anger

9L7rbiYcTxmNegwpTvihg-2642180695-1525864510948.jpg

Seperti judulnya, tulisan ini saya buat untuk menjelaskan apa yang saya rasakan. Bukan seperti marah dimana seseorang teriak-teriak penuh emosi kepada orang lain bukan juga seperti ibu yang ngomel-ngomel nyerocos tak henti kepada anaknya.

Tapi ini seperti rasa gatal yang saya tidak tahu dimana gatalnya tapi saya merasa sangat terganggu karenanya. Atau dimana kamu tidak merasa nyaman, sulit konsentrasi dan keinginan berjalan-jalan tanpa tujuan.

Rasa ini adalah karena terluka, merasakan ketidakadilan, merasa dititik dimana usaha dan upaya merasa sia-sia.  Rasa ini lebih membuat saya diam, lebih membuat saya lelah, lebih tidak ingin beropini karena saya tahu itu sepertinya sia-sia.

What is ‘anger’ ?

Anger or wrath is an intense emotional response usually involving agitation, malice, or retribution. It is an emotion that involves a strong uncomfortable and hostile response to a perceived provocation, hurt or threat.

Itu definisi Wikipedia.

Menurut William DeFoore, seorang penulis buku anger management menggambarkan amarah itu seperti pressure cooker. Seseorang hanya bisa menahan amarah untuk beberapa waktu sampai akhirnya itu semua meledak.

Ini bahaya karena begitu meledak, ini bisa berakibat kepada tindakan yang bisa merugikan diri sendiri. Bahaya karena juga bisa merugikan orang lain.

Dalam agama yang saya imani, saya mengetahui ada 7 deadly sins atau akar dosa. Disebut demikian karena dari 7 akar dosa ini sebab dari semua dosa-dosa manusia yang merugikan orang lain. Salah satu dari akar dosa itu adalah amarah (wrath).

Saya sendiri mencoba mencari sebab apa yang melatarbelakangi dari rasa ini. Selama di jalan, pikiran saya berkecamuk apa yang sebenarnya bikin rasa marah ini.

Dan..saya temukan sebabnya. ‘Anger’ ini tidak bisa begitu saja disembuhkan dengan sikap sabar, ataupun pasrah. Sejujurnya saya tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Sabar pun bukan karakter yang bisa saya banggakan.

Sekarang pertanyaan berikutnya: apa yang harus saya lakukan?

…. (to be continued)

 

 

 

 

Leave a Reply