic. “You do not know,

emotions without me like a cancer grows

Hear my words that I might teach you

Take my arms that I might reach you”

 

 

But the logic like silent raindrops fell
And echoed in the hollow of my heart

 

November 19, 2017 ; 16:00

 

 

 

 

 

Another Year Pass

Bulan November. Hampir sebulan lewat sejak saya merayakan ulang tahun yang kesekian. 

Tahun ini tidak ada perayaan. Hanya travelling berdua bersama ibu ke rumah bulek dan om saya di Garut. Yang saya lakukan di sana, tidak ada yang spesial. Pergi dari Jakarta dan rutinitas, dan menikmati akhir pekan tanpa diganggu. 

Tidak ada hingar bingar, tidak ada keseruan yang berarti. Ucapan diberikan, lalu kami pergi berenang dan saya menraktir om dan bulek saya. Bahkan, ketika pulang, saya menyadari, tidak ada foto yang menjadi pengingat moment makan bersama kami dalam keheningan. 

Beberapa teman di kantor bertanya ada perayaan apa di Garut? dan kenapa tumben ke Garut? Actually, setelah saya pikir-pikir, tidak ada alasan logis khusus, yang saya rasakan adalah saya hanya ingin pergi dari Jakarta dan menghabiskan waktu bersama ibu. 

Di hari saya ulang tahun,  saya sadari bahwa umur saya sudah tidak muda. Saya pikir saya harus menjalani sebuah fase hidup baru. Apakah itu, saya belum tahu juga. Tapi ada hati kecil ini yang mengatakan, “Fani, kamu harus punya fase kehidupan baru”. 

Sekarang bulan November. Bulan depan sudah Desember. Sebuah kegusaran mulai tercipta. Iya, saya gelisah, karena dorongan hati kecil itu semakin kencang. Tapi saya bingung bagaimana menjawabnya. 

Ahh… saat hati bicara, kepala saya menjadi ragu.  Dan saya menjadi melodramatic malam ini.

Kind like me..

“Why you keep silent?” One day you asked me

It’s because you keep your distance.

I can’t be romantic person, you said

I don’t need romantic person. I need you.

 

Why you keep barrier to me? He said

It’s because too much feeling for you

Be honest with your own feeling

I am afraid you’ll be breaking it in pieces

 

“Who am I to have your heart?”

The kind like me won’t ever make your head turned to me

Who am I to ask you to give a care

Because I know what lie it would be

 

Who am I to have your heart

I even don’t exist in your real life

Who am I to ask you to give a care

Because I know I don’t have right to

 

Don’t say you love me, when it just a word in your mouth

Don’t say you care, When you would never be around when I am crying

Don’t say you love me, because i am lost

Don’t say you care, when I feel you step faraway from me

 

Why you keep overthinking about us?

I don’t know you anymore

You are not the girl who stole my heart

I don’t see her anymore

 

Stop asking ‘Why’

Don’t you think it’s fair, to see the moments just passed us by

Stop saying ‘kind like you’

Don’t you say heart can go to whomever it felt into

 

Don’t believe me, don’t just  believe me

Don’t just bluntly believe when I said ‘I need space’

And leave me with my bitterness and heartbroken

Just say “it’s useless, I will always be loving you”

 

Who am I to have your love?

You and I, we never

But that doesn’t mean i don’t

I want you to love me for the sake of loving me

 

060917 – 02:00am