Dua tahun lalu, aku mengira menganggur itu seperti liburan panjang. Ternyata menganggur itu seperti terlalu lama berdiri di peron, menunggu kereta yang mungkin tidak akan datang, sambil melihat orang-orang lain naik dan pergi dengan tiket yang entah mereka dapat dari mana.
Aku tidak menulis ini untuk dikasihani. Aku menulis ini karena kalau tidak kutulis, aku takut akan menjadi orang yang pahit. Dan aku tidak mau jadi orang pahit.
Kalau kamu sedang di peron yang sama, selamat malam. Kamu tidak sendirian. Duduk saja dulu. Aku bawa teh.
00:00 & 45
Angka di kalender dinding bergeser tepat ke tengah malam, dan aku resmi menyambut usia empat puluh lima. Tidak ada dentang lonceng atau terompet pesta yang meriah, hanya suara detik jam dinding yang terdengar seperti ketukan palu hakim: lambat, menghakimi, dan penuh kepastian. Di luar sana dunia tidur lelap, sementara di dalam kepalaku, pertempuran kecil meletus setiap kali aku menarik napas.
Hidup tanpa kepastian ternyata bukan sekadar tentang tidak tahu apa yang terjadi esok hari. Ia adalah seni berjalan di atas jembatan kaca yang retak, di mana setiap langkah terasa seperti tebakan terakhir. Di usia ini, dunia mengharapkan kita sudah memegang peta yang lengkap—rumah yang lunas, tabungan yang tenang, dan senyum yang tegak dan percaya diri. Namun, kenyataannya jauh lebih sunyi.
Ada ketakutan yang merayap di ujung malam, berbisik tentang tagihan KPR yang terus berjalan di atas tanah yang seolah runtuh, sementara rekening tabungan menipis menjadi butiran debu yang sia-sia. Setiap klik tombol ‘Kirim’ pada lamaran kerja rasanya bukan lagi sebuah harapan, melainkan ritual menyumbang sampah digital ke dalam kehampaan—surat-surat cinta yang ditujukan pada koridor kosong yang tidak pernah bergema.
Dan yang paling melelahkan dari semua ini adalah lakon yang harus dimainkan setiap hari. Kita dituntut untuk mengenakan senyum paling ramah di hadapan dunia, seolah segalanya baik-baik saja, padahal di baliknya ada rahang yang mengatup kaku menahan lelah. Mengapa dunia begitu marah pada wajah yang jujur pada kesedihan?
Lalu datanglah anjuran-anjuran suci itu. “Bersyukurlah.” Aku mencoba. Tuhan tahu aku mencoba. Tapi ketika tagihan datang dan kepala pusing memikirkan esok hari, feeling like a crap terasa jauh lebih jujur daripada memaksakan rasa syukur yang hampa. Rasanya kosong.
Kita juga diminta untuk berdoa, bersandar pada janji-janji langit, dan dihibur dengan kalimat klise bahwa “God works in mysterious ways” atau “Semua akan indah pada waktunya.” Tapi malam ini, di titik terendah ini, kejujuran jauh lebih mendesak daripada penghiburan murah. Muncul sela-sela skeptisisme yang tajam: Apakah Dia benar-benar bekerja dengan cara misterius, ataukah Dia sedang membiarkan kita berjalan sendirian di dalam gelap, sementara doa-doa kita hanya memantul kembali dari langit-langit kamar yang dingin?
Aku bahkan sempat berpikir, Tuhan memang mendengarkan doa-doa manusia tapi pelit dalam mengabulkannya. Pemikiran itu mendadak jadi alasan mengapa skeptisisme ini terasa begitu masuk akal.
Ah, aku tidak punya jawaban malam ini. Aku hanya punya secangkir teh yang mulai hangatnya menguap, malam yang bertambah tua, dan usia empat puluh lima yang datang tanpa kado apa pun selain sebuah tanya besar: sampai kapan?
Tapi biarlah. Setidaknya malam ini, di peron yang sama, di bawah langit yang sama, aku sudah memilih untuk tidak berpura-pura lagi.(stf)
