Midnight Thought : What makes me cry

Sigh… terus terang tulisan ini adalah arti harafiah dari judul. Ya, saya tidak bisa tidur dan besok saya harus bangun pagi untuk siaran pagi. Tapi di kepala ini sepertinya berisik banget. Banyak sekali yang harus dikeluarkan. Andai saja saya punya pensieve seperti Dumbledore.

Apa yang membuat kamu menangis? Patah hati? Dimarahin orang tua? Tidak punya teman? Tidak diperhatikan? Dipukul? Sepertinya semua yang tulis pernah dialami semua orang. Saya juga kok.  Dulu. Makin dewasa, sebab yang membuat saya menangis semakin spesifik. Kehilangan sosok yang dekat seperti keluarga untuk selamanya? Merasa gagal? Malu akan kelemahan diri sendiri? ‘Jatuh’ karena kesalahan sendiri? Saya juga sudah mengalaminya.  Di usia pertengahan 30 sepertinya wajar saja ya kalau menangis karena itu semua. Saya pikir juga itu wajar. Menurut saya, menangis adalah pertahanan pertama terhadap apapun yang menyentuh emosi. Setelah itu saya baru bisa berpikir apa yang harus dilakukan terhadap apapun itu.

Saya ingat saya menangis di hadapan bos saya ketika ditanya kelemahan saya. Saya tidak tahu kenapa, tetapi membuka kelemahan diri di depan orang lain pada saat itu adalah titik rapuh  saya dan saya break down kemudian saya menangis . *sigh*  Tapi saya belajar, mengakui kelemahan bukan berarti saya salah atau kalah.

Selain sebab menangis yang sudah saya sebutkan tadi, ada juga sebab menangis yang lain. Beberapa hari kemarin saya menonton ulang drama korea Reply 1988. Sudah berapa kali hidung saya beringus dan airmata ini keluar layaknya saat saya patah hati. Lalu, film Monster Call yang malam ini saya tonton juga membuat saya beringus dan airmata mengalir deras sampai hati ini terasa ngilu.

Hell, jangan salah, bahkan film animasi pun bisa membuat saya menangis. Norak? Mungkin ya..haha. Tapi cerita yang bisa menyentuh emosi patut diancungi apalagi bisa membuat saya menangis terisak dan beringus. Tapi kemudian saya mendapatkan ‘tamu’ beberapa hari setelahnya.

Saya jadi berpikir, sebenarnya apakah saya benar-benar terhanyut karena cerita atau karena faktor hormon tidak stabil saat PMS sehingga saya mudah sensitif dan terjadilah airmata itu. Jika memang begitu, berarti bisa jadi PMS adalah sebab lain saya menangis.

Aniway….

Sebab lain saya menangis adalah ketidakadilan dan ketidakmanusiawian (<— apakah ini benar ejaannya?), kepicikkan pikiran, kebutaan akan kebenaran. Well,  memang tidak serta merta saya akan menangis saat melihat si abang tukang sayur memberi sejumput cabe rawit lebih banyak dengan harga sama kepada ibu-ibu yang menyela saat saya sedang belanja sayur. Meski itu suatu ketidakadilan mutlak karena saya tahu cabe mahal dan saya membayar dengan jumlah yang sama.

Kapan itu saya merasa sedih saat isu SARA (gara-gara Ahok juga sih) kembali merebak. Sebagai kaum minoritas, saya sempat merasa tidak aman dan terancam. Iya , itu benar. Saya sempat berpikir, apa yang terjadi jika kebhinekaan ini tidak ada? Saya harus migrasikah? Apakah saya bisa hidup dengan tenang dan mendapat perlakukan adil? Bagaimana saya dan keluarga saya menjalani hari-hari? Terus terang saya sempat sampai berpikir begitu. Dan ketakutan itu untungnya hanya sampai pada sisi emosi prihatin (Pak SBY, pinjem katanya ya). Tapi akhirnya saya mencoba untuk percaya kepada pemerintah, percaya kepada sistem yang menurut saya harusnya diperbaiki, percaya kepada cendekiawan bahwa kebhinekaan Indonesia tidak akan hilang.

Sudah pukul 01:23 AM pagi, dan saya sudah mengantuk.
Lalu inti tulisan ini apa? Tidak ada, ini adalah doodling kata-kata yang stuk di kepala sekaligus mengisi waktu sambil menunggu rasa kantuk datang. Voila, kantuk sudah menaungi kelopak mata. Saya akhir tulisan ini disini.

Sampai lain waktu ok!

Senantiasa Berada

Happy New Year 2017!

It’s been years since I wrote on my own blog..hahahaha shame on me.  It’s been too long until i forgot how to begin with. Douh! So, I begin with greetings!

ALOHA! (so, what’s next?) *…..blank mind….* 

Saya akan mulai dengan bahasa Indonesia, karena tahun ini, adalah waktunya untuk sadar, bahwa saya (ternyata) belum bisa menulis bahasa inggris dengan baik. Hence, menulis bahasa Indonesia dengan baik pun belum juga. Okay, shame on me twice. (Tuh, kan.. entah kenapa jargon dalam bahasa inggris jauh lebih mudah dan lebih awam di banding dengan jargon bahasa indonesia).

Awal tahun 2017 saya memutuskan untuk be more serious. Iya, serius.. bener deh. Serius ini! Baiklah, saya urutkan satu-satu.

  1. Lihat domain di atas. Sudah berganti menjadi www.stefani.id. Dan saya membayar untuk itu. Hahaha… saya mengeluarkan dana untuk ini. Jadi harus bener nih. Saya berjanji kepada diri sendiri untuk konsisten menulis untuk blog ini minimal 1 post / bulan.  Janji!
  2. Saya sudah bertekad bahwa tahun ini bisnis online saya harus jalan. Beberapa orang yang sudah mulai duluan dalam berbisnis online bilang, bikin deadline sehingga kamu tidak terlena. Well, saya sudah punya deadline. Tinggal konsisten jalanin. Nah, itu yang susah. (dudududu….)
  3. Saya serius tahun ini status rumah harus segera diputuskan. Mau ditinggali atau lebih baik dikontrakkan saja. Ibu sudah pasti tidak akan memperbolehkan saya tinggal sendiri. (and I can’t leave her live alone)
  4. Saya ingin kembali menjadi kutu buku. Maksudnya membaca lagi. Terus terang sejak kenal dengan Korean Drama (damn! Itu racun dunia), minat membaca saya menurun. Jadi, kesukaan dengan Drama Korea sudah menjadi addiction yang membuat lupa segalanya. That’s not good. I become autopilot dan tidak bisa mengontrolnya. Jadi, itu harus diimbangi dengan kembali membaca.
  5. Ini rahasia
  6. Ini rahasia
  7. Rahasia juga
  8. Gak akan dibuka di sini keleus
  9. Sudah sampai no. 8 saja kok
  10. Ini apa sih?

Kedua, awal tahun ini cukup menarik. Terutama karena di minggu pertama our CEO’s/Founder/My bosses mendaftarkan kami, level manager, di kelas Mindfulness atau istilah kekiniannya adalah “Senantiasa Berada”. Apakah Mindfulness itu? Semua orang akan memiliki definisi sendiri-sendiri untuk ini. Kalau tanya saya, pun saya masih bingung menjawabnya. Untuk menjawab, saya harus memahami, untuk memahami, saya harus mengalami. Ha!

Tapi, untuk bisa menjadi mindfulness, ada tiga tahap yang bisa dilakukan setiap individu. (Ini menurut coach kami di workshop itu)

Senantiasa mengamati | senantiasa mengalami | senantiasa mengasah –> Amati, Alami, Asah.

Nah, untuk menjadi state of mind di atas, gak cukup sekali – dua kali kita melakukan 3A ini. Ini berjalan terus menerus. Setiap detik hidup kita, karena waktu tidak bisa kembali lagi. Apa yang terjadi 1 jam lalu, atau bahkan 1 detik lalu tidak bisa kembali atau diulang agar kita bisa mengamati lagi. Jadi itu kenapa kita harus selalu melakukan 3A ini.

Saya tidak bisa menjelaskan detil apa yang diajarkan, tapi saya bisa bercerita beberapa hal yang kami lakukan di workshop tersebut.

  1. Bernapas. Yeah, as if everyday we don’t breath. Maksudnya bernapas di sini adalah full aware of breathing activity. Saya terus terang melupakan itu. Napas adalah hal yang otomatis. Tidak perlu sebuah kesadaran untuk melakukannya. Nah, di workshop, kita mencoba menghayati napas. Saat napas dihirup, masuk ke paru-paru, merasakan udara memenuhi para-paru sampai ke alveoli paru-paru kita. Lalu merasakan perut yang mengembung setiap kita menarik napas dan mengempis kita mengeluarkan napas.
  2. Duduk diam. Duduk tegak dari tulang pinggul yaa.. posisi seperti meditasi. Lalu diam. Diam selama 5 menit. Mengamati apa yang muncul di kepala. Apa yang dialami saat kita duduk diam. Berdamai dengan pikiran dan tubuh.
  3. Yoga Flow. Bagian ini adalah bagian favorit saya dari semua. Haha. Ya, terus terang, saya belum mudeng dengan 3A di atas, dan saya belum bisa menjalaninya dengan benar. Tapi bagian Yoga ini, saya menyukainya. (bukan Yoga Nidra ya.. itu saya juga gagal).
    Selain saya memang menyukai Yoga, saya melihat Yoga sebagai sebuah olahraga dan olahjiwa. Setiap gerakan atau sequence dari Yoga membuat saya melatih pernafasan, kesadaran dan juga akhirnya endurance. Selain itu, jika memang benar-benar fokus, yoga bisa membuka aliran energi-energi yang terblok sehingga menjadi lancar dan kita lebih damai dan rileks. Itu kenapa kalau selesai yoga, jadi ngantuk. Menurut saya sih, itu karena kita dalam kondisi rileks dan damai (ya capek juga cuma capek yang menyenangkan bukan yang melelahkan).
  4. Journal. Di akhir workshop, coach kami memberikan kami jurnal untuk diisi. Tentunya agar kami menjalani Duduk Diam dan merasakan napas itu. Jurnal itu adalah salah cara agar kita terasah. Dari mengamati dan mengalami, menuliskan ulang apa yang terjadi adalah untuk mengasah kepekaan kita. Yang mana… sampai hari ini, saya belum isi apapun jurnal tersebut. Wkwkwk. Shame on me..couple of times hahaha.

Sebenarnya dan seharusnya banyak yang bisa diceritakan dalam workshop itu. Tapi saya sadar bahwa saya butuh waktu untuk menuliskannya. Namun, untuk sementara ini, baru ini yang saya bisa sharing.

Saya pun harus mengamati lagi, mengalami lagi, dan banyak mengasah lagi untuk bisa sharing. Jadi, untuk menutup post pertama saya di tahun 2017, sebuah artikel yang bagus bisa saya share  di sini.

10 Suprising Benefits of Keeping A Journal

Eulogy for my Old Man

 

Actually i don’t know what to write for my old man. But few days after 100 days Dad’s ceremonial, i feel like missing him so much. In fact Mom quicidently said 2 days ago, in the daylight, she was crying like never cry before because missing him.
And that’s the same feeling i have right now.
So it was true, you never really missed someone until you lost him. Me and Dad, we were not that romantic dad-daughther relationship, you know. We argued.. a lot. Mostly about little things, me with my smart-ass attitude and Dad’s childish behaviour.. 🙂
We expressed our love with jokes and laughing AT each other (not with) ;p and then arguing again, and ending it with laughing at each other. But nevertheless he’s always there.. or he was …
I remembered the time i still took the bus, whenever I always came home late from work, Dad usually picked me up at bus station. Even when it was rain at night and he knew he can’t see clearly because he lost one of his sight.
He would still nagging and gave me lecture about how  it’s not safe for a woman like me always came work late at night and bla bla.. but he never ask me to quit the job. He knew I love my job.
Yes, we didn’t talk love literally like  ‘i love you dad’. We were not that kind of family.
But he knew if i had problem,..
And i never forget that days when suddenly he asked me :”Opo Ndok?” (He spoke Javanese for this rare moments) when that night he picked me up,  while he turned up the motorbike and headed home. He maybe saw my crumpled face even that was night and he only have one poor eyesight.
Lately,  i felt like i was heard “Opo Ndok” in my ears (or it because i want it to hear it).. and that moments flashed back.
At the weekend, at home usually always lived up with sound of javanese songs or gamelan or he’s trying to nembang. He liked to sat there at the bench and read newspaper while humming this kind of music that i would never understand.
Now, no more Dad’s humming
no more javanese gamelan music
no more his voice who try to ‘nembang’
Mom don’t have the spirit to listen it again after he’s gone. Even my neighbours missed his humming. 🙁
I remembered one day we had argument, i forgot what we’ve been argued about, but he said, i remember clearly :”Berapa pun umur kamu, kamu tetap putri kecil bapak”.
And that’s what he did. When he got sicked, without our knowing, he prepared  everything that he knew i don’t capable to. Mom told me afterward.
And when he was still here, he prepared me so i am ready when he’s not there.
Funny thing, i thought when we are older we can more ‘ikhlas’ when someone dearly died. But i think it’s not. Lost someone for good whatever age you are, it is the same shit sad, but just different age.
I thought i have done with crying on the day he died. But actually i never really really cried. My head was too shocked. I didn’t gave myself real time to mourn.. or private mourn for him. And Mom.. i didn’t dare let myself be vurnerable when she needed me most. She has the hardest part..
So, i guess at this moment, i can have private time to cherish memories with my old man. And i can cry.. privately. And say out loud that I miss him.. everyday.

Sad

Bergetar jantung ini ketika kupandang satu per satu

Kembali kupanggil semua memori
Setiap cerita, setiap jawaban, setiap karena dari pertanyaan
Sayangnya, semua berujung pada tanya tanya
Kupeluk semua kenangan manis yang kualami
Seakan-akan takut bahwa kenangan itu akan terkikis dan hilang
Kupeluk semua senyum tawa yang tercipta
Seakan-akan senyum dan tawa itu akan hilang dalam memori
Bergetar jantung ini ketika kupandangi satu per satu
Ada senyum bahagia milikmu
Ada belai kasih miliknya
Ada kebohongan di sana.
Kini malam tlah datang
Sebuah kesadaran pun tiba
Perpisahan yang menunggu membentang
Menebarkan luka di dada
Saat rindu ini menyiksa sangat
Suara hati datang mengingat
Pejamkan mata dan tarik sebuah nafas panjang
Ini akan berakhir sebentar lagi
Bergetar jantung ini ketika kupandang satu per satu
Bergetar tangan ini ketika menghapus airmata tak bersuara
Pejamkan mata dan tarik sebuah nafas panjang
Ini akan berakhir…. sebentar lagi
Bergetar hati ini ketika menyadari semua
Bagai teriakan tak bersuara, serta memejamkan mata
Apakah fajar akan menyembuhkan luka dan airmata?
Apakah surya akan membawa senyum kembali?
ps: Kitt, i hope you’re happy now.

33

 

27th Oct 2014

Yeayyy Happy Birthday to me!
Today I am officially 33 years old. Whew! Thé number is really gives me an ooozzz feeling.

Like my prayer last night, 33 is twin number. Twin means double.. number that expect me to do two times better, two times wiser, two times mature, two times responsible, two times effort.

They said numbers doesn’t matter. They say being older doesn’t mean you getting better.. Or wiser.  Yes, I agree. Those things doesn’t come when you’re getting older, it earns from life experience and how each person learn from it.

But number –in this case is matter of age number– is a reminder that you’re not getting younger.. And you hâve to live it every moments of your life with best effort bécause time never repeat.

Back to 33.

I won’t make it too burden for me

Maybe it’s won’t only the hard parts. But i hope it cômes also thé happy parts.
Double happy
Double success
Double income (?) — halleluyaa Ameen! 😀

So, I whispered to myself “Happy Birthday dearest Me”
*puk-puk bahu sendiri*
“Be Strong, Be Happy, and always hâve Faith and true heart”.
Today (27th of October)  is going to be mémorable .

 

28 Oct 2014

and..turn out that day indeed memorable.

Thank You God for your blessed and giving me good life, good families, good friends around me all those years.

I refrain from talking at you

You know what I mean
It’s like walking in the heat all day with no water
It’s like waiting for a friend
Watching everybody else meet theirs on that corner
Or losing in an argument
Although you’re right, can’t get your thoughts in order

Still I refrain
From talking at you, talking on
You know me well
I don’t explain

But what the hell
Why do you think I come ’round here on my free will?
Wasting all my precious time
Oh, the truth spills out
And oooooo oh I’ve
I’ve told you now

You know what I mean
Although I try my best, I still let down the team
You’re everything I want,
Why should I resist when you are there for me?

Should I refrain
From talking at you, talking on
You know me well
I don’t explain

But what the hell
Why do you think I come ’round here on my free will?
Wasting all my precious time
Oh the truth spills out
And oooooo oh I’ve
I’ve told you now

 

 

– Sam Smith, I’ve told you now

22.23 – 02.26

It takes a week and 3 days and still counting to hold my hand not to contact you…

It takes a million reason why I shouldn’t , it only takes one reason why i should..

 

the big question pop up and urge some answer:

WHY? HOW COULD YOU?

 

 

What a jerk!

 

Fool me, twice

It just occured to me, I think I gave the wrong signal.

I gave 25 years old guy hoping that I would get serious with him. (which likely no way)

I gave 30-something man think I am easy. (WTF?!! Hell noway I am going do that)

 

 

 

 

 

How this can be so twisted?

So f**k! stupid stupid stupid me…

 

Her and the Moon

*sigh*…. You know the urge to write something really can came from anywhere. For me, mostly came when I had a broken hearted *yeah, i know*, or something annoying or funny. And maybe and rarely came from PMS period. But this time, it just occurred when I was on my way back home in motorcycle.

It’s began from I watched ‘Her’ movie, by Spike Jonez.  The first time that I really acknowledge  from the movie is wow! you can type with only dictate to your computer and other things that we usually do with gadgets  when mobile like chatting, choosing music, read news, reply email you can do it by voice command. Right, Wow! how lazy is that?

Okay, okay. Now I am serious.  After I watched the movie, and talking with my friend, I was wondering, what is a relationship? What priority to fall in love? What make a relationship is real? It’s kind of absurd a person can fall in love with an OS. C’mon… even this movie won Oscar, but still, can you fall in love with only the voice of Scarlett Johansson without want to able to touch?

I love the screenplay, some moments really touched me. But I wonder, is it enough we build a relationship only by personality? Like Theodore and Samantha? The perfect Samantha is a perfect personality for a girlfriend (before she share her OS with other users beside Theodore).  Who want to be in that relationship?

And it brings me to my reflection when i was on the road. I am not be able to be in relationship just based on personality. It’s not ONLY ‘Yang penting personalitinya baik. Orangnya baik,’. Yes, all that is true, but I want physical reaction. I want attractive and good looking, but I also want flaws,  I want argument, I want seduction, I want make up sex 🙂 but at the end,.. i also learn, sometime you can’t have it all. Or can we?

Suddenly, I realise the Sky is light up with stars  and the Moon looks so beautiful.  Gosh, I am beat!

guilty…

Guilty feeling is always comes late. And it never go away. You always say ‘what if’ and really hoping you could turn back the time and make it right. It would get worse, when it comes to the one you loved and cared about.

Yes. I have experience it and still try how to ease the guilty feeling inside. I hurt my best friend. Sadly, it’s something that i didn’t intend to hurt her. I guess I don’t have to tell you the emotion reaction that had happened. But, what I can tell you is, she’s hurt so much by me. I never saw the sad and disappointed  face from her to me before until that day.

And I? I also feel crushed and broken when I know it really hurt her. When you think saying ‘Sorry’ is enough, it was never enough. Even 1000 words of sorry would never enough to heal the cause I made.

I cried all night because I know the scar is there. The scar I made in her heart. I cried because I should have been a better friend for her. I cried because I am afraid of losing her. I cried because I can’t forgive my self. How I undo this?……

It had happened. And I can’t do anything about except I try to be a better friend for my best friends.  It is true when people say ‘time will heal’. Well, I guess I leave it to time, meanwhile I  praying to God for her so she deserve a better blessing because she’s always good to others. And I pray for salvation to myself for I had been a awful person. 🙁

Ask for forgiveness to others is not easy, but ask my self to forgive my self is harder.