Being Cynical Person?

Ada sebuah perbicangan seru semalam antara aku dan sepupuku, Fina. Awalnya kami hanya membahas film Ayat-ayat Cinta. Menurut sepupupku itu, film itu sangat romantis dan membuat dia terenyuh hingga menangis. Menurutku film itu hanya semakin menjelaskan betapa cowok adalah mahluk visual.

“Coba kamu bayangin, kalau Aisha itu memiliki wajah seperti Omas, apakah Fahri tetap akan menikahinya?” tanyaku. “Well, gak tahu yaa….tapi’kan Fahri sudah tahu kalau Aisha itu baik, mereka bertemu di kereta dan menolong wartawan asing,” jawab my cousin. “Okelah… anggap saja, mereka secara tidak langsung sudah mengetahui kalau perempuan ini baik, tapi again, if Aisha memiliki wajah seperti Omas, aku yakin, Fahri tidak akan langsung menerimanya begitu saja, at least he will think about it first,..” ujarku yakin 100%. Aku semakin akan kesimpulanku pada kaum laki-laki.

Fina memandangku takjub, ia sedikit banyak sebenarnya setuju bahwa cowok adalah mahluk visual, karena dia bertanya kepada cowoknya, dan lagi-lagi aku benar.” Aku kaget ketika Adi bilang bahwa dia pertama lihat dari diriku adalah kecantikan, terus kedua adalah body. Aku sama sekali gak ngira,” ujarnya bercerita tentang pendapat pacarnya sendiri. Lucunya, sepupuku masih menganggap, kecantikan itu hanya kunci untuk membuat cowok itu tertarik berkenalan. Ibarat perempuan adalah rumah, being beautiful or attractive adalah kunci membuka rumah itu dan menengok ke dalamnya.

Kalau begitu, bagaimana dengan mereka yang tidak cantik? Cantik seperti apa yang membuat seseorang laki-laki ingin berkenalan? aku bertanya. “Lagi-lagi kita sampai pada kesimpulan bahwa cantik itu relatif, kan semua cowok punya standar cantik untuk perempuan berbeda-beda,” ujarnya lagi. “Mungkin, ada cowok yang menganggap Cinta Laura Khiel, atau Julie Estelle itu cantik, dengan darah indo mereka. Tapi ada juga cowok yang menganggap perempuan dengan mata belo, hidung pesek, kulit sawo matang dan bibir tebal lebih cantik,” ujar Fina. Aku setuju. Tapi kemudian aku memberikan sebuah contoh: “Okelah ada 2 cowok. Mereka harus memilih, antara aku dan dian sastro, kira-kira mana yang akan dipilih?” —- Sepupuku mebelakakan matanya. “Mereka pasti akan menoleh pada Dian Sastro atau sosok secantik dia. Tapi bisa jadi salah satunya menganggap kamu lebih cantik dari Dian Sastro,” ujarnya. Menurut kamu, apakah itu yang disebut pendapat bahwa cantik itu relatif? 1 cowok tersebut menganggap Dian Sastro cantik, 1 cowok menganggap aku lebih cantik. Naahh….aku tidak percaya.

Menurutku, laki-laki punya dua sisi. Pertama, mereka sebagai mahluk visual, kedua, mereka sebagai mahluk rasional. Kedua sisinya sangat bisa berubah porsi. Melihat contoh kasus diatas, kedua cowok itu sama. Satu orang hanya menjalankan perannya sebagai mahluk visual saat melihat Dian Sastro, cowok kedua menjalankan perannya sebagai mahluk rasional bahwa dia cukup sadar untuk mengukur dirinya kalau ia tidak mungkin bisa bersama Dian Sastro dan akhirnya memilih cewek yang tidak cantik, yang pasti tidak akan menolaknya. So, kesimpulannya adalah bukan berarti inner beauty yang menjadi daya tarik seorang gadis biasa, tapi perasaan takut ditolak yang membuat laki-laki memilih cewek yang kurang cantik.

Jika seorang cowok disodorkan 2 orang gadis dengan kepribadian yang sama, kepintaran yang sama, karakter mirip, sama-sama memiliki inner beauty baik. Hanya, mereka dibedakan pada ‘bungkusnya’. Satu secantik Dian Sastro, satu yah,…biasa-biasa saja. Mana yang akan dipilih cowok itu? Jawabannya pasti memilih cewek yang secantik Dian Sastro.

Sepupuku mengatakan aku sinis sekali terhadap laki-laki, dan berkali-kali ia mengingatkan bahwa tidak semua orang laki-laki seperti itu. Well, give me an example who’s not? Aku sinis terhadap laki-laki, karena slama hidupku, aku hanya menerima pengalaman seperti itu. Sepupuku terdiam. Dia tidak bisa menjawabnya. Sebuah pendapat dari seorang cowok mengatakan “Kecantikan seorang perempuan itu adalah faktor penting untuk membuat mereka jatuh cinta”. So? Apa artinya? Itu berarti, kecantikan adalah awal mula cinta itu berasal, looks really matters. Apakah itu artinya sinis? Aku tidak percaya bahwa cowok bisa melihat kelebihan si cewek tanpa dibungkus dengan lapisan luar cantik? Jika ada cowok yang seperti, aku ingin sekali bertemu dengannya.

Kalau gitu aku sampai pada sebuah pertanyaan, Apakah cewek cantik akan selalu mendapatkan the most eligible guy? Atau, pertanyaan yang lain adalah, apakah cewek yang biasa aja dapat memiliki laki-laki yang diinginkannya? Tentunya, lagi-lagi itu kembali pada permasalahan awal, apakah cewek biasa dapat menarik perhatian cowok tersebut jika untuk membuat mereka jatuh cinta adalah dengan memiliki tampilan yang cantik? Damn…mengapa dunia ini selalu mementingkan penampilan?

%d bloggers like this: