The First 10K

Seminggu lalu, tepatnya 26 November, saya menyelesaikan race keempat saya dengan pencapaian jarak baru, yaitu 10K. Yeay…! Apakah saya senang? Damn right! And I don’t care if it was only 10K.

Race kali ini, saya sendiri. Lebih tepatnya, tanpa sepupu, atau teman sekantor (karena saya tidak ikut komunitas lari). Well, that’s okay, ketika lari, kita semua pun hanya berpegang pada diri sendiri.

Jarak baru ini terus terang agak buat saya kuatir. Saya belum pernah latihan sampai dengan jarak itu. Saya belum tau sejauh mana kaki saya bisa membawa saya tetap berlari. Di satu sisi, hujan yang turun setiap sore, benar-benar membuat malas saya menjadi-jadi. Betapa susah menyemangati diri untuk beranjak dari meja kerja dan berganti baju olahraga. Jika itu sudah bisa dilewati, betapa sulit memotivasi diri untuk berlari dan komit dengan set jarak yang sudah ditetapkan di awal.

Saya masih ingat, ada satu moment dimana, pada hari itu, setelah absen seminggu, saya harus lari sebagai bagian latihan untuk race. Hari yang sangat berat untuk latihan karena, pertama, hari itu dimana hujan turun di sore hari. Kedua, saya latihan sendiri. Pun, setelah saya berhasil lari, saya harus memotivasi diri untuk tetap komit dengan jarak latihan yang saya sudah buat. Saya berkali-kali mengatakan 1 putaran lagi.. 1 putaran lagi.. dan 1 putaran lagi, berulang-ulang sampai akhirnya saya merasa cukup. Dan akhirnya saya merasa puas karena tanpa terasa saya sudah menyelesaikan 7 km di hari itu.

Berbekal latihan seadanya, dan doa ibu tentunya dan tanpa musik melalui earphone, minggu pagi buta 26 November saya berangkat buat race. Lari tanpa musik di telinga ternyata cukup membuat saya fokus pada napas dan hitungan saya. Running app menginfokan kecepatan saya, dan hitungan dalam hati mengatur langkah saya setiap harus power walk untuk mengambil napas.

Apa yang dibenak saya ketika lari? Tidak ada.. di kepala saya hanya mengatakan bagaimana survive sampai kilometer berikutnya. Saya harus mencari target untuk memotivasi lari setiap kilometer nya. Target mendahului orang itu, target menyamai pace dengan orang ini. Ini berlangsung berganti-ganti sampai sampai saya melihat chip clock di ujung finish. Lalu, lari sekuat tenaga dengan fokus finish di depan mata.

Rasanya lega banget ternyata kaki-kaki ini masih kuat berdiri setelah menempuh 10K. Ada rasa puas di dalam diri, terutama saya bisa mendahului personal best saya sendiri. Saya tau 10K untuk banyak orang adalah level cemen. Mungkin ada yang menganggap ‘segitu aja bangga’. Saya pernah cerita ke teman saya di kantor, kadang saya tidak pede untuk post level lari saya di media sosial karena yaah.. itu masih cemen. Lalu teman saya hanya berkomentar “Kalau ada yang komentar meremehkan, berarti dia lari nya kurang jauh. Lari bukan soal result tapi proses menuju result itu.”

Bener juga sih. Saya pikir olahraga lari juga seperti yoga. Akhir yang diharapkan bukan bagaimana meraih best time or the fastest run or best pose, tapi proses mencapai ke akhir itu di setiap orangnya dan proses itu selalu berulang setiap kali mau memulai. Seperti saat ini, saya harus mengalahkan diri sendiri untuk bangun dari meja, stop blogging and start running. 😀 Well, gotta go. Gotta run 🙂

I made it to finish

 

First 5km

Tanggal 30 Juli 2017 adalah saat bersejarah untuk kehidupan olahraga saya. Iya, saya mengikuti 5km pertama di ajang event besar skala nasional yaitu Pocari Run West Java Marathon 2017.

Mengingat ke belakang, saya ingat sekali, saya pernah berkata, saya tidak akan mau berlari kecuali kalau dikejar anjing. Apalagi kepikiran buat jadiin lari olahraga rutin. Ewwww…! begitu saya suka berkata kepada orang-orang. Hahaha.. never say never. Sepertinya dek Justin Bieber kalau denger cerita ini, pasti menertawakan saya. Saya yang kemakan omongan saya sendiri.

Dulu memang saya akui, saya pernah berkata seperti itu. Tapi kemudian terjadi metamorfosis “badanku dulu tak segini..” dan saya membutuhkan olahraga rutin. Saya pernah zumba, yoga, gym, pound fit, tapi semua itu tidak long lasting karena memerlukan pengajar dan tentu saja tidak murah. Lalu saya lihat teman saya olahraga lari dan latihan 3x seminggu, dalam 3 bulan turun banyak.

Alhasil, mau tak mau (asli ini semata-mata karena awalnya saya pikir lari adalah olahraga mudah dan murah) saya coba-coba ikut olahraga lari. Saya dibawa teman saya, Epat untuk ikutan #NRCJKT , klub lari dengan sponsor dari Nike. Pengalaman pertama ikutan #NRCJKT, saya ditawari menu. Sayangnya bukan menu babi panggang dan nasi gurih plus sambal bawang (seadainya beneran :p ) tapi menu kecepatan. Oalaah, saya yang nubie tentu saja bertanya, apa itu. Ternyata para pacer ini (orang yang mengatur kecepatan lari) bertanya saya mau ikutan di kecepatan mana. Pilihan menu keepatan ada pace 4 s/d 8. Misalnya kamu pilih 4 berarti kecepetan per Km kamu adalah rata-rata 4 menit.  Karena pilihannya paling cepat adalah pace 4, saya tentu saja cari paling lambat. Saya minta pace 10 tapi ternyata maximal 8. Ya sudah apa boleh buat.

Diluar dari hasil kesan pertama adalah saya mengutuk-ngutuk para pacer yang membuat saya megap-megap kehabisan napas dan berharap saya bisa pingsan. Tapi di satu sisi, ikutan #NRC itu memberikan informasi tehnik berlari dengan benar. Diajarin pemanasan yang benar supaya ga cedera, atau streching juga latihan core muscles supaya kencang perutnya.  Minus larinya, latihan core muscle itu yang bikin saya mungkin bisa suka #NRCJKT.

Awalnya gak rutin, tapi metamorfosis ‘badanku sekarang jadi segini..” bikin saya mau tak mau harus berolahraga. For the sake of ukuran celana dan ukuran baju. Mulai dari situ, saya jadi rutin. Kadang kadang Sabtu pagi juga lari, tapi lebih sering seminggu dua kali setelah selesai bekerja di kantor.

Ikut satu race, jadi ketagihan ikut race-race lainnya. Tapi ternyata ga murah ya olahraga lari itu. Apalagi kalau event-nya besar. Rata-rata diatas Rp. 100,000 rupiah untuk event besar. Kalau sebulan ada dua aja, sudah Rp. 200.000 an. Belum kalau harus pagi-pagi ke venue, biaya transportasi (harus taxi karena tidak akan ada yang anterin saya) dan apalagi kalo race-nya di luar kota. Hahaha.. ini saya belum hitung dengan perlengkapan lari seperti celana dan baju dry fit yang rata-rata Rp.600.000 (padahal cuma celana pendek / kaos oblong). Saya belum sampai ke gadget tracking seperti Garmin watch, Sunto, dll. Luarrr biasa pokoknya.

Tapi sudah kepalang buat mundur, pun goal saya juga belum tercapai. Lari buat bisa dapatin bikini body. Gak gampang, karena ada latihan muscles dan diet. Amin-amin amin semoga tercapai. Di samping itu saya coba nikmatin saya. Saya memang tidak berminat jadi atlet lari atau pengen tembus marathon gituh sih, jadi olahraga lari ini saya gunakan untuk jaga badan dan kesehatan.

Sekarang sudah Agustus, awal September besok sudah ada race menunggu, setelah itu tunggu saja, saya pasti akan ikutan race lagi.

Ambil race pack

Ketemu Melani Putri – BA Pocari

Ketika napas terengah-engah dan masih 2KM to go

Finally, finish!

Bersama teman-teman baru..