Kind like me..

“Why you keep silent?” One day you asked me

It’s because you keep your distance.

I can’t be romantic person, you said

I don’t need romantic person. I need you.

 

Why you keep barrier to me? He said

It’s because too much feeling for you

Be honest with your own feeling

I am afraid you’ll be breaking it in pieces

 

“Who am I to have your heart?”

The kind like me won’t ever make your head turned to me

Who am I to ask you to give a care

Because I know what lie it would be

 

Who am I to have your heart

I even don’t exist in your real life

Who am I to ask you to give a care

Because I know I don’t have right to

 

Don’t say you love me, when it just a word in your mouth

Don’t say you care, When you would never be around when I am crying

Don’t say you love me, because i am lost

Don’t say you care, when I feel you step faraway from me

 

Why you keep overthinking about us?

I don’t know you anymore

You are not the girl who stole my heart

I don’t see her anymore

 

Stop asking ‘Why’

Don’t you think it’s fair, to see the moments just passed us by

Stop saying ‘kind like you’

Don’t you say heart can go to whomever it felt into

 

Don’t believe me, don’t just  believe me

Don’t just bluntly believe when I said ‘I need space’

And leave me with my bitterness and heartbroken

Just say “it’s useless, I will always be loving you”

 

Who am I to have your love?

You and I, we never

But that doesn’t mean i don’t

I want you to love me for the sake of loving me

 

060917 – 02:00am

First 5km

Tanggal 30 Juli 2017 adalah saat bersejarah untuk kehidupan olahraga saya. Iya, saya mengikuti 5km pertama di ajang event besar skala nasional yaitu Pocari Run West Java Marathon 2017.

Mengingat ke belakang, saya ingat sekali, saya pernah berkata, saya tidak akan mau berlari kecuali kalau dikejar anjing. Apalagi kepikiran buat jadiin lari olahraga rutin. Ewwww…! begitu saya suka berkata kepada orang-orang. Hahaha.. never say never. Sepertinya dek Justin Bieber kalau denger cerita ini, pasti menertawakan saya. Saya yang kemakan omongan saya sendiri.

Dulu memang saya akui, saya pernah berkata seperti itu. Tapi kemudian terjadi metamorfosis “badanku dulu tak segini..” dan saya membutuhkan olahraga rutin. Saya pernah zumba, yoga, gym, pound fit, tapi semua itu tidak long lasting karena memerlukan pengajar dan tentu saja tidak murah. Lalu saya lihat teman saya olahraga lari dan latihan 3x seminggu, dalam 3 bulan turun banyak.

Alhasil, mau tak mau (asli ini semata-mata karena awalnya saya pikir lari adalah olahraga mudah dan murah) saya coba-coba ikut olahraga lari. Saya dibawa teman saya, Epat untuk ikutan #NRCJKT , klub lari dengan sponsor dari Nike. Pengalaman pertama ikutan #NRCJKT, saya ditawari menu. Sayangnya bukan menu babi panggang dan nasi gurih plus sambal bawang (seadainya beneran :p ) tapi menu kecepatan. Oalaah, saya yang nubie tentu saja bertanya, apa itu. Ternyata para pacer ini (orang yang mengatur kecepatan lari) bertanya saya mau ikutan di kecepatan mana. Pilihan menu keepatan ada pace 4 s/d 8. Misalnya kamu pilih 4 berarti kecepetan per Km kamu adalah rata-rata 4 menit.  Karena pilihannya paling cepat adalah pace 4, saya tentu saja cari paling lambat. Saya minta pace 10 tapi ternyata maximal 8. Ya sudah apa boleh buat.

Diluar dari hasil kesan pertama adalah saya mengutuk-ngutuk para pacer yang membuat saya megap-megap kehabisan napas dan berharap saya bisa pingsan. Tapi di satu sisi, ikutan #NRC itu memberikan informasi tehnik berlari dengan benar. Diajarin pemanasan yang benar supaya ga cedera, atau streching juga latihan core muscles supaya kencang perutnya.  Minus larinya, latihan core muscle itu yang bikin saya mungkin bisa suka #NRCJKT.

Awalnya gak rutin, tapi metamorfosis ‘badanku sekarang jadi segini..” bikin saya mau tak mau harus berolahraga. For the sake of ukuran celana dan ukuran baju. Mulai dari situ, saya jadi rutin. Kadang kadang Sabtu pagi juga lari, tapi lebih sering seminggu dua kali setelah selesai bekerja di kantor.

Ikut satu race, jadi ketagihan ikut race-race lainnya. Tapi ternyata ga murah ya olahraga lari itu. Apalagi kalau event-nya besar. Rata-rata diatas Rp. 100,000 rupiah untuk event besar. Kalau sebulan ada dua aja, sudah Rp. 200.000 an. Belum kalau harus pagi-pagi ke venue, biaya transportasi (harus taxi karena tidak akan ada yang anterin saya) dan apalagi kalo race-nya di luar kota. Hahaha.. ini saya belum hitung dengan perlengkapan lari seperti celana dan baju dry fit yang rata-rata Rp.600.000 (padahal cuma celana pendek / kaos oblong). Saya belum sampai ke gadget tracking seperti Garmin watch, Sunto, dll. Luarrr biasa pokoknya.

Tapi sudah kepalang buat mundur, pun goal saya juga belum tercapai. Lari buat bisa dapatin bikini body. Gak gampang, karena ada latihan muscles dan diet. Amin-amin amin semoga tercapai. Di samping itu saya coba nikmatin saya. Saya memang tidak berminat jadi atlet lari atau pengen tembus marathon gituh sih, jadi olahraga lari ini saya gunakan untuk jaga badan dan kesehatan.

Sekarang sudah Agustus, awal September besok sudah ada race menunggu, setelah itu tunggu saja, saya pasti akan ikutan race lagi.

Ambil race pack

Ketemu Melani Putri – BA Pocari

Ketika napas terengah-engah dan masih 2KM to go

Finally, finish!

Bersama teman-teman baru..

9th

Lewat 1 bulan sejak posting terakhir. Okay, saya melewati 1 bulan tanpa membuat tulisan apapun. Hukuman adalah menulis 2 tulisan bulan ini. Semangat!

Sebenarnya banyak yang bisa ditulis, tapi sejak awal tahun ini saya berjanji untuk lebih menyaring tentang apa yang harus saya tulis. Jadi yang sifatnya terlalu curhat-ish itu mungkin akan masuk diary saja dengan rate pembaca 1 orang. C’est moi. Hehe.. so,

TW-niversary.

Satu bentuk kata baru yang diciptakan founder kantor kami. Artinya adalah ulang tahun kami selama menjadi karyawan kantor ini. (Tidak perlu dituliskan nama kantornya ya 😉 ).

Konsepnya sebenarnya adalah bentuk reward dari management kepada karyawan tersebut yang telah menjadi bagian dari kantor kami berupa ucapan thank you card dari founders / CEO kami yang ditulis langsung oleh mereka. Konsep ini dijalankan baru setahun ini kok dan saya langsung menyukai ide ini. Sebuah sapaan atau ucapan ‘Terima Kasih’ dari sosok penting di perusahaan bisa bikin rasa yang beda.

it my twiniversary

Seperti pada gambar di atas, saya genap 9 tahun pada 29 Mei kemarin. Tidak perlu ditanya tahunnya, cukup hitung dalam hati saja ya 😉 . Ini adalah angka terbanyak dari sejarah saya bekerja. Saya lulus dari kuliah dan langsung bekerja. Dunia saya langsung kerja, kerja, kerja. Sebagai lulusan baru, a fresh graduated, saya merasa sebutir debu yang tak berarti di dunia kerja, sehingga pekerjaan apapun saya ambil untuk mencari pengalaman tentang dunia bekerja.

Sedikit flashblack, pekerjaan pertama saya adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh semua lulusan fresh graduated apapun jurusannya. Call Centre. Yes, itu adalah pekerjaan yang paling banyak dibutuhkan saat itu, selain MT. Tapi kontradiksinya adalah persaingannya tinggi. Tapi saya beruntung; saya diterima. Untungnya lagi, sebagai garda depan perusahaan dengan customer atau calon customer, perusahaan menyadari bahwa para frontliners ini butuh dipoles dan dibekali wawasan. Baik wawasan produk maupun wawasan etiket sosialisasi profesional.

Saya ingat betul, ada satu pengajar yang sengaja didatangkan dari sebuah sekolah kepribadian terkemuka untuk memoles dan mengajari etiket. Keren kan?! Kami diajari bagaimana etika bersosialisasi dengan rekan kerja, dengan atasan, bahasa tubuh yang pantas dalam bekerja, bagaimana jabat tangan, cara sopan memberikan kartu nama sampai mind set dalam bekerja.

Sudah lama sekali, dan saya lupa nama pengajarnya tapi saya bersyukur pernah dapat materi itu dari beliau. Saya merasa bekal itu juga yang membawa saya sampai sekarang.

9th.

Selama itu di kantor yang sama, mungkin saya berada di comfort zone, atau mungkin saya sudah lelah pindah-pindah kantor atau sebut saja saya adalah generasi X yang diajarkan bahwa loyality is matter.

Kenapa ya saya bisa sampai 9th? Satu hal, saya merasa gelas saya setengah kosong terus. Sepertinya banyak sekali hal yang masih saya pelajari. Saya merasa selalu ada hal baru yang saya bisa dapatkan di kantor ini. Dari ilmu baru, team baru, tanggung jawab baru, ide baru.

Hal lain, saya merasa kantor ini  banyak mengakomodasi karyawannya yang ingin membuat sesuatu. Entah aktivitas, entah maenan tech baru, entah workshop, sampai memperbaiki SOP. Tidak ada yang absolut karena kantor ini berkembang mengikuti karyawannya. Bukan berarti segalanya tidak pasti, karena ada beberapa hal tidak bisa ditoleransi di kantor ini layaknya kantor-kantor lain.

Tapi maksud saya adalah kantor ini berkembang. Kondisi kantor dulu saat saya masih di tahun pertama atau kedua sangat berbeda saat kini banyak anak-anak muda millineal menjadi karyawan dan bekerja di kantor kami. Bos kami mengatakan kita tidak bisa memperlakukan mereka sama dengan gaya saat generasi saya menjadi fresh graduated dulu. Sehingga beberapa perubahan terjadi. Terus terang gak mudah, namun itu jadi membuat saya tersadar, proses belajar saya masih terus berlanjut. 🙂 Hingga tidak tersadar sudah 9th.

Banyak ucapan syukur untuk 9th saya di Think.Web. (akhirnya keluar juga nama kantornya).  Di Think.Web, saya banyak belajar, memulai dari seorang karyawan, dan kini belajar menjadi pemimpin yang baik. Di Think.Web juga saya menerima ilmu untuk mulai memikirkan masa depan dan akhirnya saya mampu membeli rumah. Tapi namanya juga belajar, ada malasnya, ada bosannya, ada rebel-nya hingga saya ada di titik ini. Bukan proses cepat. Saya bukan fast learner. Tapi terima kasih, saya punya mentor-mentor yang sabar banget.

Jika dianalogikan sebagai manusia, 9th adalah umur saat anak kecil mulai mempunyai geng dan mulai main sendiri tanpa orang tua. Iya, saya sudah berpikir begitu, banyak rencana untuk main tanpa orang tua. I am in brewing process. Semoga bisa lekas lebih mandiri *prok-prok.

Saya pernah menulis tentang ‘University of Thinkers‘  di tahun ketiga di kantor ini. Di tahun 9th, pendapat saya gak berubah. Kantor kami memang universitas dimana karyawan  tidak hanya dibayar akan spesialisasinya tapi diberikan kesempatan belajar. Ya, akan ada test, akan ada gagal, akan ada tantangan, tapi jika kita melewati proses itu, hasilnya akan kembali ke diri kita lagi. Tidak ada usaha yang sia-sia. Trust the process. Will lead you to good result.

Wish me luck!

 

 

 

Eulogy for my Old Man

 

Actually i don’t know what to write for my old man. But few days after 100 days Dad’s ceremonial, i feel like missing him so much. In fact Mom quicidently said 2 days ago, in the daylight, she was crying like never cry before because missing him.
And that’s the same feeling i have right now.
So it was true, you never really missed someone until you lost him. Me and Dad, we were not that romantic dad-daughther relationship, you know. We argued.. a lot. Mostly about little things, me with my smart-ass attitude and Dad’s childish behaviour.. 🙂
We expressed our love with jokes and laughing AT each other (not with) ;p and then arguing again, and ending it with laughing at each other. But nevertheless he’s always there.. or he was …
I remembered the time i still took the bus, whenever I always came home late from work, Dad usually picked me up at bus station. Even when it was rain at night and he knew he can’t see clearly because he lost one of his sight.
He would still nagging and gave me lecture about how  it’s not safe for a woman like me always came work late at night and bla bla.. but he never ask me to quit the job. He knew I love my job.
Yes, we didn’t talk love literally like  ‘i love you dad’. We were not that kind of family.
But he knew if i had problem,..
And i never forget that days when suddenly he asked me :”Opo Ndok?” (He spoke Javanese for this rare moments) when that night he picked me up,  while he turned up the motorbike and headed home. He maybe saw my crumpled face even that was night and he only have one poor eyesight.
Lately,  i felt like i was heard “Opo Ndok” in my ears (or it because i want it to hear it).. and that moments flashed back.
At the weekend, at home usually always lived up with sound of javanese songs or gamelan or he’s trying to nembang. He liked to sat there at the bench and read newspaper while humming this kind of music that i would never understand.
Now, no more Dad’s humming
no more javanese gamelan music
no more his voice who try to ‘nembang’
Mom don’t have the spirit to listen it again after he’s gone. Even my neighbours missed his humming. 🙁
I remembered one day we had argument, i forgot what we’ve been argued about, but he said, i remember clearly :”Berapa pun umur kamu, kamu tetap putri kecil bapak”.
And that’s what he did. When he got sicked, without our knowing, he prepared  everything that he knew i don’t capable to. Mom told me afterward.
And when he was still here, he prepared me so i am ready when he’s not there.
Funny thing, i thought when we are older we can more ‘ikhlas’ when someone dearly died. But i think it’s not. Lost someone for good whatever age you are, it is the same shit sad, but just different age.
I thought i have done with crying on the day he died. But actually i never really really cried. My head was too shocked. I didn’t gave myself real time to mourn.. or private mourn for him. And Mom.. i didn’t dare let myself be vurnerable when she needed me most. She has the hardest part..
So, i guess at this moment, i can have private time to cherish memories with my old man. And i can cry.. privately. And say out loud that I miss him.. everyday.

Sebuah Helaan Nafas

Sebuah helaan nafas malam ini kuambil beberapa kali

Sebuah helaan nafas mengartikan kesal
Sebuah helaan nafas mengartikan heran
Sebuah helaan nafas mengartikan pengertian
Sebuah tarikan panjang nafas membawa energi
Sebuah helaan panjang nafas mengeluarkan emosi
Sebuah tarikan panjang nafas menyertakan luka
Sebuah helaan panjang nafas membuang pengharapan
Sebuah tarikan ke dalam membawa rasa kekuatiran
Sebuah helaan ke luar menyertakan keputusasan
Sebuah tarikan ke dalam membawa kesedihan di mata
Sebuah helaan ke luar memasangkan topeng ceria
Sebuah helaan nafas malam ini kuambil beberapa kali
dan kusadari ada lara hati disana
dan kusadari kasih tak sampai menyelinap disana
dan kusadari tetes tetes dari sudut jendela hati
dan kusadar,…. sebuah helaan nafas panjang kembali kuambil malam ini

 

33

 

27th Oct 2014

Yeayyy Happy Birthday to me!
Today I am officially 33 years old. Whew! Thé number is really gives me an ooozzz feeling.

Like my prayer last night, 33 is twin number. Twin means double.. number that expect me to do two times better, two times wiser, two times mature, two times responsible, two times effort.

They said numbers doesn’t matter. They say being older doesn’t mean you getting better.. Or wiser.  Yes, I agree. Those things doesn’t come when you’re getting older, it earns from life experience and how each person learn from it.

But number –in this case is matter of age number– is a reminder that you’re not getting younger.. And you hâve to live it every moments of your life with best effort bécause time never repeat.

Back to 33.

I won’t make it too burden for me

Maybe it’s won’t only the hard parts. But i hope it cômes also thé happy parts.
Double happy
Double success
Double income (?) — halleluyaa Ameen! 😀

So, I whispered to myself “Happy Birthday dearest Me”
*puk-puk bahu sendiri*
“Be Strong, Be Happy, and always hâve Faith and true heart”.
Today (27th of October)  is going to be mémorable .

 

28 Oct 2014

and..turn out that day indeed memorable.

Thank You God for your blessed and giving me good life, good families, good friends around me all those years.

Fool me, twice

It just occured to me, I think I gave the wrong signal.

I gave 25 years old guy hoping that I would get serious with him. (which likely no way)

I gave 30-something man think I am easy. (WTF?!! Hell noway I am going do that)

 

 

 

 

 

How this can be so twisted?

So f**k! stupid stupid stupid me…

 

Just Because 3.30

One day my boss said about personal relationship and professional relationship. He said in work office, these 2 parts always come up together, so we must maintain good personal and professional relationship with co-workers.

This talk came up in one of managers meeting after some issue about miscommunication happened and it seemed affected the quality of work.

Particular in my office, that don’t have (yet) hundreds employees, so we’ll see and interact intensively with everybody everyday. That’s why personal & professional are need to make a great team work.

What’s definition of being professional? Do we need to get personal too?

In my perception personal relationship means you get into personality of the person. They ‘click’ you in a way so you’re enjoying their friendship or company and you must have these friends in your office.  And about being professional, this article explain well enough. It said there are 10 points, but what I love is that, in that article mention about practice good manners and proper etiquette and also mention about have high ethical and moral standards. 

There are my points. Being professional doesn’t mean you don’t need good manners or proper etiquette as long as your job are well executed and on deadline. But being professional also doesn’t mean what I care is you’ve done your jobs and I don’t care about you just got dumped and need some emotional support because it’s your bff’s job. No, it’s not like all that…

But it’s not easy to do both – personal and also professional. When we have good personal relationship with our coworker, they become friends (not just as coworkers) and maybe BFF or brothers in social life. The problem is when they do wrong (obviously wrong) and we must react based on objective rule. Can we be objective? Yes we can, but they’re friends rights. We love our friends and don’t want bad thing happen to them. Will or Won’t you be objective? or you’re just silent?

The other side also the same. (Because you’re my friend) make the work finish sooner, okay. (though you know your friend to do list is like Santa’s naughty boys’ list–too long to ask for favor). But the friendship sometime go overboard and forget the professional. The reason because you are my friend become ‘price’ to have special treatment. Do you have experience too?

I dunno why this is become hot topic lately, because I admitted to do what my boss asked is quite hard. Maintain a good personal & professional relationship turn out is not just being good at work and let’s lunch or hangout after office together. But how you can also put aside your personal feeling (or even your pride) while in office and be friendly in casual with your co-worker and also good communication in working for greater propose ( I mean propose is target billing. Oh i shouldn’t write that). Yeah…Just because it is 3.30 AM and I can’t sleep…

 

 

Souvenir from Barcelona – Madrid

As you know, i went to Barcelona-Madrid back then 2011. So, here are some of souvenirs. Bottom line, i want to go back again to europe and i hope this time not just 2 weeks, but one-two years or maybe rest of my life.

I forgot where was i

Me and friends in trem

Various places

My Life Would Suck Without You

So, kemarin malam aku mengalami salah satu malam yang tidak akan kulupa. Well, salah satu keuntungan pekerjaanku dan berada diposisiku adalah aku punya privilegde untuk memilih liputan mana yang ingin kuliput (jika klien kami yang merupakan salah satu brand rokok terbesar mensponsori konser musik artis international).

Jadi, begitu aku tahu Kelly Clarkson akan konser di Jakarta, aku langsung cek siapa sponsor-nya. Dan yes! Klien kantor kami adalah sponsornya) dan aku begitu senang aku pun mengumpulkan lagu2nya satu album untuk menambah mood ‘in concert’ itu sendiri. (itu ritual yang sering aku lakukan jika ingin meliput konser musik, agar dapat ‘feel’ nya).

Tapi ternyata ada sebuah issue yang membuat klien kami harus menarik keterlibatannya dalam acara itu, meski begitu konser jalan terus. Dan yah tentu saja,…semua batal. BATAL… kesempatanku menonton kandas. Aku bisa saja membeli tiketnya, tapi harga yang mahal membuatku well.. harus berpikir 10 kali untuk menonton itu.

Kemudian, hari-hari berlalu dengan sibuk. Aku sibuk dengan pekerjaan dan deadline. Sampai suatu hari, ketika kami di taksi menuju meeting, BFF ku di kantor mengatakan bahwa dia punya sesuatu yang aku mau akhir-akhir ini. Stupid me.. pikiranku langsung ke apparel (sepatu, baju, celana, dan tas yang memang sedang kuincer) tapi kupikir itu tidak terlalu urgent, dan ga mungkin BFFku beliin itu hehehe….(kecuali ulangtahunku).

….and suddenly i screamed..very loud! Aku benar2 kegirangan..aku terlonjak-lonjak senang karena aku tahu apa yang dia punya. Iya, dia punya tiket konser Kelly Clarkson (3 buah). Kita langsung berencana untuk pergi bertiga dengan 1 lagi teman kami dan kemudian kami sibuk dengan rencana baju dan kostum yang harus kami pakai.

Akhinya, pada hari ‘H’ kami siap! kami sudah punya sepatu, baju dan kami siap ‘jumping-jumping’ di konsert.

and… the concert really really awesooomeee. We dance and sing a long. Gosh.. we are screaming just to express our energy. Kelly just so perfect up there. She sangs 20 song which not a hit is left behind. Bener-bener sebuah konser yang memuaskan. Aku sendiri sangat menikmatinya, karena kami bisa ambil posisi agak ke tengah dan lumayan punya space untuk bisa bergoyang. I really really happy on that night! so happy, the euphoria still got in me untill today…

Really. Awesome..

here is some pics from Kelly Clarkson concert in Jakarta:

aku dan chicha

Kelly clarkson in concert - jakarta

Kelly clarkson in concert - jakarta

Kelly clarkson in concert - jakarta

Kelly clarkson in concert - jakarta