Because It’s My First Time… in Paris

Tidak pernah terbersit untuk melakukan perjalanan ini sendiri. I am not that type of person or at least that was I thought my self. Selama ini travelling bagi saya adalah kegiatan fun dimana saya tidak ditakutkan dengan ‘being lost’ di tempat tersebut.  Saya ingat sekali, saat saya ke Singapura beberapa tahun silam bersama teman saya. Saya bergantung sekali dengan dia. Arah dan tujuan, naik apa. Bagaimana ngomongnya. Well, Singapura, negara tetangga terdekat, tergolong masih cing-cay lah kalau untuk solo travel. Tapi, pada saat itu, saya sempat berpikir, ini kalau gak ada teman saya, saya pasti bingung dan tersesat.

Lalu, kesempatan itu datang. Kesempatan untuk mengunjungi Eropa lagi. Kali ini tanpa berpikir ‘afraid of being lost’, saya mengumpulkan lagi mimpi yang tertunda sejak 2011, waktu pertama kali menginjakkan kaki di benua tersebut.

Charles De Gaulle

Kami tiba di bandara International Perancis, Charles De Gaulle pukul 21:30 waktu Paris (jika saya tidak salah ingat). Masih dengan setengah sadar dari long hours flight, saya dan teman perjalanan saya, mengikuti alur penumpang lainnya mengambil bagasi dan memikirkan bagaimana cara dari Charles De Gaulle ke Chessy, sebuah kota berjarak 1 jam di luar Paris.

Meski baru jam 21:30 waktu setempat, aktivitas bandara seperti pusat informasi sudah tutup. Kami hanya disambut dengan security berwajah masam. Petugas security laki-laki dan perempuannya tidak ada satu pun yang memberikan wajah ‘welcome’ kepada salah satu dari kami. Saya berpikir dalam hati, alangkah ‘dingin’nya kota ini.

Bandara Charles De Gaulle pada jam itu tidak memberikan kesan ‘Wow’ untuk saya. Saya bahkan tidak sempat mengamati desain atau arsitektur di bandara ini. Kami berdua hanya fokus bagaimana cara kami ke stasiun kereta dan menuju Chessy. ‘PR’ kami tidak hanya menemukan bagaimana cara ke stasiun kereta, tapi kereta apa dan bagaimana membeli tiketnya. Terus terang, saya tidak berguna saat itu. Semua usaha bertanya ke sana sini, dari teman saya :(. Setelah berputar-putar di bandara selama sejam lebih, kami mendapatkan titik terang. Ya, akhirnya kami menemukan kereta yang mengantarkan kami ke Chessy.

suburb area

EuroDisneyland, Paris

Meski sebutannya Euro Disneyland, Paris, letaknya tidak lah di kota Paris. Euro Disney terletak di Chessy, sebuah kota kecil di luar Paris, membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dengan kereta menuju tujuan kami. Ya, karena kami juga berpartisipasi event Half Maraton di Run Disney 2018, kami harus menginap mendekati tempat event. 

Atmosphere berubah ketika keluar dari kereta bawah tanah menuju permukaan. Udara dingin segera menerpa kami. Untung, saya masih memakai hoodie dan training pants sehingga masih mendapatkan sedikit kehangatan, tapi itu tidak berjalan lama. Singkat cerita kami tiba di hotel bernama New York Hotel pada pukul 23:30. Hungry and cold, but our tired body conquer all. We all collapsed on the bed.

Tentang event Half Maraton akan saya share di post terpisah

Paris, We are Here!

finally i see this in front of my eyes

Kami bergerak menuju kota Paris setelah event Half Maraton selesai, karena ada beberapa seminar yang mengambil tempat di downtown Paris. Namun, Mon Dieu! perjalanan dengan kereta bawah tanah atau disebut ‘Metro’ di Paris tidak seindah yang saya duga.

Menarik koper yang beratnya hampir 20kg itu memang melelahkan. Belum lagi saya juga membawa ransel dengan laptop. Awalnya memang menyenangkan (ketika di airport) tetapi saat masuk medan yang berbatu dan tidak rata, saya harus menjaga antara bisa keep up supaya tidak ketinggalan teman saya dan menjaga agar roda koper gak rusak. Belum lagi banyak stasiun – stasiun Metro di Paris itu ternyata tidak ada eskalator sehingga harus naik turun tangga dengan anak tangga yang jumlahnya lumayan. And here we are, pushing the luggage in the middle of the hectic of Parisien.

Menuju ke hotel kami yang terletak di jalan Notre Dame de Lorette itu penuh cobaan. Tangga-tangga menghiasi perjalanan kami setiap kami ganti stasiun. Kami pun bersimbah peluh keringetan di tengah udara musim gugur yang dingin. Namun saya tetap tak bisa menyembunyikan muka kagum saya terhadap sekeliling. Saya melihat Parisien yang sibuk wira-wiri mengejar kereta — meski gak ada yang membantu kami — dengan takjub. Saya juga takjub melihat stasiun kereta mereka.

Akhirnya kami sampai di stasiun terakhir dan dari situ kami keluar dari Metropolitan. Begitu saya sampai di permukaan, saya dihadapkan pada kota cantik seperti yang saya bayangkan. Saya ingat betul, di depan pintu keluar stasiun Metro St. George, ada sebuah jalan putaran, dengan tengah-tengahnya air mancur dan meski putaran itu kecil, gedung-gedung sekelilingnya cantik dengan arsitektur khas Paris. and then I just realized, we were in Paris!

Metro, Roof Tops, Sidewalk Cafe & Stones road

I can’t explain how beautiful this city. Saya tahu sebelumnya saya sempat mengeluh tentang Metro di Paris. Tapi setelah beberapa kali wirawiri dengan Metro dan bis di Paris. I found enjoyment in this fashion city.  Eiffel, Louvre or event Versailles is beautiful, but the ones that make me like the city is the ordinary sight that is everywhere in this Paris.

Little fact that I know, setelah saya cukup berkelana. Setiap Metro station itu punya tema yang berbeda. Saya tidak sempat menanyakan ini ke teman saya, karena saya baru sadar belakangan. Ada yang biasa aja, ada bertema khusus. Setiap stasiun memberi kesan dan tentunya menjadi object observasi saya.

Jalan berbatu yang saya keluhkan adalah sebuah saksi mata akan usia sebuah kota. I found that stones road are part of history of the city. Saya menemukan kecantikkan dalam setiap jalan berbatu yang saya lalui. Rasanya saya ingin menyusuri setiap jalan di kota Paris tersebut.

Kota sibuk yang cantik. Saya tahu, banyak film-film yang memperlihatkan gaya hidup masyarakat Parisien dengan sidewalk cafe yang berderet. Itu benar. Begitu malam tiba. Kecantikan kota ini berubah. Kota ini dipenuhi lampu-lampu dan kilau-kilau cahaya lampu yang terpantul dari gelas-gelas Wine. Belum lagi Parisien yang rupawan baik secara wajah juga fashion style mereka yang punya ciri khas sendiri.

Saya pun tak ingin ketinggalan. Mencoba menyesuaikan dengan gaya para Parisien, kami pun duduk di salah satu cafe di Le Marais, sebuah tempat trendi di Paris. Kami menikmati wine dan menikmati malam itu.

Eiffle, Louvre, Versailles and Père Lachaise

Magnificent! adalah kata yang mengambarkan keempat tempat itu. Keempatnya memiliki keindahan masing-masing.

Le Louvre, begitu sebutan Parisien untuk museum ini. Terdiri dari 3 bagian, kamu bisa menemukan karya-karya terkenal seperti lukisan dari Leonardo Da Vinci — Monalisa di sini. It took us 6 hours to explore all 3 parts of Louvre. And for you know, i don’t see all of it. Some parts I just walked past without seeing what’s in it. Ticket 20 something euro is really worth it.

Thank God. I have a friend in Paris. His name is François, he has a car to drive me to Versailles. Turn out it was located outside Paris too. It took around 1 hour by car.

Versailles is superb magnificent extraordinary compound. From the gate already makes me opened my mouth with awe.

La tour Eiffel, tentunya kamu pasti tahu. Sebuah landmark yang harus dikunjungi when you in Paris. Sayangnya saya mendapat pengalaman buruk ketika mengunjungi landmark ini. Namun, pengalaman itu memberikan saya pengalaman untuk lebih berhati-hati terutama saat saya berpisah dengan teman saya nanti.

Terakhir adalah Père Lachaise. Jika kamu gak familiar, itu adalah area pemakaman. Jangan bayangkan kuburan seperti di Tanah Kusir atau Jeruk Purut ya. Père Lachaise lebih mirip museum dibanding area pemakaman. Kamu membutuhkan peta untuk mengelilingi area pemakanan ini. Terutama jika kamu ingin mencari kuburan sosok-sosok terkenal. Sebut saja Frédéric Chopin, Edith Piaf, Oscar Wilde, Marcél Proust bahkan Jim Morisson. Père Lachaise adalah area kuburan terluas di kota Paris. I don’t know why, but from all landmarks i mention above, this place is where i can most enjoy during my visit.

tempat menyimpan abu setelah kremasi

Those little things

Beside all the tourism thingy, ada banyak halhal kecil yang justru bikin saya merasa ingin lama-lama di Paris. Sapaan “Bonjour Madam” every time I step into a shop or restaurant in the day. Or the smell of bread from boulangerie shops and how they are very strict about time to open the restaurant (though it just only 5 minutes away, they forbid us to enter the restaurant 😀 ). Or how they speak within each other in French. Even the cheese shop where me and my french friend shop groceries, I found it interesting and will missed it dearly.

Ingin rasanya bisa kembali lagi kesana tapi kali kedua tidak ingin solo travelling lagi. Memang ada ketenangan dan kebebasan ketika kamu solo travelling but there is lonely feeling too when you need to discuss something you see while you’re travelling or when your inner child eager to go out and want to do random thing and being spontaneous. Well, that’s another goal that I must achieve before I die.


Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.