Kapan Kawin? Sekelumit Opini (part II)

source: gettyimages

“Jadi, elo dijodohin gitu sama emak elo?” Aga berbicara sambil melahap bakpao babi asin di depan gereja setelah mendengar ceritaku. “Yaa…asumsi gue sih begitu. Tapi sampai hari ini, yang namanya Bagas itu pun gak nongol-nongol depan gue,” jawabku sambil melirik sepasang muda mudi yang terlihat bergandeng mesra. “Eh, liat deh, Rachel sekarang sama James yaa..?” tanyaku. Aga yang sedang mengunyah bakpaonya mendengus sambil memutar bola matanya.

“Plis deh Cil, elo kemana aja sih? Mereka kan emang udah lama banget pacarannya. Ih elo tuh amnesia ya? Kan elo juga yang kasih tahu gue!” Aku hanya mencengir lebar sambil menggaruk-garuk kepala. Memang tidak sopan sih jika sehabis perayaan ekaristi, kami justru ‘siaran infotainment’. Tapi pembicaraan siapa dengan siapa sekarang sudah seperti makanan sehari-hari aku dengan Aga yang menjadi pengamat kehidupan muda mudi di gereja kami

“Eh, masa sih? Oia ya..aduh bego amat sih gue. Mulai pikun rupanya,” ujarku sambil mengetuk-ngetuk kepalanya berharap dengan begitu otakku agak sedikit lebih ‘encer’. Sepertinya sudah saatnya aku mengonsumsi ginko giloba, suplemen penguat memori.

“Tapi ngomong-ngomong pacaran, elo sama Andri’kan udah lama ya Ga, so, kapan…” Aga langsung membuat isyarat time out dengan kedua tangannya yang telah bebas dari bakpao.

Time out! Jangan sampai elo menanyakan pertanyaan sama yang elo selalu keluhkan ke gue ya Cil,” Aga sewot sambil cemberut.

“Hahaha…..upps! Gue lupa! Bener deh Ga. Jangan sampai deh gue jadi seperti Tante Bagio yang rumpi itu,” ujarku sambil cekikikan. Namun pertanyaan ‘kapan kawin’ sangat menggoda untuk tidak ditanyakan kepada pasangan yang dirasa telah menjalin hubungan cukup lama. Perumpamaannya ibarat,kamu lagi makan, pasti ada saja orang yang bertanya:”Makan apa?”

“Ga, gue mau rapat KKMK nih ntar jam 10.00, jangan pulang dulu dong! Temenin gue sampai rapat mulai yaa…”ujarku meminta Aga menunda pulangnya.

“Andri nunggu gue nih di parkiran..bagaimana Cil?”

“Yee….telpon dong, suruh nunggu kek sebentar. Setengah jam doang. Anak-anak yang lain soalnya juga lagi pada pulang dulu,” ujarku memberikan beberapa penjelasan logis. Agatha, sahabatku akhirnya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Andri. Setelah ada sedikit perbincangan sambil ketawa-ketiwi, Aga menutup ponselnya dan kembali duduk bersamaku di tangga depan gereja.

“Bagaimana?” tanyaku. “Iyaa…you win! Lagian Andri sebenarnya mau ke bengkel. Daripada gue bengong trus digodaain sama orang bengkel, mending gue di sini nemenin elo,” ujar Aga lagi sambil tersenyum manis dan memberi tatapan i-am-your-best-friend-and-you-owe-me!.

Aku sangat salut sama sahabatku satu ini. Jujur, aku tidak tahu apa yang membuat dia dan Andri tidak kunjung meresmikan hubungan mereka dalam ikatan suci pernikahan.Mereka telah menjalin hubungan cukup lama dan sepertinya sudah sangat mengenal satu sama lain. Aga sendiri sudah bekerja dan cukup mapan begitu juga dengan Andri. Dengan gajinya sebagai manager, seharusnya mereka sudah bisa mengumpulkan uang untuk biaya menikah. Selain itu, orang tua mereka berdua terlihat sudah cocok dan mau ‘berperan serta’ jika mereka memutuskan untuk menikah. Bagiku mereka adalah perfect couple. Cinta, pengertian, saling menghargai, dan menerima apa adanya antara satu dengan yang lain. Tapi, itupun tidak membuat Aga dan Andri segera menikah.

“Ga,…jangan marah dulu. Sebenarnya apa yang membuat elo tidak kunjung menikah dengan Andri?” tanyaku penasaran. Halaman gereja sudah kosong. Beberapa orang yang biasanya mengumpul dan saling bertegur sapa telah pulang dan melanjutkan aktivitas mereka.

“Emang nikah itu seperti pesan nasi goreng delivery order?” tanya Aga retoris. “Maksud elo?”

“Ya,maksud gue, menikah itu gak gampang tau Cil. Mentang-mentang kita cinta sama pasangan kita, semudah itu kita memutuskan menikah dengannya? Gue cinta sama tinkerbell, anjing gue, tapi bukan berarti gue nikah sama dia’kan?” jawab Aga asal.

“Yee, elo gimana sih? Masa rasa cinta ke Andri disamain ke Tinkerbell? Kasian amat Andri…”

“Hehehe….becanda tau! But, basically menikah itu gak semudah itu deh.”

“Gak mudah bagaimana? Elo kan tinggal mengkangkang aja…beres’kan?!” jawabku juga asal. Alhasil, Aga justru menoyor kepalaku karena jawabanku yang vulgar.

“Elo ngaco banget sih!Menikah neng…bukan kawin,”  Aku hanya senyum lebar. Namun, beberapa menit kemudian kami berdua saling terdiam. Kami membaca warta paroki bagian berita perkawinan.

“Kenapa disini ngomongnya berita perkawinan? Bukan berita pernikahan? Hayooo….?” tanyaku menantang. Aga dengan konyolnya juga mengiyakan karena ia sama bingungnya.

“Gak usah dibahas deh! Elo suka nanya aneh-aneh,”Aga kembali mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan singkat kepada Andri.

“Eh, eh, kemarin kata nyokap, pengeluaran biaya pernikahan Aline itu sampai 70 juta-an lho!” ujarku sambil membuka topik tentang pernikahan salah satu teman kami yang belum lama menikah. “Ya iyalah…, secara ia ngerayain pesta di gereja juga, di gedung juga. Selain itu, ia kasih seragam dari panitia, koor dan sahabat-sahabat terdekatnya,”kata Aga sambil menopang dagu. Aku dan Aga langsung berkhayal apakah kami akan memiliki pohon uang yang bisa memberikan uang sebanyak itu.

“Itu duit semua tuh?”tanyaku bodoh.

”Bukan, daun! Ya iyalah Cil…masa sih bayar pengeluaran resepsi pakai daun nangka?! Kalau bisa sih, gue udah nikah dari kapan tahu, secara pohon nangka di kebun gue lagi rimbun-rimbunnya.”

“Mahal bener ya biaya pernikahan itu. Gilaa….apa lagi kalo gue pake adat istiadat jawa yang ada siraman, widodareni, jualan cendol, puiiihhh….gila mo kawin aja ribet bener,”ujarku sambil mengingat repotnya pernikahan sepupuku setahun lalu. Aga hanya terdiam. “Kalau gue menikah nanti, pokoknya gak ada tuh acara begituan apalagi resepsi. Pokoknya abis pemberkatan di gereja, ntar semua orang gue kasih nasi kotak aja, biar ngirit,” ujarku lagi.

‘Hahahahaha……mana bisa begitu?! Nih gue kasih tahu, even cuma pemberkataan di gereja, elu tetep kudu musti mengeluarkan uang dan tetep bow! Jutaan,” jawab Aga sambil tetap cengengesan.

“Hah!?Buat apaan aja emangnya?,” “Oke, nih ntar kalau elo lagi bener-bener bengong di rumah, elo coba deh itung-itung kasar. Ini pengeluaran di gereja aja ya karena elu bilang  gak mau ada resepsi,” kata Aga sambil mengeluarkan kertas corat-coret. Aga kemudian memulai perinciannya.

“Mulai deh dari sewa gereja. Kalaupun gerejanya gratis, emang elo gak bayar listrik? Belum lagi kalo elo pilih gereja yang ber-AC, tambah mahal’kan?!”

“Oke, gereja, listrik dan soundsystem,” ujarku sambil menulis.

“Lanjut ya, emang elo gak kasih fee buat yang bersih-bersih gereja? Putra altar? Trus koornya bagaimana? Kalau elo gak mau ibu-ibu yang nyanyi, kan musti manggil wedding singer choir yang professional.

“Terus,tuh gereja memang gak dihias bunga?,”tanya Aga retoris. Aku kembali menulis, bunga, fee kebersihan, koster, putra altar, paduan suara.

“Pake koor lingkungan aja biar murah. Mereka kita kasih seragam aja sebagai tanda terima kasih,” aku memberi alternatif.

“Justru lebih mahal tau! Emang elo gak kasih duit buat jahitnya? Terus, tuh ibu-ibu dan bapak-bapak masa gak dikasih makan?,” tanya Aga lagi. Aku menambah lagi item konsumsi di daftarku.

“Jangan lupa tamu memang gak di kasih souvenir? Kan elo gak ada resepsi,” Aga menambahkan item baru di daftarku. “Tuh, cuma segini kok,” ujarku sambil memperkirakan biaya total kira-kira.

Aga merebut list-ku dan menambah beberapa item lagi. “Emang perlu apa lagi sih? Kan udah semua?”

“Nih ya, emang elu mo pake daster dan kunciran doang kalau mo married? Kebaya, make up belum elo masukin, belum lagi seragam buat dua keluarga, terus elo sama calon suami emang mau naek angkot ke gereja-nya? Pasti sewa mobillah, nah coba udah berapa pengeluarannya. Belum lagi dokumentasi, supir dan keamanan,dan….” suara Aga seperti menggaung ditelingaku. Aku menambah semua item-item yang belum kumasukkan ke dalam daftar kasarku.Setelah kulihat, aku hanya menaikan alisku satu dan bersiul nyaring.

“Gilaaa, mahal ya bow! Gue gak pernah mikir sampai sedetail ini,” ujarku sambil garuk-garuk kepala. “Kalau begini repotnya, kayanya saudara kita yang muslim jauh lebih beruntungnya ya Ga. Cuma bayar mesjid, dan penghulu aja jadi deh suami istri,” celetukku. “Hehehe…iya yah.Hmm..mending elo ikutin jejaknya Anna Nicole Smith[1] tuh. Hihihi..elu cuma perlu bawa diri doang, trus tinggal nunggu warisan beres deh!,”balas Aga lebih asal. “Hahahahahahahahaha…..gilaaa!” aku menoyor kepala Aga pelan, tapi kemudian kami tertawa bersama. Pembicaraan kami tentang kawin, nikah, dan hal-hal seperti itu memang menjadi obrolan menarik yang tidak pernah selesai dibahas. Meski diskusi kami tidak pernah tuntas atau mendapatkan solusi, kami tidak peduli. Sebagai fun fearless female yang sudah memasuki umur seperempat abad, kami hanya menjalani apa yang hidup berikan pada kami sebaik-baiknya dan melakukan apa yang kami inginkan.Lainnya, terserah Anda! J (St.)


[1] Artis AS yang menikahi seorang milyuner AS 65 tahun lebih tua darinya. Banyak perdebatan, ia menikah karena mengicar harta saja. Anna Nicole Smith meninggal karena over dosis tahun lalu.

Kapan Kawin? Sekelumit Opini (part I)

source: gettyimages

“Hah?! Dijodohkan??”tanyaku dengan nada setengah oktaf lebih tinggi. Di era digital dan super hitec ini aku masih heran masih ada saja sistem Siti Nurbaya-Datuk Maringgih. Hebatnya, keduaorangtuaku’lah yang menganut sistem ‘Siti Nurbaya’ ini.

“Iya nduk..putranya Bu Sastro itu S2 lho dari ITB. Sudah bekerja dan bibit, bobot, bebetnya jelas,” jawab ibu dengan sedikit promosi. Aku hanya memutar bola mataku yang diartikan I don’t care.

Sebenarnya mungkin dan sangat jauh di dalam benak orangtuaku, mereka bukan penganut sistem “Siti Nurbaya-Datuk Maringgih”. Ini semua berawal dari sebuah resepsi pernikahan anak salah satu teman dari ibuku. Ibuku perempuan yang cukup aktif baik di lingkungan masyarakat dan gereja. Karena itu ketika ia mendapat undangan, beliau sebisa mungkin mengajak anak-anaknya. Untuk masalah ini, kakakku entah kenapa selalu bisa menghilang. Alhasil, aku sebagai anak perempuan beliau satu-satunya, aku harus kudu musti wajib ikut.  Apa boleh buat. Lumayan’lah makan gratis, pikirku setelah menimbang-nimbang. Tapi sepertinya datang ke resepsi itu adalah keputusan yang aku sesali kemudian karena buntutnya adalah masalah-masalah dan masalah.

Awalnya biasa saja, kami datang, bertemu beberapa teman-teman CS-an ibuku, menyalami mempelai pengantin dan menikmati hidangan prasmanan yang telah tersedia. Aku berencana untuk menikmati menu-menu makanan yang ada dengan khusyuk namun harapanku meleset. Tiba-tiba saat sedang makan kambing guling, sebuah tepukan halus menepuk pundakku.

“Ya ampuuun! Ini Cecile putrinya ibu Sudiro ya? Sudah jadi perawan yaa…”ujar sebuah ibu dengan perawakan besar dengan kebaya lengkap dengan sanggulnya. Aku otomatis menyengir ramah dengan harapan semoga kambing guling di mulutku tidak berontak keluar jika aku tersenyum lebar. Ibuku yang sedang berdiri di sebelahku langsung berhaha-hihi sambil mengobrol dengan bahasa jawa yang aku kurang mengerti. Aku sejenak berpikir, kenapa sih orang-orang menyebut perempuan yang telah tumbuh besar dengan kata “perawan”? Memang sewaktu kami masih muda tidak perawan begitu? Kenapa juga tidak disebut, “Sudah besar atau sudah dewasa” atau apalah..toh masih banyak kata-kata lain yang bisa digunakan. Oke! Sampai dimana kita tadi?

Setelah mengobrol ngalur ngidul, tiba-tiba Ibu Bagio, that’s her name by the way, melontarkan sebuah pertanyaan sangat cliché.

Kowe kapan nyusul nduk?” tanyanya dengan nada keibuan. Argghh…pertanyaan itu lagi-itu lagi. Terus terang aku mengeluh. Bukan karena tidak bisa menjawab, namun mengapa pertanyaan yang dilontarkan semua orang selalu sama: Kapan Kawin? Well, bagi mereka yang telah memilliki pasangan atau tunangan mungkin akan menjawab dengan enteng dan mudah. Masalahnya aku ini’kan single. Ehm, aku ralat, aku ini’kan fun fearless single female. Jadi pertanyaan mereka sangat menggelikan bagiku. Coba aku tanya, jika kalian tidak saling menahu tentang kabar masing-masing dan kemudian bertemu, apakah kalian langsung bertanya: Kapan punya anak?” tanpa tahu kalian ini sudah menikah atau belum. Nah, begitu juga dalam hal kasus ini. Mengapa pertanyaan “Kapan Kawin?” atau ‘Kapan menyusul?” itu selalu menjadi most frequent question to ask? Terlepas apakah kamu sedang berada di dalam situasi resepsi pernikahan atau tidak.Lagipula, apakah hidup harus melulu tentang menikah? Pasti masih banyak yang diinginkan orang selain menikah, misalnya: keliling dunia, bungee jumping, arung jeram, kursus merajut, ikut Indonesian Idol atau apa pun itu. Pastinya banyak yang ingin dilakukan dulu sebelum menikah. Benarkan?

Mengapa juga mereka tidak bertanya: “Kamu sudah bekerja belum?” atau “Kamu kemana saja tidak pernah kelihatan?” dan sederet pertanyaan yang bisa dilontarkan.

Menjawab pertanyaan Ibu Bagio, aku hanya menjawab pendek. Jawaban sama seperti orang-orang yang telah menanyakan pertanyaan itu lebih dulu.

“Secepatnya tante!Yang pasti Sabtu malam,” ujarku pendek. Ibu Bagio tentu saja langsung menyambut jawabanku itu dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan layaknya wartawan infotainment yang mendengar ada artis bercerai.

“Oh ya? Dapat orang mana Cil? Tanggal berapa? Tante diundang dong,” balasnya langsung merepet. Aku senyum-senyum sendiri saja. Jebakanku berhasil! Kataku dalam hati. Ibuku yang melihat ulahku hanya menggeleng-geleng.

“Cecile ini suka bercanda kok jeng! Dia masih lajang. Entahlah jeng,…rasanya Cecile emoh karo cah lanang. Aku mumet! Nek karepku, gek ndang gek nimang cucu,wes..” kata ibuku menimpali jawabanku. Aku melotot pada ibuku yang suka ceplas ceplos. Aduh, bagaimana sih ibu ini. Kok malah ada curhat colongan di sini. Alhasil aku hanya menyengir kering.

Namun, reaksi ibu Bagio yang dikenal cukup rumpi ini justru menunjukkan antusias. Terutama bagian saat ibu mengatakan aku masih lajang.

“Eh cil, kamu kenal Bagas gak?” tanyanya tiba-tiba. Aku menggeleng. Mana aku tahu. Aku saja baru mendengar namanya saat ini jawabku dalam hati.

“Si Bagas itu baru lulus S2 lho Cil di ITB. Masih lajang juga kaya kamu…” tuturnya menambahkan. Oke! Sepertinya aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Dan aku mulai tidak menyukainya. Sebaliknya ibuku justru bersemangat. “Oh…si Bagas yang kuliah tehnik di ITB itu. Sudah rampung studinya toh?” tanya ibuku.

“Sudah! Sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan minyak. Apa yaa namanya…Itu lho perusahaan asing dari Inggris,”katanya sambil berusaha mengingat “Itu lho nduk yang kantornya di TB Simatupang” ujarnya menambahkan.

“Ee..British Petroleum maksudnya tante?” jawabku. “Nah, itu dia! Susah banget mo ngomong. Gini deh kalo lidah wong ndeso,” balasnya dengan sedikit rasa bangga yang ditunjukkan. Aku tersenyum saja. Sebaiknya diam saja deh daripada cari masalah pikirku.

“Iya Cil, Bagas itu kerjaannya cuma kantor-rumah-kantor-rumah saja..lama-lama bisa kuper dia. Kamu ajaklah dia kenalan sama temen-temen gereja. Ajak aktif di kegiatan gereja biar gak di rumah terus,”ujar Ibu Bagio. Hahaha…tawaku dalam hati. Nice try tante! Aku bisa melihat bahwa kedua ibu ini sedang berusaha menjodohkan Bagas dengan aku.

“Mungkin dia memang senang di rumah tante, toh sudah lama sekali meninggalkan rumah! Wajar dong tan kalo ingin di rumah saja,” balasku.

“Iya memang. Tapi kalo kelamaan ya gak bagus. Gak kenal gadis nanti. Apalagi yang seiman,” Ibu Bagio tetap berusaha. Aku hanya berO-ria. Ibuku yang dari tadi dia langsung mengambil celah itu.

“Kamu ajak dia ikut KKMK saja Cil.. supaya kenal banyak orang,” usul ibuku yang sudah bisa kuprediksi. “Oke deh. Nanti kalau ada aktivitas di gereja, saya ajak deh Bagas,” ujarku mengalah. Bendera putih harus dikibarkan sekarang. Fun fearless female meski fearless pun harus tahu saatnya mundur. 2 lawan 1 gak mungkin bisa menang.

….. to be continue …..

Aku & WordcampID

Pertama kali datang ke Wordcamp Indonesia yang udah 2 kalinya diadain. Kali ini di Gunadarma, Depok tanggal 30 Januari 2010.

Hmm… kesan pertama adalah kedinginan. Kesan kedua, merasa paling ‘hijau’ tentang WP diantara para aktivis WP yang ngomongnya udah pake bahasa planet.Bener-bener newbie

Kesan ketiga, adalah gw seperti masuk kelas anak2 cerdas.. pada bawa laptop terus semuanya aktif bertwitteran. Thanks God, hape gue sudah mumpuni untuk melakukan twiiter dengan ‘nyangkut’ ke wifi yang tersedia. Alhasil, gw pun bisa ikutan ngetwit.

Kesan keempat, gue bener2 gak ngerti sama materi yang dipresentasiin. Pake bahasa planet juga. Blank.. tapi untuknya si bule Beau Lebens ngomong bahasa inggris. Meski software translating otak gue belum canggih, tapi yah.. gue bisa nangkep deh dikit apa yang mo disampaikan si bule itu. Meski..so sorry nih ya Beau.. cara presentasinya agak membosankan dan tidak bersemangat. But.. yeah.. thanks for coming!

Kesan kelima, konsumsi yang enaaaakkkk…………. dari snack yang nambah mulu. Sampe makan siang yang buffet (bukan nasi kotak seperti bayangan gue). Kalau gak bracket gue yang sedang bermasalah, gue pasti akan mengambil semua makanan disana. :p

Kesan keenam, too badd for me cant follow until the end. Darn! Pasti heboh.. ada foto2 dengan semua peserta. Apa boleh buat, orang sibuk! :p acara lain sudah menunggu kehadiran gue. Satu lagi yang sangat disayangkan, ga bisa ikut kompetisi buat speed writing contest dari ACER. Iseng-iseng berhadiah netbook.

Kesan ketujuh… setelah sekian lama gw tidak ke Depok, akhirnya ke Depok lagi. Dan… kembali inget bahwa jalanan Margonda maceeeeeeetttt gilaa kalo hari sabtu. Paraaahh…

Bersama Beau Lebens dari AUTOMATTIC

xoxo 😉

Ps: semoga kantor bisa sponsorin lagi buat WordcampID next year weeekekekeke..

Finally… Menapak ke Luar Indonesia #2

Ada kejadian agak disesalkan.. karena gw sebenarnya ingin melihat Little India. Tapi karena waktu yang terhambat dan banyaknya tempat yang harus dikunjungi, Little India kami lewati..

Selama 3 hari 4 malam kami hampir selalu berjalan.. gosh! Bener2 suatu perbedaan drastis, karena di kantor, kami biasanya selalu duduk. Tapi ini benar2.. kaki rasanya mo copot. Dengan sepatu yang sebenarnya sudah nyaman, gw cukup terbantu.. namun karena panjangnya rute yang harus ditempuh, lecet pun tidak terelakkan. *sigh*

I Feel Christmas.. J

Seumur ini selama hidup di Indonesia, gw ga pernah benar2 merasakan ambience christmas di Jakarta Raya ini. Maksud gw, benar2 merasakan seperti di film-film natal, ketika kota berhias diri untuk menyambut Christmas. Well… agak susah memang. Kecuali di mall besar, dan rumah-rumah yang merayakan, bisa dibilang saat Christmas ya gitu-gitu aja..

Nah, beda banget di Singapore ini. Gw benar-benar amazed dengan negara itu. Sepanjang jalan Orchard Road, jalan yang emang terkenal akan mall2nya, gw bener2 merasakan Christmas…bahwa sudah Desember, dan it’s Christmas. Setiap sisi jalan dihiasi lampu-lampu warna warni yang meriah, lampion-lampion, dan pohon-pohon natal di setiap sudut kota. Bahkan ada patung2 santa Claus dan Rudolf juga kereta salju yang penuh akan hadiah. Belum lagi mall-mall yang berhias secantik2nya untuk Christmas ini. Bener cantik dan Christmas time.. yang kurang menurut gw Cuma salju aja.

Finally…. Menapak ke Luar Indonesia.. #1

Pagi-pagi tgl 3 Desember jam 3 subuh gw terbangun dengan penuh kesadaran (agaknya memang tidak bisa tidur lelap juga). Setelah mimpi ketinggalan pesawat, yang gw alami kemarin malamnya, malam itu emang gw ga bisa tidur dengan tenang. Because im sooo excited..

Hari itu kantor akan outing ke Singapore. This is the first trip abroad actually.. and I sooo exciteedd.. yeay..!!

Setelah mengurus fiscal dll, kita masuk ke Bandara untuk take off.  Semuanya baru untuk gw.. suasana departure internasional , petugas imigrasi, semua gw lalap dengan memandang dan memperhatikan.

Ketika teman2 yang lain bersenda gurau, gw merasakan sensasi baru ini dengan diam.

Changi, It’s the most awesome airport..

Wooow… finally, we landed in Changi airport. Kesan pertama gw buat airport milik negara tetangga ini adalah  WoooooooWWWW… lots of “W” and “O”. Gw poto2 dulu pastinya di airport nan keren. Airport ini sudah mencerminkan gimana negara yang gw datangi ini. Modern, bersih dan tertib. Yup that’s it!

It’s Amazing Race

Oia, krn disana adalah dalam rangka outing kantor, jadi pihak kantor sudah menentukan beberapa tujuan yang “wajib” dikunjungi dalam bentuk permainan Amazing Race. That’s cool! Jadi tidak terlihat berbondong-bondong ke sini dan kesitu juga. Jadi satu kantor dibagi menjadi 4 kelompok dan yang berhasil sampai ke tempat2 yang ditentukan akan dikasih tambahan uang saku. Weessss….

FYI, kelompok gw (kebetulan gw ditunjuk jadi ketua regu) ga menang.. kwaa kwaa… what a heck!

Oia tempat-tempat yang menjadi tasks kita adalam Mint, Museum of Toys, Merlion, Singapore Zoo. Ada juga tempat-tempat yang menjadi tujuan kita adalah Science Centre,  China Town, Clarke Quay,Museum Desain Red Dot dan IKEA.

“Ant’s World”

Banyak banget tempat2 yang bisa jadi background poto2 hahaha… it’s just too bad, kita ga ke Little India dan Bugis Junction. But cerita itu nanti saja. Amazing Race itu membuat kita harus pakai MRT dan Bus. Well… namanya naik kereta sih bukan pertama buat gw, tapi turun ke bawah tanah, naik kereta bawah tanah yang super cepat dan nyaman, itu baru pengalaman baru. Stasioun MRT letaknya dibawah. Ada 3 level ke bawah.  Saat menuju MRT, gw bener2 takjub. Di bawah itu sebuah “kota” tersendiri. Semuanya terhubung dibawah.  Layaknya semut dengan kota bawah tanahnya, itulah kesan yang gw dapat di Singapore ini. Segala hiruk pikuk terjadi di bawah tanah. Ya emang sih diatas juga banyak orang. Tapi lebih crowded di bawah.

Reunion

krucil Jumat sore pk. 16.00. Sebenarnya gw sudah gak konsen untuk kerja. Ho..ho.. bukankah sesuatu yang biasa? Pastinya yang merasa seperti ini bukan cuma gw aja. Ha! Friday, c’mon.. ini adalah harinya malas bekerja! haha.. begitu status temanku di twitternya.

Akhirnya niat kuat terkalahkan dengan kemalasan :p (sorry bos), gw bergegas pergi meninggalkan area Grand Wijaya Center menuju Senayan City.

That’s a life from a girl in big city. Friday night, whooozzz… gone to mall asap! Hehehe…  Selama di perjalanan menuju venue, gw mengingat ke belakang tentang teman2 yang akan gw temui. It’s just 4 of us, and yet, i was excited. Yup! Kami memang punya memory sendiri-sendiri. Setelah beberapa tahun sibuk dengan kesibukan masing-masing, baru kali ini kami bisa ketemu lagi. What a life! padahal kami semua tinggal di Jakarta.

Setelah tanya sana-sini, akhirnya ketemu juga venue meeting point kami. Achh… itu mereka! Betapa mereka tidak berubah! Padahal 2 diantaranya sudah punya anak! Oww… i realize i miss them so much. Yup! When we are together, as if we are always together, you know? Seperti kami selalu bertemu setiap hari, padahal yah.. ini sudah beberapa tahun lewat!

Ah.. Bebek, Nci dan Teteh.. kalian sama sekali tidak berubah. Saat kita semua berkumpul, rasanya kita seperti zaman dulu, saat bolos bareng dari kantor, mencoba mengkadali atasan. Betapa tahun-tahun sudah berlalu..

Reuni semalam membuat saya terpikir dengan reuni yang lain. Sabtu ini justru akan ada big reunion dari SMA gw. Entah kenapa, gw justru merasa enggan datang. Males datang karena belum ada perubahan nasib? belum ada sesuatu yang bisa dibanggakan? Walau bukan itu alasannya.. tapi bukankah akan keliatan keren ketika datang reuni akbar, jreng..jreng.. teman-teman akan melihat sesuatu yang berbeda. (pengennya sih begitu)

Tapi gw lebih berpikir, apakah teman2 gw dulu mengingat gw? Masa SMA dan SMP gw bukanlah masa terbaik gw. Gw termasuk dalam kumpulan orang yang biasa. You know… avarage in everything, beauty, brain, and behaviour. No one will remember me because avarage is avarage, nothing special. Jadi, gw pikir buat apa ikut reuni akbar ntar malam.

Jadi, gw memutuskan tidak ikut. Disamping hal-hal teknis lainnya. Apakah gw beranggapan buruk kalo reuni akbar lebih berupa ajang pamer? ajang loe datang sama sapa? lebih berupa how success your life is? Well… isnt it?

Reuni memang sangat menyenangkan jika kumpulannya adalah orang-orang yang memang kita kenal dan sosok yang akrab. Itu akan jadi sebuah acara yang menyenangkan. Tapi jika terlalu besar pun, akhirnya hanya akan jadi acara biasa, ngobrol basa-basi tanpa arah. Well… say im skeptical person. But, i preffer reunion with friends that i know so well.. wouldnt you too?

envy? no.. i'm just human!

“Why she is so happy? why she is so lucky? What she has that i dont? No, she’s not preety, just have a fairer skin” 

envy - gettyimages

 Bukankah semua pernah merasakan seperti itu atau perasaan serupa? Okay, silahkan tanyakan diri sendiri, gw tidak akan menjudge klian. Gw hanya ingin menganalisa perasaan yang sedang gw rasakan saat ini. Yup! Entah kenapa, gw 

merasa envy kepada beberapa orang akhir-akhir ini. Envy ketika mereka bisa berkata “I’m happy” karena gw gak sendiri tidak mampu mengucapkan itu.  

Lucunya, envy itu mampu membuat gw menjadi orang yang bukan diri gw sebenarnya. Membuat gw lupa bahwa mungkin sebenarnya dengan kondisi gw, gw punya lebih dari 1 alasalan untuk berkata “Im happy”. What a pity? Sering 

juga envy membuat gw menutup mata dengan kenyataan yang ada. Tidak objectif. 

Contoh deh: Sebagai cewek yang bukan termasuk cantik sesuai deskripsi umum cantik (tinggi, putih, dan berambut panjang, juga kurus) agak sulit mengakui seorang cewek itu cantik. Alih-alih mengakui dengan gamblang, gw menolak dengan alasan, “Terlalu kurus, modal putih aja, biasa aja, putihnya gak asli, alisnya palsu” dan alasan-alasan lain. Namun sebenarnya, itu berasal dari ketidakmampuan gw memiliki itu semua. 

Well, as i quote from i forgot who,  “To make yourself look good, you have to make others look bad” sometime we do that kind a thing right!. Seakan-akan tidak mungkin orang bisa sesempurna itu. Iyalah, kita langsung mencari cela dari orang itu. Tapi selain memunculkan sisi gelap seseorang, envy bisa memunculkan rasa kompetitif seseorang.  Guys, you must know, girls are very competitive human being. Misalnya: kita lihat seseorang punya tubuh lebih kecil, jika tidak puas dengan diri kita, kita rela lho gak makan dan sengsara demi bisa punya tubuh lebih ok dari orang yang kita lihat.  Okay mungkin gak semua, tapi slight thought pasti pernah terlintas.

Tapi bagaimana jika orang itu sengaja melakukannya agar kita iri? Nah, itu yang paling menyebalkan. Segala sesuatu yang dia perlihatkan sudah bernilai negatif deh di mata gw. Lalu, hasilnya, gw justru semakin rendah dan merendahkan dia. Really sucks! I cant help it if i did something awfull to her. 

Dan sekarang gw masih merasakannya, gak tau mpe kapan selesai, mungkin belum selesai sampai gw mendapatkan alasan why?! dosa? sapa yang bilang bukan? gw sangat tahu itu dosa, but hey.. im just human!