Make A Memory…

Titik-titik air pelan-pelan keluar dan seperti menunggu momentum yang tepat, ia mengalir menuruni perumukaan gelas yang halus. Tapi peristiwa fisika itu sayangnya tidak mendapat perhatian dari dua sosok yang sedang berhadapan. Mereka saling menatap dan berbicang dengan serunya seakan-akan tidak ingin melewatkan satu detik pun.

“Helloo, senang melihatmu. Kamu terlihat sehat dan baik. Thank God. God is good” – Kedua mata tajam itu menyiratkan kebahagiaan saat menatap lekat-lekat perempuan dihadapannya. Perempuan itu sedang berbicara sambil tersenyum. Dia bercerita tentang pekerjaannya, ia bercerita tentang kehidupannya, dia bercerita tentang kelahiran putrinya 1,5 tahun lalu sambil sesekali menyesap minuman beralkohol dari gelasnya. Pelan tanpa terburu-buru, ujung lidah pinknya sempat terlihat menyentuh cairan bewarna coklat gelap lebih dulu seperti radar yang mengetes kualitas minuman dan kemudian menelan cairan dan menikmatinya.

“It’s been a while, hasn’t it? – Sudah berapa lama ya sejak aku melihatmu? 8 tahun sepertinya” – tatapan hangat perempuan itu seakan-akan menyuarakan apa yang dipikirkannya. Ia tidak pernah menduga akan melihat laki-laki itu lagi. Perpisahan 8 tahun lalu sepertinya baru kemarin. Perawakannya tidak ada yang berubah. Dia tidak bertambah hitam ataupun gemuk di bagian perut seperti pria-pria yang sudah masuk usia 30-an. Senyum dan tatapan mata tajam yang sama tetap bisa menghipnotisnya seperti 8 tahun lalu.

“Hebaat, kamu masih menyimpan foto ini? Foto ini berusia 10 tahun. Lihat kita masih sangat muda dan begitu naive akan segala hal” ujar si laki-laki. Dia memperhatikan sebuah foto lama yang diberikan si perempuan dengan seksama. Kedua matanya tidak lepas dari sosok-sosok yang ada didalam foto tersebut seakan-akan mencoba menghidupkan kembali kejadian saat itu di pikirannya. Tiba-tiba dia tergelak sendiri. “Tentu saja, aku selalu membawanya di dekatku. Ini disini selalu..” ujar si perempuan sambil menepuk-nepuk dadanya.

“Ini saat kita kembali berpacaran sejak kamu menghilang dulu” – si perempuan kembali berkata. Matanya menatapku dalam. Ada sebuah kerinduan  yang sendu namun bertolak belakang dengan senyum yang terlihat samar di bibirnya.

“Hmm.. ya, It was best day of my life because you’re accepting me back..Still It is”.

“Ahh Rex…” desahnya matanya tertuju pada foto. Pikirannya seperti melayang ke delapan tahun lalu. Caranya menyebut nama si laki-laki seperti menyebut nama kekasih yang dirindukannya. Senyum samar yang muncul dibibirnya seperti memberikan misteri yang harus dipecahkan.

—–

“Lihat deh rambut kamu dulu… aku masih tidak menyangka kamu melakukan saranku. Saranku buruk sekali ternyata..hahaha” ujar si perempuan tertawa terkekeh.

Perempuan ini tidak berubah sejak 8 tahun lalu aku berpisah dengannya. Ini adalah pertemuan pertama kami kembali setelah 8 tahun. Meski sudah memilik anak, tubuhnya tetap terlihat langsing, meski tidak sekurus dulu. Namun, penampilannya yang stylish dan terawat, aku bisa menyimpulkan dia menjalani hidup yang berkecukupan.

Saat dia tertawa, tidak ada yang berubah dari dirinya. Segala tentang dia masih sama, segala tentang dia masih aku suka, masih..sampai kini.

Saat dia menyebut namaku, aku merasa kembali ke-8 tahun lalu. Saat aku dan dia masih kami, dan bersama. Aku sangat mengenalnya. Karenanya aku mengetahui saat ini dia merindukan kebersamaan kami. Aku mengetahui dia masih memiliki rasa itu. Aku tahu karena aku juga merasakan yang sama. Tapi aku juga mengetahui saat ini dia dalam dilema saat aku mengucapkan kalimat yang membuat mata coklatnya menatapku dalam.

—–

“Aku hanya 2 malam di Jakarta. Besok sore aku sudah harus terbang lagi. Aku ingin habiskan sisa waktu di Jakarta untuk memecahkan misteri ‘kita’ ” , ujar si laki-laki itu sambil menatap dalam ke arahku. Betapa aku sangat merindukan dirinya. Aku sangat merindukan kebersamaan kami.

Kami seperti 2 potongan dari magnet yang sama, saling melengkapi namun tidak bisa bersama. Betapa aku sangat merindukannya. Betapa dia juga sama egoisnya, dulu dan saat ini. Menghilang, datang,  menghilang dan kini bertemu lagi.

Benakku penuh dengan kenangan manis bersamanya. Bersamaan itu juga, kenangan saat aku depresi ditinggalkannya juga muncul. Saat aku hampir kehilangan kewarasanku ketika dia menghilang dari hidupku dan yang aku pikir untuk selamanya. Dulu…

Sesuatu yang kemudian bergetar mengalihkan perhatianku…

——

Telpon yang bergetar mengalihkan perhatiannya. Aku tidak berani itu dari siapa setelah aku dengan lancang memintanya untuk habiskan sisa hari ini bersamaku.

“Aku mengerti jika kamu ingin pulang sekarang…..” ujarku pelan saat dia mengambil kunci mobil dari meja kopi. Tapi kemudian tatapannya beranjak pelan-pelan dari telpon itu ke mataku. Kedua mata coklat yang besar itu menyiratkan hatinya yang mencari-cari alasan untuk tetap duduk dan bersamaku.

“Tapi jika kamu ingin tinggal, hari ini, saat ini, akan menjadi hari yang paling membahagiakan untuk aku… untuk kita, untuk kenangan kita berdua” ujarku lagi pelan-pelan. Telpon kembali bergetar. Ah…telpon itu lagi, desahku dalam hati.

——

Tak ada yang menyadari bahwa malam telah larut dan pengunjung di bar & lounge itu sudah berganti kostum. Yang sebelumnya pengunjung hanya berpakaian casual dan chic, kini berganti ‘dapper and glam’. Ambience musik yang menjadi lebih nge-beat merangsang pengunjung untuk dance sesuai melodi. Akhirnya perempuan itu berdiri dan melangkah ke depan laki-laki sambil mengulurkan tangannya. Laki-laki itu mengerti body language tanpa kata akan ajakan dansa.

“Let’s make a memory” ujarnya saat ia mendekap si perempuan itu erat dalam rengkuhannya.

2 Comments

Leave a Reply